Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Cetak Rekor di G20, Ini Penjelasan Airlangga

Pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal IV 2025 menempati posisi teratas di G20, ditopang konsumsi dan manufaktur.

Diterbitkan 11 Februari 2026, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20.

“Ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara G20. Kemudian pertumbuhan tahunan (year on year) sebesar 5,11 persen, ini juga sangat baik,” kata Airlangga usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (11/2/2026).

Dari sisi sektor riil, Airlangga menyampaikan aktivitas manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi. Indeks manufaktur tercatat sebesar 52,6, menunjukkan kegiatan industri masih tumbuh positif.

Selain itu, tingkat keyakinan konsumen juga terus membaik. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2026 naik menjadi 127, dari sebelumnya 123,5 pada Desember 2025. Peningkatan ini mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan daya beli ke depan.

Kinerja konsumsi domestik pun menunjukkan tren penguatan. Penjualan riil tercatat tumbuh 7,9 persen secara tahunan, meningkat signifikan dibandingkan Desember 2025 yang hanya tumbuh 3,5 persen.

 

Investasi, Surplus Dagang, dan Tantangan ke Depan

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2025 mencatatkan surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil membukukan surplus perdagangan selama 68 bulan berturut-turut.

Sementara itu, realisasi investasi juga menunjukkan kinerja yang solid. Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp1.931,2 triliun.

“Kemudian dari segi cadangan devisa tetap tinggi 154,6 (miliar dolar AS) dan pertumbuhan kredit tinggi 9,69 (persen),” jelas Airlangga.

Ia menambahkan, peringkat kredit Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional masih berada pada level investment grade. Namun demikian, pemerintah tetap mencermati outlook negatif dari Moody’s.

“Nah ini tentu perlu diperhatikan terkait dengan penjelasan yang diperlukan utamanya tentang penerimaan negara yang juga berpotensi meningkat dan juga terkait dengan rencana dari pada Danantara,” pungkas Airlangga.

Pemerintah menegaskan akan terus menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat penerimaan negara, serta memastikan kebijakan strategis mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6