Isi Pesan Terakhir Dokter Icha pada Keluarga: Saya Takut, Biar Saya Mati

Dalam pesan singkat itu, dokter Icha mengungkapkan kondisi batinnya yang tertekan akibat peristiwa yang dialaminya.

Diterbitkan 28 Juni 2026, 19:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kematian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha menyisakan luka mendalam bagi keluarga. Dokter Icha mengakhiri hidupnya setelah mengalami depresi berat atas dugaan intimidasi dari tiga anggota DPRD kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), saat merawat korban gigitan ular di Rumah Sakit Leona Kefamenanu.

Paman dokter Icha, Fabi Banase menceritakan, sebelum meninggal, dokter Icha masih sempat mengirim pesan singkat kepadanya. Dalam pesan singkat itu, dokter Icha mengungkapkan kondisi batinnya yang tertekan akibat peristiwa yang dialaminya.

"Dia (korban) bilang punya niat meninggal dunia untuk menghindari trauma. Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana (Kefamenanu), saya takut. Biar saya mati saja supaya jangankan korban nakes yang lain," ungkap Fabi menirukan pernyataan dokter Icha.

Dari pesan itu, dia menduga dokter Icha mengalami depresi berat setelah mendapat intimidasi dari tiga orang anggota DPRD Kabupaten TTU terkait penanganan pasien gigitan ular hijau. Pasien tersebut diketahui merupakan keponakan salah satu anggota dewan.

Ketiga anggota DPRD yang dimaksud adalah Veronika Lake dari PDI Perjuangan, Teres Lasaka dari Partai Golkar, dan Nobertu Bani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Menurut Fabi, saat mendatangi Unit Gawat Darurat (UGD) RS Leona Kefamenanu, dua dari tiga anggota dewan itu diduga dalam kondisi mabuk akibat minuman keras. “Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD,” ungkapnya.

Kondisi psikologis dokter Icha terus memburuk pasca-insiden. Berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan yang disampaikan keluarga, korban terdiagnosis mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik dan sebelumnya sempat melakukan percobaan bunuh diri.

“Pada Rabu (23/6/2026), setelah pulang dari Kefamenanu, hasil pemeriksaan di Klinik Utama Dewantara menunjukkan almarhum mengalami depresi berat hingga sempat mencoba mengakhiri hidup,” jelas Fabi.

Keluarga juga menyebut dokter Icha sempat dirawat di RS Leona Kefamenanu akibat tekanan batin yang dialaminya. Keluarga berniat menempuh jalur hukum karena menduga ada unsur ancaman dan intimidasi.

“Salah satu di antara mereka berucap dengan nada tinggi, ‘Kau akan bertemu saya di Komisi III’,” tambahnya.

Curhat pada Rekan Kerja

Rekan kerjanya, Dokter Trimaharani mengaku sempat dihubungi langsung oleh dokter Icha saat menghadapi dugaan intimidasi dalam penanganan pasien gigitan ular di RSUD Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Dia menceritakan, pada malam terjadinya dugaan intimidasi oleh anggota DPRD TTU, dokter Icha menghubunginya dalam kondisi sangat takut.

Dokter Icha berkali-kali menghubungi dirinya melalui telepon maupun WhatsApp untuk meminta bantuan agar menjelaskan kondisi medis pasien kepada keluarga pasien maupun pihak anggota DPRD yang saat itu berada di rumah sakit.

"Karena malam itu saat kejadian dibentak dan dimarahi, saya yang menjadi tempat konsultasi dokter Icha. Dia berkali-kali menelepon saya meminta tolong agar saya menjelaskan kepada keluarga dan DPR. Sampai sekarang saya masih menyimpan WhatsApp dokter Icha malam itu," ungkapnya.

Dari komunikasi tersebut dirinya mengetahui dokter Icha berada dalam tekanan psikologis yang sangat berat.

"Waktu telepon dan WhatsApp kepada saya, dia takut sekali," katanya.

