Purbaya Minta Pemegang Dolar Segera Jual, Ini Alasannya

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mencatat, selama periode pelemahan rupiah terhadap dolar AS, tercatat dana masuk Rp 1,3 triliun ke pasar obligasi.

Diterbitkan 20 Mei 2026, 00:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menerbitkan global bond atau surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) dengan target sebesar USD 2 miliar hingga USD 3 miliar. Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah pemerintah untuk meredam penguatan dolar AS.

Purbaya mengatakan, pemerintah telah melakukan intervensi di pasar obligasi sejak pekan lalu. Penerbitan surat utang tersebut dinilai dapat menambah pasokan dolar AS di pasar domestik sekaligus menopang penguatan nilai tukar rupiah.

"Yang global 2 sampai 3 miliar dolar. Itu tambahan supply dolar di pasar dalam negeri," ujar Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTA, Selasa (19/5/2026).

Selain itu, Purbaya mengungkapkan selama periode pelemahan rupiah terhadap dolar AS, tercatat dana masuk sekitar Rp 1,3 triliun ke pasar obligasi.

"Rupiah gonjang ganjing pemerintah melakukan inisiatif menjaga stabilitas di pasar obligasi kami sudah masuk Jumat Senin Selasa hari ini Rp 1,3 triliun masuk," terang Purbaya.

Masuknya dana tersebut dinilai mendorong penurunan yield obligasi di pasar sekunder, sekaligus menandakan kembalinya minat investor terhadap instrumen domestik. Purbaya menegaskan pihaknya terus memantau aliran dana yang masuk ke pasar.

Purbaya juga mengimbau masyarakat yang memegang dolar untuk mempertimbangkan menjualnya, seiring keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah akan segera menguat.

"Jadi kalau Anda pegang dolar sekarang, ya jual saja. Nanti enggak untung loh," Purbaya menambahkan.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari faktor eksternal, terutama dinamika geopolitik global yang juga berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi domestik ke depan.

 

 

Purbaya Siapkan Rp 2 Triliun per Hari untuk Stabilkan Rupiah

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudi Sadewa memastikan pemerintah terus mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global. Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan masuk lebih aktif ke pasar obligasi melalui skema Dana Stabilisasi Obligasi atau Bond Stabilization Fund.

Purbaya mengatakan pemerintah bersama investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi secara bertahap. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan sentimen positif dan menjaga kestabilan pasar keuangan dalam beberapa pekan ke depan.

"Kita sudah masuk ke bond market bertahap. Asing juga sudah masuk juga, jadi seharusnya ke depan, minggu-minggu ini akan lebih stabil,” kata Purbaya ditulis Selasa (19/5/2026).

Ia bahkan menegaskan akan terlibat langsung setiap hari di pasar obligasi untuk menjaga stabilitas.

"Saya akan masuk setiap hari ke bond market," ujarnya.

Pemerintah berencana menjalankan skema Dana Stabilisasi Obligasi menggunakan anggaran yang tersedia. Saat ditanya mengenai besaran dana yang akan disuntikkan, Purbaya menyebut dirinya meminta sekitar Rp 2 triliun per hari masuk ke pasar obligasi.

 

 

Tak Ganggu Fiskal

Purbaya menjelaskan dana tersebut berasal dari pengelolaan kas pemerintah sehingga dinilai tidak akan mengganggu kondisi fiskal negara.

"Kita masih punya beberapa tempat, itu kan hanya cash management saja. Jadi tidak masalah," jelasnya.

Menurut dia, peningkatan aktivitas di pasar obligasi diharapkan mampu mendorong sentimen positif investor. Jika kondisi pasar membaik, investor asing diperkirakan akan kembali meningkatkan investasinya di pasar keuangan Indonesia.

Sebelumnya, Purbaya juga menegaskan pemerintah siap menjaga stabilitas pasar obligasi dengan mengendalikan tingkat imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN).

Intervensi dilakukan agar kenaikan yield tidak terlalu tinggi karena dapat memicu kerugian atau capital loss bagi investor asing dan mendorong keluarnya modal dari Indonesia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6