Trubus Soedarsono, Seniman Tanpa Batu Nisan

Kalau masih hidup, tahun ini Trubus Soedarono berusia 100 tahun. Tugu atau Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, berdiri dari sentuhan tangannya.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 05:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sri Lestari, 60 tahun, tidak pernah mengenal bapak kandungnya. Tak pernah sekalipun dia melihat wajah sang ayah. Dari cerita yang sampai ke telinganya, ayahnya seorang seniman yang meninggalkan jejak besar bagi bangsa ini. Namanya Trubus Soedarsono.

Kami bertemu Sri Lestari di sebuah pameran seni di Wates, Yogyakarta, pekan lalu. Dia adalah anak bungsu Trubus Soedarsono. Pada kami, Sri berbagi cerita perjalanan hidupnya mengenal sang ayah. Sosok yang nyaris terlupakan. Bahkan oleh anaknya sendiri. 

“Saya memang tidak begitu tahu tentang bapak saya,” kata Sri membuka pembicaraan.

Sri yang dilahirkan pada 1966, sejak kecil dititipkan dan diasuh oleh pakde dan budenya. Mereka menjadi orang tua angkat, tanpa sepengetahuan Sri. Saat lulus Sekolah Dasar (SD), pertama kalinya Sri membaca nama Trubus Soedarsono. Tertera di rapor yang dibagikan gurunya. Saat itu, ayah angkatnya yang bernama Sastro, berdalih salah menulis nama. Sri yang masih polos, percaya dengan pengakuan ayah angkatnya itu. 

“Yang penting kamu anak saya, yang penting saya sekolahkan,” ujar Sri menirukan kata-kata ayah angkatnya saat itu. 

Rasa percaya yang semula ada, berganti perasaan curiga. Peristiwa serupa kembali terulang. Nama yang sama, Trubus Soedarsono, muncul lagi di rapor kelulusan Sri saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMEA. Lagi, sang ayah angkatnya berdalih, salah menulis. Yang penting, kata dia, Sri bisa sekolah agar pintar. 

Tahun 1985, menjelang hari pernikahan Sri. Semua rahasia dalam hidupnya terungkap. Sri kaget ketika sang ayah angkat ‘mengembalikan’ Sri ke pelukan ibu kandungnya. Dari peristiwa itu Sri mengetahui fakta, dia dititipkan sejak lahir. Dibesarkan bukan oleh orang tua kandungnya. 

“Ternyata saya itu anaknya Pak Trubus yang punya nama besar di daerah Kulon Progo, dan ternyata beliau itu pelukis serta punya nama tersendiri di mata para seniman,” jelas Sri.

Ingatan Sri langsung memutar balik pada sebuah peristiwa yang pernah terlewatkan. Saat masih duduk di kelas 3 SD, Sri pernah diajak oleh kerabatnya ke Cililitan, Jakarta Timur. Saat itu, kerabatnya mengajaknya melihat hasil karya sang ayah. Patung Denok yang berada di Istana Bogor. Patung yang dibuat tahun 1958 itu adalah pesanan khusus dari Presiden Soekarno. Posisi patung ini terletak di sisi kanan gedung utama Istana Bogor tepatnya dekat taman teratai.

Trubus membuatkan patung ini dengan menggabungkan dua sosok nyata. Tubuhnya terinspirasi dari anak pelukis Belanda, Ernest Dezentje. Sedangkan wajah si Denok yang teduh berasal dari kecantikan seorang gadis, anak pegawai istana.

Sri juga diajak melihat satu lagi hasil karya yang paling fenomenal di jantung ibu kota Jakarta, Patung Tugu Selamat Datang. Menjulang tinggi di pusaran gedung bertingkat Jalan Sudirman-Thamrin. Patung yang menjadi simbol keterbukaan Indonesia pada dunia internasional. Dibangun untuk menyambut para atlet Asian Games IV tahun 1962.

Dikisahkan pada Tahun 1961, Trubus dan Sanggar Pelukis ASRI mendapatkan permintaan khusus dari Bung Karno. Trubus diminta membantu mengerjakan patung hasil sketsa Henk Ngantung yang saat itu menjabat Wakil Gubernur Jakarta. Megaproyek ini di bawah pimpinan Edi Sunarso. Ini adalah karya terakhir sentuhan tangan Trubus sebelum hilang tanpa jejak usai geger tahun 1965. Hingga hari ini, tak ada satupun yang tahu akhir hidup Trubus.

“Ternyata saya itu punya bapak yang meninggalkan karya bagus di Indonesia,” kenang Sri.

