AS Umumkan Gelombang Serangan Terbaru terhadap Iran

Gelombang serangan ini berlangsung di tengah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Diterbitkan 12 Juli 2026, 08:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah memulai gelombang ketiga serangan terhadap Iran setelah menuduh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang kapal kontainer berbendera Siprus di Selat Hormuz.

CENTCOM mengatakan kapal tersebut tidak dapat melanjutkan pelayaran akibat kebakaran di atas kapal dan kerusakan mesin. Seorang awak kapal juga dilaporkan hilang.

"Iran kembali diberi kesempatan untuk menunjukkan kepatuhan terhadap Nota Kesepahaman setelah dimintai pertanggungjawaban atas serangan-serangan sebelumnya terhadap kapal komersial, tetapi sekali lagi gagal melakukannya," kata CENTCOM, merujuk pada kesepakatan damai yang ditandatangani pada 16 Juni.

"Sebagai tanggapan, AS menjatuhkan konsekuensi berat dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial yang melintasi selat tersebut secara bebas."

Lembaga penyiaran pemerintah Iran, IRIB, melaporkan sejumlah ledakan kembali terjadi di berbagai wilayah di Iran bagian selatan.

IRIB menyebut masing-masing tiga ledakan telah dikonfirmasi terjadi di kota pelabuhan Bandar Abbas dan Sirik. Dua ledakan terdengar di kota pelabuhan Chabahar, sementara lima ledakan dilaporkan terdengar di Bandar-e Deyr, Provinsi Bushehr.

IRIB menambahkan, empat ledakan juga terdengar di Kota Asaluyeh, yang juga berada di Provinsi Bushehr.

Iran terlebih dahulu mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Minggu pagi (12/7/2026) sebelum militer AS meluncurkan gelombang serangan udara balasan terbaru. Langkah ini diambil setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang kapal kontainer M/V GFS Galaxy berbendera Siprus karena dituduh melanggar aturan dengan mematikan sistem navigasi dan melewati jalur yang tidak diizinkan.

IRGC menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup total hingga batas waktu yang belum ditentukan sampai seluruh campur tangan militer AS di kawasan tersebut berakhir.

Â