Poster Ikonik ‘Hidup Ataoe Mati’ Trubus Soedarsono, Seniman di Pusaran Perlawanan

Di era perjuangan kemerdekaan, Trubus menggoreskan tinta pada poster propaganda anti-Belanda.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 06:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Trubus Soedarsono menghilang tanpa kabar. Saat terjadi geger politik tahun 1965. Bersamaan dengan hilangnya para aktivis, seniman, dan orang-orang yang terafiliasi dengan partai terlarang saat itu, Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di ujung telepon, suara tangis putri bungsu Trubus Soedarsono, Sri Rahayu terdengar menusuk telinga. Sri tenggelam dalam kepedihan terdalamnya. Dia teringat masa lalu. Masa paling kelam. Panasnya iklim politik peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru, ‘memaksanya’ kehilangan sosok ayah. Figur yang sampai hari ini, di usianya 60 tahun, tak pernah sekalipun memeluknya.

“Sampai sekarang, saya belum pernah melihat bapak saya,” singkat Sri saat berbincang dengan Liputan6.com, akhir pekan lalu. 

Sri yang lahir pada tahun 1966 memang tidak pernah berjumpa dengan ayahnya. Bahkan, Sri harus menjalani hidup jauh dari keluarga. Dibesarkan oleh kerabatnya yang selama bertahun-tahun menjadi orang tua angkat.

Sri mendapati silsihan keluarganya setelah puluhan tahun. Dia darah daging seorang seniman maestro, Trubus Soedarsono. Kehidupan keluarga Trubus Soedarsono sangat pahit. Seorang seniman yang cukup dekat dan diandalkan oleh Presiden Soekarno, harus berakhir penuh tanda tanya.

Trubus menghilang. Istrinya dipenjara. Anak-anaknya hidup terpisah-pisah. Beberapa di antaranya diasuh dan dibesarkan kerabat di Jakarta. Ada juga yang dititipkan di panti asuhan. Mereka hidup dalam bayangan ketakutan. Tanpa perlindungan. 

Bertahun-tahun hidup terpisah dari keluarga, Sri akhirnya bisa bertemu kakak-kakak kandungnya. Awalnya, pertemuan mereka biasanya dilakukan satu tahun sekali. Saat merayakan Natal bersama.

“Dari sana saya akhirnya bisa mengenal dan menjadi akrab dengan kakak-kakak saya. Mungkin mereka merasa kasihan dengan saya karena tidak selalu bersama mereka,” katanya.

Dari penuturan dan cerita kakaknya, Sri perlahan mengenal sosok sang ayah. Meski tak pernah melihat fisik ayahnya, Sri mendapat gambaran yang jelas tentang hidup keluarga mereka. 

“Hanya diceritakan oleh kakak-kakak saya itu,” singkatnya. 

Trubus hilang bukan karena karya-karyanya yang berisi protes dan kritik pedas terhadap pemerintahan. Justru sebaliknya. Dia hilang karena kedekatannya dengan penguasa saat itu. Sebagai seorang seniman yang lahir di era kolonial, dalam darahnya mengalir jiwa perlawanan. Trubus masuk dalam daftar sejarah seniman Indonesia yang menggelorakan perlawanan. 

Wajah Trubus pun bersanding bersama maestro seniman perlawanan lain di sebuah pameran bertajuk 100 Tahun Trubus Soedarsono + 100 Hari Api Pengabdian Sujarwo, menceritakan sosok Trubus Soedarsono di Yogyakarta. Sang pengampu pameran, Teguh Paino pun menceritakan sepak terjang Trubus.

“Para seniman-seniman yang terpajang di depan ini, ada Affandi, Dullah, Sudarso, Hendra Gunawan sampai Trubus ini kan memang ikut melakukan perlawanan juga saat itu terhadap penjajah,” ujar Teguh saat ditemui di lokasi pameran. 

Di era perjuangan kemerdekaan, Trubus menggoreskan tinta pada poster propaganda anti-Belanda. Era di mana seni mulai digunakan sebagai media perlawanan terhadap penjajahan. 

Poster-poster perlawanan itu rupanya membuat pemerintah kolonial Belanda gerah. Mereka marah. Pada 1948, Trubus harus menelan pil pahit buah dari keresahan yang dicurahkan pada poster. Dia dipenjara pemerintah kolonial Belanda.

