Del Monte Bangkrut Usai 138 Tahun Berdiri, Utangnya Sentuh Nilai Segini

Del Monte Foods, perusahaan berusia 138 tahun mengajukan kebangkrutan dan sedang proses menjual asetnya.

Diperbarui 03 Juli 2025, 16:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Del Monte Foods, perusahaan berusia 138 tahun yang terkenal dengan buah dan sayuran kalengnya telah mengajukan kebangkrutan dan tengah mencari pembeli.

Mengutip laman CNN, Kamis, (3/7/2025), pada Selasa malam, perusahaan mengumumkan kalau mereka secara sukarela memasuki Bab 11 dan tengah menjalani proses penjualan untuk semua asetnya. Di antara lini produk perusahaan itu terdapat sejumlah bahan pokok dapur yang terkenal, termasuk kaldu College Inn dan tomat kaleng Contadina, serta merek andalannya Del Monte.

"Setelah evaluasi menyeluruh terhadap semua opsi yang tersedia, kami memutuskan proses penjualan yang diawasi pengadilan adalah cara yang paling efektif untuk mempercepat pemulihan kami dan menciptakan Del Monte Foods yang lebih kuat dan bertahan lama,” ujar Presiden dan CEO Greg Longstreet dalam sebuah pernyataan.

Del Monte mengatakan, pihaknya memperoleh pendanaan baru sebesar USD 912,5 juta atau Rp 14,80 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.224) yang akan memungkinkan Perseroan untuk tetap bertahan selama proses penjualan dan akan menjaga perusahaan beroperasi seperti biasa saat memasuki puncak musim pengalengan.

Perusahaan itu mencatat kewajiban yang diperkirakan antara USD 1 miliar (Rp 16,22 triliun)-USD 10 miliar (Rp 162,26 triliun), berdasarkan dokumen pengadilan.

“Dengan struktur modal yang lebih baik, posisi keuangan yang lebih baik dan kepemilikan baru, kami akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk meraih kesuksesan jangka panjang,” kata Longstreet.

Ia menuturkan, perusahaan telah menghadapi tantangan yang semakin intensif akibat lingkungan ekonomi makro yang dinamis terutama konsumen yang mengurangi pengeluaran mereka dan semakin mengalihkan pengeluaran untuk merek dagang lainnya.

Del Monte mengatakan, permintana konsumen telah menurun. Hal ini menyebabkan Perseroan mengeluarkan biaya lebih besar terkait kelebihan persediaan yang harus disimpan dan berusaha disingkirkan dari rak dengan peningkatan pengeluaran promosi.

“Preferensi konsumen telah beralih dari makanan kaleng yang mengandung bahan pengawet ke alternatif yang lebih sehat,” ujar Global Head of Legal and Restructuring Debtwire.

Del Monte memulai usaha pada 1886 dan membangun pabrik pengalengan yang terkenal di San Francisco pada 1907. Perusahaan itu mengklaim mengoperasikan pabrik pengalengan buah dan sayuran terbesar di dunia pada 1909.

 

Produsen Truk Listrik AS Nikola Bangkrut

Sebelumnya, pembuat truk listrik asal Amerika Serikat, Nikola telah mengajukan perlindungan dari bangkrut Chapter 11 atau Bab 11 pada Rabu (19/2).

Melansir CNN Business, Kamis (20/2/2025) pengajuan itu menunjukkan, Nikola dan akan menjual semua atau sebagian besar asetnya, setelah bergulat dengan pengeluaran yang tinggi dan kesulitan untuk mengumpulkan keuntungan dalam beberapa kuartal terakhir.

Perkembangan ini mengakhiri perjalanan yang penuh tantangan yang mencakup banyak perubahan kepemimpinan, penjualan yang tidak menentu, dan nilai saham yang anjlok.

Nikola mengatakan bahwa mereka memutuskan untuk memulai proses penjualan asetnya untuk memaksimalkan nilai dan penutupan yang tertib.

Perusahaan akan melanjutkan beberapa operasi untuk truk di lapangan dan beberapa operasi pengisian bahan bakar hidrogen hingga akhir Maret 2025.

Dilaporkan, Nikola mencatatkan aset antara USD 500 juta dan USD 1 miliar, dan memperkirakan kewajibannya antara USD 1 miliar dan USD 10 miliar, menurut pengajuan pengadilan.

Berdiri Satu Dekade Lalu

Nikola yang berkantor pusat di Phoenix, Arizona didirikan lebih dari satu dekade lalu. Perusahaan ini mulai melantai di bursa pada Juni 2020 dan mengirimkan kendaraan pertamanya pada Desember tahun berikutnya.

Pada Oktober 2022, juri New York memvonis pendiri Nikola, Trevor Milton, atas tuduhan federal atas penipuan sekuritas dan penipuan transfer uang.

Jaksa di Kantor Kejaksaan AS di Distrik Selatan New York menuduh Milton membuat pernyataan palsu dan menyesatkan "hampir semua aspek bisnis" yang berkaitan dengan pengembangan truk bertenaga listrik dan hidrogen, serta menipu publik melalui media sosial dan wawancara podcast.

Kasus ini sebagian berkisar pada Nikola One, prototipe truk semi bertenaga hidrogen.

Sempat Genjot Produksi

Nikola sempat menggenjot produksi truk listrik berbahan bakar sel hidrogen pada 2024.

Namun, perusahaan tersebut kesulitan untuk mengumpulkan dana dan saldo kasnya menyusut karena terus mengalami kerugian ratusan ribu dolar untuk setiap kendaraan yang terjual.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6