Donald Trump Melunak Terkait Greenland, Rupiah Melesat terhadap Dolar AS

Nilai tukar rupiah perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, (22/1/2026).

Diterbitkan 22 Januari 2026, 20:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang melunak mengenai persoalan Greenland berdampak terdampak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rupiah ditutup menguat 40 poin atau 0,24% menjadi 16.896 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis pekan ini juga bergerak menguat ke level 16.902 per dolar AS dari sebelumnya 16.963 per dolar AS.

"Pada pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan, AS tidak akan mengenakan tarif terkait Greenland setelah mencapai kerangka kerja untuk kesepakatan masa depan dengan pihak-pihak terkai. Ia juga mencatat AS akan terlibat dalam hak mineral Greenland,” ujar dia dikutip dari Antara, Kamis pekan ini.

Mengutip Sputnik, Trump menuturkan, kerangka kerja untuk potensi perjanjian mendatang terkait Greenland dan wilayah Arktik yang lebih luas telah dikembangkan, pasca pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte.

Jika diselesaikan, perjanjian tersebut dinilai oleh Trump akan memberikan manfaat signifikan, tidak hanya bagi AS tetapi juga bagi semua negara anggota NATO.

Trump juga menepis upaya penggunaan kekuatan militer untuk merebut Greenland, tetapi tetap menginginkan AS mengakuisisi wilayah otonom milik Denmark itu dengan dalih keamanan nasional di tengah meningkatnya pengaruh China dan Rusia.

“Pernyataan ini membantu meredakan ketidakpastian seputar potensi ketegangan geopolitik AS-UE (Uni Eropa),” tutur Josua.

Ini Dampaknya Jika Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah

Sebelumnya, Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda, menilai pelemahan rupiah bisa berdampak signifikan terhadap sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor.

"Sektor yang paling terdampak adalah sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor. Akan ada kenaikan harga bahan baku impor yang cukup signifikan karena pelemahan rupiah," kata Nailul Huda kepada Liputan6.com, Selasa (20/1/2026)z

Menurut Nailul, dampaknya bisa terjadi imported inflation atau inflasi yang ditimbulkan oleh barang-barang impor atau bahan baku impor. Misalkan tempe dan tahu yang lebih mahal karena kedelai impor.

Ia membeberkan, beberapa faktor eksternal dan internal yang sama-sama berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Faktor eksternal pertama adalah sikap the Fed dan beberapa bank sentral lainnya yang menahan suku bunga acuan. Arus dolar akan kembali ke AS dan negara maju. Permintaan dolar akan meningkat. 

Faktor eksternal lainnya adalah ketegangan di global, khususnya timur tengah (Iran) membuat harga minyak menguat. 

"Di tengah ketidakpastian yang tinggi, ada dua instrumen investasi yang cenderung aman, yaitu dolar AS dan emas," ujarnya.

Faktor Internal

Sementara, untuk faktor internal adalah pengumuman kinerja APBN 2025 yang mencatatkan rapor merah. Dari sisi defisit fiskal yang membengkak memberikan sentimen negatif pada pengelolaan keuangan negara. 

Belanja yang boros namun penerimaan yang seret membuat kekhawatiran terkait anggaran yang sustainable. Alhasil investor melihat pengelolaan yang buruk sebagai sentimen negatif. 

"Kedua adalah hutang yang membengkak yang bisa meruntuhkan kondisi fiskal kita. Hutang yang menumpuk membuat kinerja fiskal tidak optimal dalam pembangunan," ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6