“Trubus bersama seniman-seniman kala itu dekat dengan Soekarno, dan menjadi bagian dari diplomasi juga, lalu memotivasi para pejuang, yang tidak harus berperang langsung secara fisik, namun melalui karya-karya poster yang terkenal Boeng Ajo Boeng (Bung Ayo Bung) atau Hidoep Atau Mati,” 

Setelah Indonesia merdeka, Trubus semakin berkembang dalam menghasilkan karya seni. Bagi dunia seni Indonesia, nama Trubus cukup harum. Dari buah pikirannya dan para seniman lain, lahirlah Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sekarang jadi ISI Yogyakarta. Trubus sempat mengajar di sana.

Trubus cukup aktif dalam kegiatan Pelukis Rakyat dan bergabung dalam organisasi seniman underbow PKI yakni Lembaga Kebudajaan Rakyat (Lekra). Trubus terjun ke dunia politik dan tercatat pernah menjabat sebagai anggota DPRD di Daerah Istimewa Yogyakarta dari partai besar saat itu yakni PKI. Partai ini kemudian menjadi partai yang dilarang pemerintah pada masa Orde Baru. 

Trubus hilang tahun 1966. Bersamaan dengan gelombang penghilangan dan penangkapan paksa orang-orang yang terafiliasi dengan PKI. Aparat keamanan mendatangi rumahnya. Lalu membawa Trubus pergi. Tak hanya membawa Trubus, aparat juga mengangkut seluruh barang dari rumahnya. Termasuk lukisan dan dokumen lain.  

Keluarga mengerahkan daya dan upaya mencari keberadaan Trubus. Namun, tak pernah ada kabar baik. Sampai hari ini, tak ada yang tahu nasib Trubus. Masih hidup atau sudah meninggal, tak ada kejelasan. Sang maestro lenyap di tengah pergolakan dan pusaran sejarah politik bangsa.

Selalu Ada Figur Wanita dalam Karyanya

Meski Trubus tak pernah kembali pulang, sosoknya tetap yang terbaik untuk dikenang. Selain dikenal sebagai seniman lukis, Trubus Soedarsono juga seorang pematung. Tak heran jika sentuhan tangannya ada di sejumlah pembangunan monumen patung di Jakarta. Selain Tugu atau Patung Selamat Datang, jejak Trubus juga ada di Patung Pembebasan Irian Barat dan Patung si Denok di Istana Bogor.

Di luar aktivitas politiknya bersama Partai Komunis Indonesia, Trubus tetap punya tempat terhormat di kalangan pegiat seni. Hingga generasi hari ini. 

“Kita tahu tentang keadaannya terkait masa lalu. Tetapi, di luar itu, sisi ketokohannya patut diapresiasi. Karena Pak Trubus punya peran yang amat besar sebagai sosok seniman lukis,” ucap Teguh. 

Dia menjelaskan lebih detail di balik karya-karya yang dihasilkan. Trubus dikenal dengan teknik melukis pastel. Yakni mencampurkan serbuk warna pigmen menggunakan stik. Penyusunan tumpukan-tumpukan pastel itu bukan hal mudah. Tidak semua orang bisa melakukan. Trubus salah satu yang piawai dalam menghasilkan karya-karya pastel.

Karya Trubus sudah tersebar ke banyak tempat. Dalam pandangan Teguh, Trubus memiliki perjalanan seni yang menarik untuk diketahui dan dikenalkan lebih dekat. Teguh menyebut keunikan lain dari karya Trubus. Ada kesamaan dari setiap patung dan lukisan yang dilahirkan Trubus.

“Untuk objek lukisnya sendiri kebanyakan Pak Trubus itu adalah figur wanita seperti penari, selain itu juga portrait diri atau self portrait,” katanya.

Putri bungsu Trubus, Sri Rahayu punya harapan yang sama besarnya. Publik bisa lebih mengenal sosok Trubus meski hanya melalui karya-karyanya. Sri memang tak pernah tahu nasib sang ayah, tetapi ayahnya itu akan tetap hidup dalam karya seni.  

“Generasi penerus seni ini bisa mengingat jasa-jasa beliau-beliau yang sudah meninggalkan karya-karya besarnya itu selalu terkenang,” harapnya. 

Sri tak punya banyak keinginan. Dia sudah cukup bangga karena masih ada yang memanusiakan ayahnya dengan menghidupkan kembali karya-karyanya. 

“Saya tidak bisa ngomong dengan kata-kata, saya sangat bangga dan berterima kasih,” tutupnya.

 

 

 

 

 

 

Reporter: Bimo Bagas Basworo, Nurul Diva Kautsar

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6