Viral Video Orang Utan Mengais Sampah, Perilaku Berubah Akibat Habitat Rusak

Viral video orang utan yang seharusnya hidup di kanopi hutan, mengais tumpukan sampah dengan tenang seolah tempat itu sudah akrab dengannya.

Diterbitkan 04 Februari 2026, 22:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Viral video orang utan sedang mengais sampah. Tak hanya satu, tapi begitu banyak video dari berbagai orang yang menyaksikan. Video itu cepat menyebar. Orang utan terlihat membongkar tumpukan sampah di tepi jalan poros Sangatta–Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Di antara plastik bekas makanan dan sisa-sisa buangan rumah tangga, satwa liar yang seharusnya hidup di kanopi hutan itu tampak mengais dengan tenang, seolah tempat tersebut sudah akrab baginya.

Lokasi dalam video bukan tempat pembuangan sampah resmi. Wilayah yang sejak lama kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah liar. Seperti kebiasaan warga pada umumnya, jika ada satu yang membuang sampah di satu titik, maka yang lain juga ikut membuang di tempat yang sama.

Warga setempat menyebutnya jalur Perdau, Ironisnya, kawasan ini berada di kawasan meta populasi orang utan, dengan kondisi hutan yang sudah terfragmentasi oleh aktivitas tambang batu bara dan kebun sawit.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menelusuri jejak digital video viral, keterangan warga, hingga data lapangan, tim Wildlife Rescue Unit (WRU) diterjunkan ke lokasi. Upaya pencarian dilakukan bersama mitra Conservation Action Network (CAN) dan Center for Orangutan Protection (COP).

“Berdasarkan video viral itu, kami langsung telusuri. Dari jejak digital, informasi masyarakat, dan data fisik di lapangan, kami pastikan lokasi aktivitas orang utan itu berada di Jalan Poros Sangatta–Bengalon,” kata Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, Rabu (4/2/2026).

Ari menjelaskan, pada Rabu (27/1/2026), orang utan tersebut ditemukan tidak jauh dari lokasi dalam video. Satwa itu kemudian berhasil diamankan dan dimasukkan ke kandang sementara. Orang utan jantan dewasa tersebut diberi nama Sam.

“Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan Sam adalah orang utan jantan dewasa, usia sekitar 18 sampai 20 tahun, dan dalam kondisi sehat,” ujar Ari.

Dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan hasil penilaian tiga dokter hewan yang terlibat, BKSDA memutuskan Sam tidak perlu menjalani rehabilitasi panjang.

“Sifat liarnya masih ada. Jadi kami sepakat, orang utan ini harus segera dikembalikan ke rumah alaminya,” katanya.

Hari itu juga, Sam ditranslokasi dan dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur, kawasan yang dinilai masih mampu menyediakan ruang hidup dan sumber pakan alami. Menurut Ari, penyelamatan ini mendesak karena lokasi Sam ditemukan sangat tidak layak.

“Dia berada di pinggir jalan, di sampingnya kebun sawit, di sampingnya lagi tambang. Ini jelas bukan habitat yang semestinya,” ujarnya.

Habitat Rusak

Founder dan Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristanto, menyebut kemunculan orang utan di tumpukan sampah bukan peristiwa tunggal. Lokasi tersebut, kata dia, sudah lama menjadi tempat pembuangan sampah liar dan berulang kali didatangi orang utan.

“Kalau dilihat dari Google Earth, ini bukan tempat baru. Berdasarkan keterangan warga, sudah beberapa kali orang utan turun ke situ. Yang sekarang viral karena ada videonya,” kata Paulinus.

Ia menegaskan, sampah makanan di tepi jalan berperan besar mengubah perilaku satwa liar. Bau sisa makanan menarik orang utan turun dari hutan yang kian menyempit.

“Ketika dia sudah kenal bau dan rasa makanan manusia, risikonya lebih besar. Dia bisa turun ke permukiman, bahkan ke jalan dan menghentikan kendaraan, seperti kasus-kasus sebelumnya,” ujarnya.

Di sekitar lokasi sampah tersebut, Paulinus menyebutkan aktivitas pembukaan lahan masih berlangsung. Hutan yang tersisa semakin terdesak. Dalam kondisi itu, tempat sampah menjadi sumber makanan paling mudah diakses.

“Ini bukan sekadar soal orang utan makan di sampah. Ini soal habitat yang hilang, fragmentasi hutan, dan perilaku manusia yang mempercepat konflik,” katanya.

Kasus Sam berakhir dengan pelepasliaran. Namun video viral itu meninggalkan pesan yang lebih besar. Selama sampah masih dibuang sembarangan dan hutan terus tergerus, perjumpaan antara manusia dan orang utan di tempat yang salah kemungkinan besar akan terulang, bukan lagi sebagai tontonan, tetapi sebagai konflik.