Mentan Amran Geram, Gula Rafinasi Banjir ke Pasaran Bikin Produksi Lokal Tak Laku

Banjir gula rafinasi impor ke pasar konsumsi tekan harga gula lokal. Petani tebu dirugikan, sementara produksi dalam negeri sulit terserap.

Diterbitkan 08 April 2026, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan kondisi banjir gula rafinasi impor yang masuk ke pasaran. Hal ini membuat gula konsumsi lokal tidak dibeli oleh konsumen.

Hal tersebut disampaikan Amran dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR. Ia bahkan mengatakan, gula rafinasi yang seharusnya diolah industri justru membanjiri pasar.

"Yang terjadi di lapangan, Ibu, kita buka saja, rafinasi banjir, alau bocor, sedikit-sedikit, ini banjir. Nah itu terjadi, kami langsung telepon karena ada laporan dari petani di Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulsel. Itu rafinasi yang langsung masuk ke lapangan, ke pasar," kata Amran dalam raker di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Ia menerangkan, terdapat kemiripan antara gula rafinasi impor dan gula kristal putih lokal, terutama dari segi warna. Kondisi ini membuat konsumen sulit membedakan keduanya. Di sisi lain, harga molase juga anjlok hingga Rp1.000 per liter pada Maret 2026.

"Ini persoalan besar. Jadi yang memukul petani kita, kita sendiri, molasenya tidak laku. Jadi harga turun terus, dulu Rp1.900 (per liter). Jadi aneh, kita satu sisi impor, tetapi produksi kita tidak laku," sebutnya.

Berdasarkan proyeksi 2025, luas panen tebu eksisting mencapai 563.357 hektare dengan produktivitas Gula Kristal Putih (GKP) sebesar 4,74 ton per hektare atau setara 69,35 ton tebu per hektare. Dengan capaian tersebut, produksi GKP diperkirakan mencapai 2,67 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan gula nasional mencapai 6,7 juta ton yang terdiri dari 2,8 juta ton gula konsumsi dan 3,9 juta ton gula industri. Artinya, masih terdapat kesenjangan yang perlu segera diatasi.

 

Sugar Co Rugi Rp 680 Miliar

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengungkapkan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co mengalami kerugian hingga Rp680 miliar pada 2025. Angka tersebut dipicu oleh banjirnya impor gula dan gula rafinasi di pasar.

Ia menilai kebocoran gula rafinasi ke pasar menyebabkan harga menjadi tidak terkendali. Selain itu, praktik impor gula yang tidak terkontrol juga memperburuk kondisi industri dalam negeri.

"Sugar Co mebukukan rugi, Rp 680 miliar, akibat daripada harga yang memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula yang tidak terkontrol," kata Dony dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

 

Intervensi Belum Optimal

Menurut Dony, diperlukan perbaikan menyeluruh dalam industri gula nasional, termasuk pada perusahaan milik negara. Ia menyebut pemerintah sempat melakukan intervensi dengan menyerap produksi gula lokal melalui subsidi.

"Sebetulnya tahun lalu kita juga melakukan, sebagai pemerintah melakukan bantuan ya, kita melakukan subsidi ke dalam pasar untuk mengambil seluruh gula daripada masyarakat sebesar Rp1,5 triliun. Tetapi itu juga tidak memberikan apa yang signifikan," bebernya.

Ia pun berharap ada dukungan regulasi untuk memperbaiki tata kelola industri gula nasional.

"Kalau tidak, menurut saya, akan sulit bagi kami untuk bisa menghadapi harga gula yang kemudian menjadi kebocoran daripada impor gula rafinasi yang masuk ke dalam masyarakat," terang dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6