AIGIS 2025, Kemenperin Racik Cara Pengurangan Emisi Karbon dari Sektor Industri Petrokimia

PT Petrokimia Gresik dan Kementerian Perindustrian juga tengah menghitung keuntungan ekonomi dari proyek pengurangan emisi karbon ini.

Diterbitkan 21 Agustus 2025, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memulai proyek penangkapan dan penggunaan karbon dari sektor industri petrokimia. Proyek pengurangan emisi karbon ini disebut-sebut mampu memberikan nilai tambah ekonomi.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kemenperin, Eko S.A Cahyanto dalam The 2nd Annual Indonesia Green Industri Summit 2025 (AIGIS) atau AIGIS 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Dia menjelaskan tahapan kerja sama pelaksanaan carbon capture and utilization (CCU) di industri petrokimia.

"22 Januari tahun ini, persis 7 bulan yang lalu, itu ditandatangani MoU sekaligus perjanjian kerja sama mengenai pilot project pengurangan emisi karbon ini," kata Eko di JICC Senayan, Jakarta, Kamis (21/8/2025).

Pada tahap awal memang dipilih industri petrokimia untuk CCU ini. Ada beberapa target yang dikejar, pertama pengurangan emisi karbon dari proses industri petrokimia. Kedua, diharapkan mampu menghasilkan produk yang bernilai ekonomi.

"Ketiga, kita ingin bagaimana kita bisa menguasai teknologi penangkapan emisi tersebut, penangkapan karbon tersebut sekaligus (keempat) bisa menciptakan by product-nya," kata dia.

"Kelima, kita berharap bisa juga membuat atau memiliki kemampuan menciptakan mesin atau memproduksi mesin, mesin yang dibutuhkan dalam rangka CCU ini," Eko menambahkan.

Hitung Nilai Ekonomi

Masih dalam The 2nd AIGIS 2025, Eko menyebut PT Petrokimia Gresik dan Kementerian Perindustrian juga tengah menghitung keuntungan ekonomi dari proyek pengurangan emisi karbon ini.

Di antaranya mengenai nilai ekonomi karbon hingga menjadikan produk hasil karbon ini bermanfaat untuk kebutuhan industri lokal. Apalagi jika mampu mengurangi ketergantungan produk impor.

"Pertama dari pengurangan karbon itu sendiri sesuai dengan skema nilai ekonomi karbon, yang kedua bagaimana kita bisa memanfaatkan by product ini sebagai salah satu cara kita melakukan substitusi impor dari barang atau bahan baku yang saat ini masih banyak kita impor yang bisa kita hasilkan by product dari hasil pengurangan emisi ini," tutur dia.

 

Transformasi Hijau

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada tahun 2029 mendatang harus berjalan beriringan dengan komitmen untuk menurunkan emisi karbon. Hal ini disampaikan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, dalam keterangannya di Jakarta. 

Hashim menegaskan, percepatan pertumbuhan ekonomi akan secara otomatis meningkatkan emisi karbon, sehingga diperlukan strategi yang jelas agar pembangunan tidak menimbulkan beban lingkungan. 

"Pencapaian target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029 mendatang pasti akan menghasilkan emisi karbon lebih banyak. Oleh karena itu, kita membutuhkan upaya serius dalam menurunkan emisi karbon. Peningkatan pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan komitmen penurunan emisi karbon, bukan sebaliknya,” ungkapnya.

Dia menuturkan, Indonesia memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa pembangunan ekonomi hijau bisa menjadi motor pertumbuhan. Dengan mengintegrasikan investasi energi bersih, efisiensi industri, dan teknologi rendah karbon, Hashim optimistis target tersebut dapat dicapai.

Perlu Sinergi

Senada dengan hal itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya sinergi antara strategi pertumbuhan ekonomi dan kebijakan lingkungan. 

"Kami sependapat dengan Pak Hashim bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh dipertentangkan dengan upaya penurunan emisi karbon atau gas rumah kaca di sektor industri. Justru sebaliknya, keduanya harus berjalan seiring,” ujarnya pada The 2nd Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 di Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Menperin menuturkan, sektor industri merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi karbon di tanah air. 

"Industri menyumbang sekitar 30 persen dari total emisi CO2 di Indonesia. Maka dari itu, upaya menurunkan emisi gas rumah kaca di sektor industri tidak hanya penting bagi keberlanjutan lingkungan, tetapi juga akan mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029,” ujarnya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6