Jalan Hidup Trubus

Sri Lestari dengan bangga datang ke Pameran 100 Tahun Trubus Soedarsono + 100 Hari Api Pengabdian Sujarwo di Yogyakarta. Trubus dan Sujarwo, dua seniman yang punya nama besar. Melihat pameran ini salah satu cara Sri mengenang sang ayah dan berbagai karya-karyanya. Ayahnya, Trubus Soedarsono yang lahir pada 23 April 1926 di Giripeni, Wates, Yogyakarta. Seorang seniman kebanggaan Yogyakarta.

Pameran itu diampu oleh seorang seniman asal Wates, Teguh Paino (52). Perjumpaan Teguh dengan sosok Trubus melalui sebuah katalog. Warnanya hitam putih. Sekitar tahun 1994 - 1995. Katalog itu berbeda dari lainnya. Halaman depannya menampilkan lukisan potrait wajah Trubus. Bagi Teguh, katalog itu nyeleneh. Menampilkan wajah seni yang sesungguhnya.  

Perlahan, Teguh mengenal lebih dalam sosok Trubus. Mula-mula dari perkenalan dengan Sujarwo. Teguh dikenalkan dengan sosok pelukis bernama Sudargono. Seingatnya, itu terjadi tahun 2009. Teguh dan Sujarwo mampir ke kediaman Sudargono. Sudargono adalah putra seorang seniman kenamaan bernama Sudarsono. 

Trubus menyelami seni lukis setelah bertemu dengan Sudarsono. Saat itu, Trubus masih remaja. Kemungkinan belum genap 20 tahun. Sudarsono tinggal di Jatinegara. Trubus selalu hadir saat Sudarsono melukis. Memperhatikan setiap gerak tangan Sudarsono menari di atas kanvas. Trubus setia menunggu Sudarsono menyelesaikan lukisannya. Tidak satu dua kali terjadi. Hampir setiap Sudarsono melukis, Trubus tak pernah absen. 

“Kamu suka gambar, atau ngelukis, po?” tanya Sudarsono pada Trubus. 

Pertanyaan itu dibalas anggukan kepala Trubus remaja. Singkat cerita, Sudarsono memberikan alat lukis pada Trubus remaja. Sesaat setelah mendapat alat lukis, Trubus menghilang dari pandangan. Sudarsono mencari ke sana kemari. Dia kaget saat menemukan, kertas yang diberikannya sudah terpampang di sebuah dinding. Goresan tangan hasilkarya Trubus tergambar jelas di sana. 

Dari peristiwa itu, Trubus diajak Sudarsono agar bisa memperdalam ilmu lukis ke rumahnya. Sudarsono menyampaikan pada sang istri, Trubus adalah salah satu anggota keluarganya dari kampung. Untuk lebih meyakinkan, nama Trubus pun diberi tambahan ‘Soedarsono’. Lengkaplah namanya menjadi Trubus Soedarsono.

“Begitulah asal mula Pak Trubus bisa terjun ke bidang seni lukis,” jelas Teguh.

Masa Penjajahan Jepang, Sudarsoni menjadi ketua Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta. Trubus ikut dalam organisasi itu. Dari sana, Trubus bertemu para maestro seniman.

Di usia 20 tahunan, Trubus sudah bisa berdiskusi dan duduk bersama bersama maestro-maestro seniman. Dari sanalah terbuka jalan untuk mengenal Soekarno muda. Trubus pun ikut di beberapa organisasi. Termasuk Putera (pusat tenaga rakyat), lalu SIM (Seniman Indonesia Muda) tahun 1940 an. Trubus juga berkontribusi membidani lahirnya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sekarang jadi ISI Yogyakarta. Dia sempat mengajar di sana.

“Beliau-beliau ini kan bukan dari latar belakang akademisi sebenarnya, tetapi memiliki pikiran dan rencana untuk melahirkan ASRI ini kan sangat luar biasa, dan ini terjadi di tahun 1950 tepat di tahun berdirinya ASRI itu tadi.” 

Trubus dikenal aktif dalam kegiatan Pelukis Rakyat dan bergabung dalam organisasi seniman underbow Partai Komunis Indonesia (PKI) yakni Lembaga Kebudajaan Rakyat (Lekra). Trubus terjun ke dunia politik dan tercatat pernah menjabat sebagai anggota DPRD di Daerah Istimewa Yogyakarta dari partai besar saat itu yakni PKI. Partai ini kemudian menjadi partai yang dilarang pemerintah pada masa Orde Baru.

Trubus hilang tahun 1965. Ada yang menyebut Trubus meninggal tahun 1966 bersamaan dengan gelombang penghilangan dan penangkapan paksa orang-orang yang terafiliasi dengan PKI. 

Dia tak pernah diketahui keberadaannya. Trubus, seniman yang kematiannya tanpa ditandai batu nisan.

  

Reporter: Bimo Bagas Basworo, Nurul Diva Kautsar

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6