Siasat Irak Amankan Pasokan Minyak: Kirim Ribuan Truk Lintasi Suriah

Hindari ketegangan di Selat Hormuz, Irak kerahkan ribuan armada truk lewat Suriah demi amankan ekspor minyak dan selamatkan operasional kilang.

Diterbitkan 19 Juli 2026, 14:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Irak kini mengerahkan ribuan truk tangki untuk mengangkut minyak bakar (fuel oil) melintasi Suriah. Langkah ekstrem ini diambil guna menghindari Selat Hormuz yang rawan konflik, sekaligus mendongkrak posisi Suriah menjadi pusat ekspor minyak baru di Timur Tengah.

Hanya dalam hitungan bulan, Suriah menguasai lebih dari seperempat volume ekspor minyak di kawasan tersebut. Minyak-minyak ini diangkut melalui jalur darat selama empat hari menuju pelabuhan Suriah di Laut Mediterania. Perubahan rute ini menjadi bukti nyata bagaimana ketegangan geopolitik kian mengubah peta logistik energi dunia.

Bagi Suriah, lonjakan aktivitas ini menjadi berkah besar untuk memulihkan ekonominya pasca-perang saudara, terutama setelah Amerika Serikat (AS) mencabut sanksi ekonominya. AS dan negara-negara Barat kini bahkan melirik Suriah sebagai gerbang energi strategis demi memperlemah kontrol Iran di Selat Hormuz.

"Ada titik temu dari berbagai kepentingan di sini, terutama kebutuhan Irak untuk mencari jalur distribusi produk mereka," ujar Raad Alkadiri, managing partner di 3TEN32 Associates, sebuah firma risiko politik yang berbasis di Washington dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (19/7/2026).

Tantangan Logistik Darat

Tentu bukan perkara mudah menggantikan kapal laut dengan armada truk. Satu kapal tanker raksasa bisa memuat hingga 700.000 barel minyak, sementara satu truk hanya mampu mengangkut 135 barel dalam sekali perjalanan.

Namun, Irak terpaksa memilih jalur darat ini demi menyelamatkan kilang mereka dari risiko kelebihan muatan.

Berdasarkan data firma analitik Vortexa, pasokan dari Irak telah membantu Suriah mengekspor 720.000 ton minyak pada Juni lalu. Bahkan, Kementerian Minyak Irak mencatat volume ekspor lewat jalur darat ke Suriah dan Yordania melonjak drastis hingga menembus 1 juta ton pada Juni.

Pertanyaan besarnya kini adalah apakah Irak juga akan mengalihkan ekspor minyak mentahnya yang merupakan tulang punggung ekonomi mereka ke jalur darat.

"Hal ini berpotensi menjadi awal dari pengalihan logistik minyak mentah jangka panjang," kata Alkadiri. Namun, ia menekankan bahwa rencana itu memerlukan perbaikan infrastruktur pipa yang serius, salah satunya dengan menghidupkan kembali pipa Kirkuk-Baniyas yang sudah mati suri selama dua dekade.

Meski nantinya konflik mereda dan Selat Hormuz kembali normal, para pelaku pasar meyakini Irak akan tetap mempertahankan jalur darat ini demi diversifikasi rute.

"Perang ini telah membuka mata banyak pihak tentang betapa pentingnya diversifikasi rute ekspor. Situasi ini seolah mengembalikan pola pikir Irak pada era 1980-an, yaitu: 'Jika rute Hormuz rentan, opsi apa lagi yang kita punya?'" pungkas Alkadiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6