Yen Jepang Menguat, Belanja Barang Mewah Cartier Dkk Langsung Turun

Tak lagi semurah tahun lalu, penguatan nilai tukar yen bikin turis asing mulai ngerem belanja barang branded di Jepang.

Diterbitkan 10 Januari 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penguatan yen Jepang mulai meredam lonjakan belanja barang mewah yang sempat melonjak tajam sepanjang tahun lalu. Kondisi ini berdampak langsung pada kinerja Richemont, grup mewah asal Swiss pemilik merek Cartier, yang mencatat penurunan penjualan di pasar Jepang.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (10/1/2026), Richemont mengungkapkan penjualan di Jepang turun 15% secara tahunan. Penurunan ini terjadi setelah Jepang sebelumnya menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat bagi industri barang mewah global.

Meski penjualan di Jepang melemah, kinerja Richemont secara global masih menunjukkan ketahanan. Pendapatan tercatat naik 6% secara tahunan pada kurs tetap menjadi 5,41 miliar euro atau sekitar 6,28 miliar dolar AS dalam periode tiga bulan hingga akhir Juni.

Angka tersebut sedikit melampaui proyeksi analis yang dihimpun LSEG sebesar 5,37 miliar euro.

Respons pasar tersebut mendorong saham Richemont yang ditutup menguat 1,2% pada perdagangan hari tersebut.

Penurunan penjualan di Jepang kontras dengan kinerja tahun lalu. Pada kuartal yang sama tahun sebelumnya, Richemont mencatat lonjakan pendapatan hingga 59% di negara tersebut, didorong melemahnya yen yang memicu arus wisatawan internasional dan belanja barang mewah, terutama dari konsumen asal China.

 

Depresiasi Yen Berkah Buat Merek Mewah

Yen Jepang sendiri sempat terdepresiasi tajam setelah Bank Sentral Jepang mengakhiri era suku bunga negatif dan menghentikan kebijakan pengendalian kurva imbal hasil pada Maret tahun lalu. Bahkan pada Juni, yen menyentuh level terlemahnya dalam 38 tahun, melewati 161 per dolar AS.

Kondisi itu menjadi berkah bagi merek-merek mewah. Richemont mencatat pertumbuhan penjualan antara 20% hingga 25% di Jepang selama beberapa kuartal berturut-turut. Hal serupa juga dinikmati oleh Merk lain seperti LVMH, dan Burberry, yang mendapat dorongan dari belanja wisatawan China.

Namun, penguatan yen sepanjang tahun pertama 2025 mulai membalikkan keadaan.

“Di Jepang, penjualan turun 15% dibandingkan dengan pertumbuhan signifikan sebesar 59% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penguatan yen sangat mengurangi pengeluaran wisatawan, terutama dari pelanggan Tiongkok, meskipun permintaan lokal tetap positif,” ujar Richemont dalam pernyataannya.

 

Segmen Perhiasan Naik

Di tengah perlambatan pasar barang mewah global, Richemont justru masih menunjukkan keunggulan di segmen perhiasan kelas atas. Jewellery Maisons, yang menaungi merek seperti Cartier dan Van Cleef & Arpels, mencatat kenaikan penjualan 11% pada kurs tetap dan kembali menjadi pendorong utama perusahaan

Sebaliknya, kinerja Specialist Watchmakers yang mencakup Piaget dan Roger Dubuis masih tertinggal. Penjualan di segmen ini turun 7% akibat lemahnya permintaan di China, Hong Kong, Makau, dan Jepang, meskipun pasar Amerika menunjukkan tren yang lebih positif.

Dengan dinamika nilai tukar dan perubahan pola belanja wisatawan, kinerja pasar Jepang kini menjadi ujian baru bagi industri barang mewah global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6