Harga Minyak Turun Tipis, Kenaikan Produksi Redam Gangguan Pasokan Rusia

Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia dan Ukraina semakin gencar melakukan serangan udara yang menargetkan infrastruktur energi, sehingga turut mengganggu ekspor minyak Rusia.

Diterbitkan 02 September 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyakdunia diperdagangkan dalam kisaran yang relatif ketat pada Senin (2/9/2025), seiring kekhawatiran meningkatnya produksi global dan dampak tarif AS terhadap permintaan menekan sentimen pasar.

Faktor ini menutupi kekhawatiran terkait gangguan pasokan akibat eskalasi serangan udara Rusia–Ukraina.

Mengutip CNBC, Selasa (2/9/2025), harga minyak mentah Brent turun 12 sen atau 0,18% ke posisi USD 67,36 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 13 sen atau 0,2% ke level USD 63,88 per barel.

Aktivitas perdagangan juga tipis karena libur bank di Amerika Serikat (AS).

Dari kawasan konflik, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berjanji akan membalas dengan memperluas serangan ke wilayah Rusia setelah serangan drone Moskow menghantam fasilitas listrik di Ukraina bagian utara dan selatan.

Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara semakin gencar melakukan serangan udara yang menargetkan infrastruktur energi, sehingga turut mengganggu ekspor minyak Rusia.

 

Prediksi Harga

Data pelacakan kapal tanker yang dikutip analis ANZ menunjukkan, pengiriman minyak Rusia dari pelabuhan utama turun ke level terendah dalam empat minggu terakhir, yakni 2,72 juta barel per hari. Kondisi ini membuat pasar tetap waspada terhadap stabilitas pasokan dari negara tersebut.

Namun, prospek harga minyak secara keseluruhan dinilai masih terbatas. sebuah survei pada Jumat lalu memperkirakan harga tidak akan banyak bergerak naik sepanjang tahun ini.

Alasannya, peningkatan produksi dari produsen utama berisiko menciptakan surplus, sementara ancaman tarif AS menekan pertumbuhan permintaan.

Dari Asia, aktivitas manufaktur China kembali menyusut pada Agustus—bulan kelima berturut-turut. Survei resmi menunjukkan produsen menahan ekspansi karena ketidakpastian perdagangan dengan AS dan lemahnya permintaan domestik.

 

Menanti Pertemuan OPEC

Investor kini menanti pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya pada 7 September untuk mendapatkan sinyal lebih jelas terkait rencana produksi ke depan.

Di sisi lain, data Badan Informasi Energi (EIA) menunjukkan produksi minyak mentah AS menyentuh rekor tertinggi pada Juni, naik 133.000 barel per hari menjadi 13,58 juta barel per hari.

Pekan ini, perhatian pasar juga akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS. Data tersebut dipandang penting untuk menilai kesehatan ekonomi sekaligus menguji keyakinan investor bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga, sentimen yang belakangan mendorong minat pada aset berisiko termasuk komoditas.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6