Liputan6.com, Kathmandu - Dua pekerja berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup dari sebuah terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal, sembilan hari setelah banjir bandang dahsyat menerjang wilayah tersebut dan menimbun sejumlah proyek dengan lumpur tebal.
Kedua pekerja itu dievakuasi dari terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A, salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir mematikan yang melanda Nepal pekan lalu.
Dikutip dari Anadolu, Sabtu (5/9/2026), Juru Bicara Angkatan Darat Nepal Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet mengatakan, kedua pekerja ditemukan pada kedalaman sekitar 170 meter di dalam terowongan.
Advertisement
Pekerja pertama yang berhasil diselamatkan adalah Sanjay Shah. Ia kemudian dibawa ke barak Angkatan Darat Nepal di Trishuli. Tak lama berselang, tim penyelamat juga berhasil mengevakuasi pekerja lainnya, Kabir Maharjan.
Shah diketahui bekerja sebagai mandor di Upper Trishuli 3A, sementara Maharjan merupakan seorang supervisor.
Angkatan Darat Nepal merilis gambar proses penyelamatan Shah dari pintu masuk terowongan yang gelap dan sempit. Tubuhnya terlihat dipenuhi lumpur, tetapi ia masih dalam kondisi sadar. Shah kemudian dibawa dari lokasi dengan digendong oleh salah satu penyelamat.
Kedua pekerja tersebut dinyatakan dalam kondisi stabil dan telah diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Kathmandu.
Setelah berhasil diselamatkan, pertanyaan pertama Shah kepada petugas Angkatan Darat Nepal adalah, "Hari apa ini?"
Shah kemudian menceritakan pengalamannya kepada tim penyelamat. Ia mengatakan saat banjir terjadi, dirinya berada di ruang kontrol terowongan.
"Biasanya hanya ada lima atau enam orang di sana, tetapi saat itu pasti ada sekitar 40 hingga 45 orang di dalam," kata Shah.
Menurut Shah, karena berada di ruang kontrol, dirinya merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan seluruh pekerja.
"Karena saya berada di ruang kontrol, tanggung jawab saya adalah menyelamatkan semua nyawa. Setelah kecelakaan seperti itu, saya tidak bisa begitu saja melarikan diri sendirian. Saya harus menyelamatkan semua orang," ujarnya.
Ia mengatakan sempat berusaha mengeluarkan para pekerja dari dalam terowongan. Shah memberi tahu mereka bahwa telah terjadi kecelakaan besar di bendungan dan meminta semua orang segera menyelamatkan diri.
"Saat berusaha mengeluarkan semua orang, saya memberi tahu mereka bahwa telah terjadi kecelakaan besar di bendungan dan mendesak semua orang untuk berlari. Dalam melakukan itu, saya kehilangan waktu. Pada akhirnya, saya sendiri tidak bisa keluar," kata Shah.
Untuk menjaga ketenangan selama berada dalam kegelapan terowongan, Shah mengatakan dirinya menghabiskan waktu dengan melantunkan mantra.
Selama terjebak, ia hanya dapat berkomunikasi dengan tiga atau empat orang lainnya. Mereka berkomunikasi dengan cara saling berteriak dari lokasi yang berdekatan.
"Mungkin juga ada orang di dalam pembangkit listrik. Sebagian dari mereka mungkin tidak dapat melarikan diri," ujarnya.
Harapan Temukan Pekerja Lain
Menteri Komunikasi Nepal Bikram Timilsina mengatakan pemerintah masih berharap semakin banyak pekerja dapat ditemukan dan diselamatkan.
"Kami menunggu penyelamatan semakin banyak orang," tulis Timilsina di media sosial.
Upaya penyelamatan kini semakin difokuskan pada sejumlah terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air. Otoritas meyakini para pekerja masih mungkin bertahan selama lebih dari satu pekan karena adanya kantong-kantong udara di dalam terowongan.
Sejauh ini, lebih dari 270 orang telah diselamatkan dari beberapa proyek pembangkit listrik tenaga air.
Banjir bandang pekan lalu membawa air, puing-puing dan lumpur dalam jumlah besar menyusuri lembah setelah runtuhnya gletser yang mencair di perbatasan Nepal dan Tibet yang dikuasai China.
Sebagian besar proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang Sungai Bhote Koshi dan Trishuli hancur akibat terjangan air, puing dan lumpur tersebut.
Badan penanggulangan bencana Nepal mencatat sedikitnya 1.259 orang tewas dalam bencana banjir tersebut. Lebih dari 5.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Bongkahan batu besar dan air banjir membanjiri terowongan pembangkit listrik tenaga air, menutup akses masuk dan membuat sejumlah terowongan tertimbun lumpur dalam.
Di fasilitas Upper Trishuli 3A, tim penyelamat bahkan membutuhkan waktu hampir enam hari untuk menemukan terowongan.
Tim Angkatan Darat Nepal dan tim spesialis terus bekerja sepanjang waktu untuk membersihkan puing-puing yang menutup pintu masuk terowongan.
Setelah berhasil membuka akses pada Jumat pagi, petugas memastikan mendengar suara sejumlah orang dari dalam terowongan.
Tim penyelamat kemudian memanggil dari luar, "Jangan panik, kami akan menyelamatkan kalian."
Dari dalam terowongan, terdengar jawaban, "Oke."
Menurut Independent Power Producers Association of Nepal, sedikitnya 557 pekerja masih hilang dari proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang Sungai Trishuli. Sekitar 115 orang diyakini masih terjebak di dalam terowongan utama.
Selama sembilan hari, keluarga para pekerja yang hilang berkumpul di sejumlah rumah sakit di Kathmandu dan kantor listrik Nepal. Mereka menunggu kabar mengenai keberadaan anggota keluarga mereka.
Poster para pekerja yang hilang dari proyek Trishuli 3A dan sejumlah proyek lainnya juga memenuhi dinding Rumah Sakit Pendidikan Tribhuvan University di ibu kota Nepal.
Secara keseluruhan, otoritas setempat memperkirakan sekitar 900 pekerja hilang dari 12 proyek pembangkit listrik tenaga air yang berada jauh di kawasan Himalaya. Sekitar 500 orang di antaranya diyakini terjebak di dalam terowongan.
Operasi penyelamatan juga terus dilakukan di pembangkit listrik tenaga air Rasuwagadhi. Otoritas Nepal mengatakan mereka yakin 46 pekerja yang terjebak di sebuah ruang bawah tanah di fasilitas tersebut masih hidup.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340333/original/035396900_1788502118-cek_fakta_purbaya_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340464/original/068091200_1788507508-Pekerja_PLTU_Nepal.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318414/original/080502700_1786095317-WhatsApp_Image_2026-08-06_at_4.50.30_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5274798/original/066437500_1751802590-0d9f9f09-d839-4278-bf54-894c5927d853.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4429973/original/076018700_1684229568-26562b3b-bde9-43f5-b1c3-3c57930772fd.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316015/original/054006600_1785908189-IMG_2697.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5345823/original/061462700_1757574354-1000016136.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/737309/original/052660400_1410772785-HASHIM-DJOJOHADIKUSUMO-20140915-Johan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5317691/original/033742700_1755400953-WhatsApp_Image_2025-08-17_at_10.20.37_5c23d9e3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571647/original/031336500_1777682659-246a588b-8959-4b3e-b4f0-f599bd0e6201.jpg)