Laba Samsung Diprediksi Melesat 19 Kali Lipat Berkat Booming AI

Analis menilai, lonjakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berdampak positif untuk laba Samsung.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung Electronics akan mencatatkan kenaikan laba hingga 19 kali lipat. Kenaikan laba itu dipicu permintaan global untuk chip memori kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mengutip BBC, Selasa (7/7/2026), Samsung memprediksi laba sebesar 89,4 triliun won atau US$ 58,4 miliar pada awal April-akhir Juni 2026. Jumlah itu setara Rp 1.050 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.990). Laba tersebut menandai rekor laba operasional untuk ketiga kali berturut-turut.

Perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan seperti Samsung merilis prediksi laba sebelum laporan resmi yang lebih rinci untuk membantu memandu investor.

Perkiraan terbaru Samsung yang dirilis pada Selasa pekan ini menjelang hasil lengkapnya yang akan diumumkan pada akhir Juli. Hal ini seiring permintaan semikonduktor terus melebihi pasokan, yang telah mendorong kenaikan harga.

Dalam pratinjau yang dikenal sebagai panduan laba, Samsung mengatakan memperoleh sekitar 171 triliin won dari penjualan selama kuartal tersebut. Perolehan penjualan itu lebih dari dua kali lipat dari periode sama tahun lalu.

Analis Industri Counterpoint Research, Marc Einstein menuturkan, proyeksi laba perusahaan menandai salah satu kinerja kuartalan terbaik yang pernah ada, yang mendekati rekor sektor teknologi yang dicetak Nvidia awal tahun ini.

"Ini semua berkaitan dengan booming AI karena perusahaan memori terus menikmati gelombang besar yang didorong oleh pasokan terbatas dan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ia menambahkan.

Adapun Samsung telah menaikkan harga chip memori karena pasokan tetap ketat.

 

Pasokan Bakal Ketat

Perusahaan riset IDC mengatakan, permintaan semikonduktor untuk pusat data dan infrastruktur artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan lainnya berbeda dari apapun yang pernah dihadapi industri memori. Hal ini berdampak pada pasokan chip untuk elektronik.

“Kami memperkirakan pasokan akan ketat hingga tahun depan mengingat permintaan yang tak kunjung reda dari pusat data AI,” ujar Tech Devices Researcher IDC, Bryan Ma.

Samsung adalah salah satu produsen semikonduktor terbesar di dunia, membuat chip untuk perusahaan seperti Nvidia dan Google bersama dengan berbagai perangkat elektroniknya. Saham perusahaan teknologi besar telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir karena meningkatnya permintaan chip.

Saham Samsung turun lebih dari 8% di Seoul pada Selasa pagi karena beberapa investor memperkirakan keuntungannya akan lebih tinggi lagi.

Nilai pasar sahamnya telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal tahun ini, sementara pesaing Korea Selatan SK Hynix telah melonjak lebih dari 200%.

Kinerja kuat kedua perusahaan tersebut telah membantu mengangkat nilai indeks saham acuan Korea Selatan, Kospi, lebih dari 80% pada 2026.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6