Menurut dokter Tri, seluruh tindakan medis yang dilakukan dokter Icha telah sesuai dengan ilmu kedokteran dan arahan konsultasi yang diberikannya. Dia menegaskan dokter Icha tidak melakukan kesalahan dalam penanganan pasien tersebut.

Pengakuan Anggota DPRD

Nama anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), Veronika Lake terseret dalam dugaan intimidasi berujung meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha. Veronika buka suara menjawab tudingan itu.

Veronika terlebih dahulu menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya dokter muda tersebut.

“Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dokter Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan,” ujarnya, kepada Liputan6.com, Minggu (29/6/2026).

Veronika merasa perlu memberikan klarifikasi bukan untuk mengurangi rasa hormat kepada dokter Icha. Namun sebagai bentuk penjelasan atas kronologi yang dialami secara langsung.

Dia menjelaskan kronologi versinya. Pada 13 Juni 2026, Veronika menghadiri kegiatan arisan istri-istri anggota DPRD Kabupaten TTU yang berlangsung di Kecamatan Insana.

Usai kegiatan, Veronika pulang ke Kefamenanu dengan menumpang kendaraan bersama dua anggota DPRD lainnya serta seorang istri anggota DPRD.

Di tengah perjalanan, salah seorang anggota DPRD Therensius Lazakar mengajak rombongan singgah di RS Leona untuk menjenguk keponakannya yang sedang menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) akibat gigitan ular berbisa.

“Saya ikut membesuk karena kebetulan pulang bersama rombongan tersebut. Kehadiran saya di rumah sakit bukan merupakan kunjungan yang direncanakan sebelumnya,” katanya.

Setibanya di RS Leona, dua rekannya Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani lebih dahulu memasuki ruang perawatan. Sementara Veronika masih berada di depan IGD dan berbincang dengan istri salah seorang anggota DPRD.

Ketika memasuki ruangan, Veronika mengaku melihat perdebatan antara dua anggota DPRD dan seorang dokter.

Lalu Veronika menghampiri pasien untuk melihat kondisinya dan menanyakan tindak lanjut penanganan medis yang diberikan.

“Saya kemudian ikut menanyakan bagaimana tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, dan kualitas pelayanan,” ujarnya.

Veronika juga memberikan penjelasan terkait ucapannya yang belakangan menjadi sorotan. Yakni kalimat “panggil wartawan saja”. Dia berdalih pernyataan tersebut tidak ditujukan kepada dokter secara pribadi, melainkan merupakan usulan kepada salah seorang rekannya agar pelayanan kesehatan di rumah sakit mendapat perhatian publik.

“Terkait perkataan ‘panggil wartawan saja’, itu saya maksudkan sebagai usulan kepada salah satu rekan DPRD agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan. Jadi, tidak ditujukan kepada personal atau pribadi, tetapi sebagai bentuk dorongan untuk perbaikan pelayanan kesehatan di rumah sakit,” jelasnya.

Veronika mengatakan, tidak lama setelah itu pihak manajemen RS Leona bersama dokter lain datang memberikan penjelasan mengenai prosedur penanganan pasien.

Selanjutnya, dua anggota DPRD yang terlibat perdebatan itu akhirnya berdiskusi dengan manajemen rumah sakit hingga persoalan tersebut diselesaikan secara baik.

Menurutnya, pada saat itu kedua rekannya telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak manajemen rumah sakit maupun kepada almarhumah dokter Icha.

“Kedua rekan saya sudah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak manajemen dan almarhumah Dokter Icha saat itu juga,” katanya.

Seiring berkembangnya pemberitaan, namanya kemudian ikut disebut-sebut dalam kaitan dengan peristiwa tersebut. Dia menghormati seluruh proses hukum yang sedang berjalan dan siap memberikan keterangan apabila dibutuhkan oleh aparat penegak hukum.

“Saya menghormati seluruh proses yang sedang berjalan dan siap bekerja sama memberikan keterangan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pihak yang berwenang,” ujarnya.