Liputan6.com, Jakarta - Biaya pinjaman global jangka panjang di beberapa ekonomi terbesar mencapai titik tertinggi baru akibat kekhawatiran atas inflasi, tingkat utang pemerintah, dan biaya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) untuk jangka waktu lebih dari 30 tahun telah mencapai 5,33%, tertinggi sejak Juni 2007, sementara utang jangka panjang Inggris mencapai 5,85%, Selasa, 18 Agustus 2026. Peningkatan serupa juga terjadi di Jerman dan Jepang. Demikian mengutip BBC, Rabu (19/8/2026).
Suku bunga pada obligasi jenis ini dikenal sebagai imbal hasil (yield), dan dapat secara langsung memengaruhi biaya pinjaman yang dibayarkan konsumen untuk hipotek, pinjaman mobil, dan kartu kredit.
Advertisement
Kenaikan harga minyak adalah pendorong utama di balik lonjakan imbal hasil obligasi baru-baru ini karena investor khawatir inflasi dapat melonjak lagi. Jika itu terjadi, bank sentral dapat memilih untuk menaikkan suku bunga untuk mendinginkan inflasi.
Harga satu barel minyak mentah Brent patokan global untuk harga minyak melampaui US$ 90, menyusul meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.
Awal Mula Lonjakan Harga Minyak
Lonjakan beberapa waktu ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengebom Oman, sekutu AS, jika negara tersebut “menghalangi” pembicaraan dengan Iran untuk membuka kembali jalur air Selat Hormuz.
AS dan Oman masing-masing telah bernegosiasi secara terpisah dengan pemerintah Iran untuk membuka kembali jalur yang sangat vital bagi pasokan minyak global dan perdagangan lainnya.
Tertutupnya selat tersebut selama hampir enam bulan akibat perang AS-Israel dengan Iran telah menyebabkan gangguan pasokan minyak, sehingga harganya melonjak.
Lonjakan Harga Minyak Bakal Picu Kenaikan Harga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4477889/original/005926300_1687477254-panoramic-shot-oil-rigs-sea-with-beautiful-sunset.jpg)
Selain menaikkan harga bahan bakar kendaraan bermotor, tingginya harga minyak dunia dapat memicu kenaikan harga secara menyeluruh, karena perusahaan-perusahaan meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen, sehingga mendorong naiknya inflasi.
Ini terjadi karena minyak merupakan faktor kunci dalam bisnis, sebab barang-barang didistribusikan menggunakan truk dan van.
Kepada BBC, Analis Oxford Economics, John Canavan mengatakan, tingginya biaya pinjaman disebabkan oleh risiko inflasi akibat harga minyak yang naik, utang pemerintah, serta ketidakpastian mengenai efektivitas investasi besar-besaran di bidang AI.
Canavan mengatakan, hal ini dapat menyebabkan kenaikan suku bunga hipotek dan biaya pinjaman mobil bagi konsumen. Ia memperingatkan imbal hasil yang lebih tinggi berarti perusahaan harus membayar lebih untuk meminjam uang. Kemungkinan besar, biaya tersebut akan dibebankan kepada pelanggan.
"Hal ini menambah dampak inflasi secara keseluruhan," ujar dia.
Ia menambahkan, dalam jangka panjang risikonya adalah inflasi yang lebih tinggi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Investor obligasi biasanya menuntut imbal hasil yang lebih tinggi jika inflasi tinggi atau diperkirakan tinggi. Pemerintah dan perusahaan menjual obligasi atau surat utang demi mengumpulkan uang untuk pengeluaran, dan sebagai imbalannya, mereka membayar bunga.
Selain kekhawatiran inflasi, Canavan percaya telah terjadi “penolakan” di seluruh dunia dari investor obligasi terkait kebijakan keuangan dan rencana pengeluaran beberapa pemerintah.
Advertisement
Investor Menuntut Imbal Hasil Lebih Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4796664/original/075845200_1712438897-a-perry-XGr8jarX0gY-unsplash.jpg)
Posisi keuangan dan tingkat pinjaman Inggris telah mendorong Perdana Menteri Andy Burnham untuk meyakinkan pasar obligasi, ia berkomitmen pada batasan pinjaman pemerintah yang ada (aturan fiskal). Biaya pinjaman sedikit meningkat ketika ia mengambil alih kepemimpinan Partai Buruh dari Sir Keir Starmer pada musim panas ini.
Sebelum komitmen tersebut, para investor memperkirakan Burnham kemungkinan besar akan meningkatkan pinjaman publik Inggris yang sudah tinggi, terutama setelah komentar tahun lalu Inggris harus “melampaui masalah terlilit utang di pasar obligasi”.
Dikutip dari BBC, para ekonom di Capital Economics mengatakan dalam sebuah catatan kenaikan terbesar dalam biaya pinjaman jangka panjang terlihat di AS, Inggris, Prancis, Italia, dan Jepang, di mana prospek fiskalnya paling bermasalah, meski tingkatnya berbeda-beda.
"Ada alasan rasional bagi investor untuk menuntut imbal hasil yang lebih tinggi pada utang pemerintah jangka panjang: ketidakpastian geopolitik dan inflasi yang lebih besar, pertanyaan tentang kebijakan moneter AS, dan posisi fiskal yang tidak berkelanjutan,” ujar analis, meski menganggap situasi tersebut tidak mewakili “krisis pasar obligasi”.
Alasan Investor Minta Imbal Hasil Lebih Tinggi
Canavan mengatakan, dalam jangka panjang, biaya pinjaman di AS juga didorong oleh ‘laju rekor’ pinjaman perusahaan dalam beberapa minggu terakhir, sebagian besar untuk pengembangan dan pembangunan AI dan pusat data.”
Namun, dengan ketidakpastian mengenai ratusan miliar dolar ASyang diinvestasikan ke dalam AI serta potensi risikonya, investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi atas pinjaman yang diberikan.
"Tingkat imbal hasil tersebut membuat orang khawatir karena hal itu menandakan lingkungan yang lebih ketat dan akan lebih mahal untuk meminjam uang," ujar kepala investasi di Bokeh Capital Partners, Kim Forrest.
"Terutama dalam hal AI ini, waktu pengembalian modalnya tidak pasti. Hal ini menyebabkan kecemasan pada investor," ia menambahkan.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285001/original/066553900_1673179649-Target_Sektor_Wisata_2023-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327521/original/042881300_1787113384-Screenshot_2026-08-19_110246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5280806/original/086604100_1752282029-AP25189733334491.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300340/original/041793800_1784347501-aceh4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324256/original/098418000_1786696376-prabowo_Nota_Keuangan_4.jpg)