Harga Emas Dunia Hari Ini Merosot

Analis menilai, pergerakan harga emas didominasi sentimen geopolitik.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 15:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia dunia melemah pada Jumat, (12/6/2026). Seiring penurunan itu, harga emas berada di jalur koreksi mingguan. Koreksi harga emas dipicu kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS).

Mengutip Yahoo Finance, harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.191,17 per ounce pada pukul 02.52 GMT. Harga emas diperkirakan alami penurunan mingguan 3,2%. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 2,4% menjadi US$ 4.212,70.

Sementara itu, harga perak spot turun 0,4% menjadi US$ 67,10 per ounce, dan platinum naik 0,7% menjadi US$ 1.731,40. Kedua logam tersebut menuju kerugian mingguan, sementara paladium naik 1,6% menjadi US$ 1.289,33, dan naik sekitar 5% pada pekan ini.

Harga emas jatuh ke level terendah dalam enam bulan pada Kamis, 11 Juni 2026 sebelum ditutup di US$ 4.219,69. Hal tersebut didorong sentimen Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran dan memberi sinyal kesepakatan perdamaian yang akan segera terjadi.

"Harga sepenuhnya didorong oleh berita utama geopolitik,” kata Analis Marex, Edward Meir.

Ia menuturkan, pasar akan memperhatikan sinyal apapun kalau the Fed dapat menaikkan suku bunga. "Jika the Fed mengisyaratkan untuk bergerak ke arah itu, saya pikir emas akan menembus di bawah US$ 4.000,” kata dia.

Harga emas telah turun sekitar 20% sejak perang Iran dimulai, karena kekhawatiran kenaikan biaya energi dapat memicu inflasi, mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi dan meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam yang tidak memberikan imbal hasil tersebut.

Harga produsen AS meningkat lebih dari yang diperkirakan pada Mei, menyebabkan kenaikan tahunan terbesar dalam 3,5 tahun. Hal ini karena konflik Timur Tengah mendorong kenaikan biaya produk energi.

 

Peluang Kenaikan Suku Bunga

Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS sebesar 60% pada Desember, menurut alat FedWatch dari CME Group.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan, Amerika Serikat dan Iran dapat menandatangani kesepakatan damai secepatnya akhir pekan ini yang akan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran, tetapi Iran membantah bahwa mereka belum mencapai keputusan akhir tentang kesepakatan tersebut.

Sementara itu, kepemilikan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) terbesar yang didukung emas, SPDR Gold Trust GLD New York, turun sekitar 0,3% menjadi 923,89 metrik ton pada Rabu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6