Pengungsi Suriah Kembali ke Kampung Halaman, Hidup di Bangunan Runtuh

Umm Abdulrahman adalah pengungsi asal Suriah yang pulang ke kampung halaman, namun mendapati kenyataan yang pahit.

Diterbitkan 28 Mei 2026, 08:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Damaskus - Bertahun-tahun hidup sebagai pengungsi di Yordania membuat Umm Abdulrahman terus memimpikan kepulangan ke Suriah. Namun ketika akhirnya kembali, ia justru mendapati rumah yang nyaris tak layak huni: bangunan apartemen setengah runtuh dengan dinding retak, besi tulangan terbuka, dan ruangan tanpa pelindung dari angin.

Perempuan itu kini tinggal bersama 12 anggota keluarganya di bangunan rusak tersebut di kawasan Atman, Suriah selatan. Tempat itu dipilih bukan karena aman, melainkan karena gratis, dikiutip dari Antara News, Kamis (28/5/2026).

“Saat datang ke sini, saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di tempat seperti ini. Kehidupan di sini sangat sulit,” kata Umm Abdulrahman.

Kisah serupa dialami banyak warga Suriah yang kembali setelah bertahun-tahun mengungsi akibat perang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 1,64 juta pengungsi Suriah telah kembali dari negara-negara tetangga sejak runtuhnya pemerintahan Suriah pada Desember 2024.

Sekitar 200 ribu di antaranya pulang dari Yordania, sementara dua juta pengungsi internal lainnya kembali ke kampung halaman mereka dari berbagai wilayah di Suriah.

Namun, banyak warga yang pulang mendapati negara mereka masih dipenuhi reruntuhan. Separuh wilayah Suriah dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat perang berkepanjangan selama lebih dari 13 tahun.

Perekonomian Suriah yang terus terpuruk membuat proses pemulihan berjalan lambat. Bank Dunia memperkirakan biaya rekonstruksi Suriah mencapai 216 miliar dolar AS atau hampir 10 kali lipat dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu pada 2024.

Di seluruh negeri, akses terhadap hunian layak, pekerjaan tetap, hingga layanan dasar seperti listrik dan sanitasi masih sangat terbatas.

Bagi keluarga Umm Abdulrahman, menyewa apartemen sederhana untuk 13 orang membutuhkan biaya sekitar 250 hingga 300 dolar AS per bulan. Sementara putranya, satu-satunya pencari nafkah keluarga, hanya memperoleh sekitar 200 dolar AS dari pekerjaan serabutan.

Di lantai atas bangunan yang sama, Mohammad Marzouq Forough bersama istri dan dua anaknya juga tinggal dalam kondisi serupa. Ia bukan kembali dari luar negeri, melainkan pindah dari wilayah lain di Suriah akibat kemiskinan dan minimnya pekerjaan.

“Kami terpaksa datang ke sini karena tidak ada lapangan pekerjaan dan tempat tinggal,” ujarnya.

Penuh Risiko

Bangunan tempat mereka tinggal dipenuhi risiko. Dinding terbuka membuat penghuni rentan terhadap cuaca, kabel listrik menjuntai tanpa pengaman, dan sistem pembuangan limbah tidak berfungsi.

“Yang paling kami takutkan adalah bangunan ini runtuh. Saat angin kencang datang, rasanya seperti gedung ini akan roboh menimpa kami,” kata Forough.

Selain ancaman bangunan runtuh, warga juga menghadapi bahaya ranjau darat dan amunisi yang belum meledak. Sejumlah organisasi kemanusiaan memperkirakan ratusan ribu ranjau masih tersebar di bekas garis depan perang dan kawasan permukiman.

Laporan Syrian Network for Human Rights mencatat sedikitnya 3.799 warga sipil tewas akibat ranjau dan amunisi klaster sejak 2011 hingga April 2026, termasuk sekitar 1.000 anak-anak.

PBB juga menyebut lebih dari 16,7 juta warga Suriah masih membutuhkan bantuan kemanusiaan, sementara lebih dari 80 persen keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

Di tengah reruntuhan bangunan di Atman, anak-anak tetap bermain di koridor berdebu dan pakaian tergantung di antara pilar-pilar retak. Bagi banyak keluarga, kepulangan ke Suriah bukan akhir dari penderitaan, melainkan awal kehidupan baru di tengah kehancuran.

“Kami hidup dalam bahaya. Jika ada pilihan lain, tidak seorang pun ingin hidup seperti ini,” ujar Umm Abdulrahman.