Harga Logam Mulia Diprediksi Tembus Rp 2.880.000 Pekan Depan

Harga emas dunia dan logam mulia diproyeksikan menguat pekan depan. Rencana damai AS-Iran dan kebijakan suku bunga The Fed jadi motor utama penggerak pasar.

Diterbitkan 14 Juni 2026, 17:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan harga emas dunia dan logam mulia pada pekan depan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik serta kebijakan bank sentral, terutama Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pada perdagangan Sabtu pagi kemarin, harga emas dunia ditutup di level US$ 4.209 per troy ounce, sedangkan harga logam mulia berada di Rp 2.711.000 per gram.

Secara teknikal, Ibrahim menyebut apabila harga emas dunia mengalami koreksi, support pertama berada di US$ 4.058 per troy ounce dengan harga logam mulia Rp 2.690.000 per gram.

Sementara support kedua berada di US$ 3.929 per troy ounce dan logam mulia Rp 2.500.000 per gram.

Sebaliknya, apabila harga emas dunia menguat, resistance pertama berada di US$ 4.394 per troy ounce dengan harga logam mulia Rp 2.740.000 per gram.

Adapun resistance kedua berada di US$ 4.571 per troy ounce dengan harga logam mulia Rp 2.880.000 per gram.

Menurut Ibrahim, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas dunia dan logam mulia, yakni perkembangan geopolitik dan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat.

"Jadi cuma ada dua faktor yang akan memengaruhi pergerakan indeks dolar, minyak mentah, kemudian harga emas dan logam mulia," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).

 

Kesepakatan AS-Iran

Ia menjelaskan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai rencana penandatanganan kesepakatan damai dengan Iran pada Minggu serta pembukaan Selat Hormuz menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan pelaku pasar.

Menurutnya, indikasi perdamaian tersebut telah mendorong penurunan harga minyak. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak terhadap pergerakan dolar Amerika Serikat dan harga emas.

"Nah, kalau harga minyak turun kemudian indeks dolar menguat, berarti harga emas mengalami kenaikan," katanya.

Ibrahim menambahkan, apabila kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran benar-benar terealisasi dan Selat Hormuz kembali dibuka, kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi harga emas dunia dan logam mulia untuk kembali menguat.

 

Keputusan Bank Sentral

Selain faktor geopolitik, ia mengatakan pertemuan sejumlah bank sentral global pada pekan depan juga akan menjadi perhatian pasar. Menurutnya, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan mendatang, namun peluang kenaikan suku bunga masih terbuka apabila harga minyak terus meningkat dan inflasi berada di atas 2%.

Di sisi lain, apabila harga minyak mengalami penurunan setelah adanya kesepakatan tersebut, kondisi itu dinilai akan berdampak positif terhadap kebijakan bank sentral untuk kembali menurunkan suku bunga.

Ibrahim menilai pembukaan Selat Hormuz dapat menjadi momentum bagi harga emas dunia dan logam mulia untuk kembali mengalami kenaikan. Menurutnya, penguatan tersebut hanya tinggal menunggu waktu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6