Rupiah Melemah ke 17.966 Setelah Rilis Inflasi September 2026

Tekanan terhadap rupiah dipicu rilis inflasi September 2026 yang mendekati batas atas target BI.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 20:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lesu pada penutupan perdagangan Kamis, (1/10/2026). Pelemahan rupiah terhadap dolar AS ini didorong rilis inflasi Indonesia yang mencapai 3,28% hingga September 2026.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 72 poin atau 0,40% menjadi 17.966 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.894 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level 17.937 per dolar AS dari sebelumnya 17.877 per dolar AS.

"Rupiah hari ini melemah dipengaruhi oleh domestik pengumuman inflasi September yang mencapai 3,28% level mendekati batas atas target BI (Bank Indonesia) 2,5% plus minus 1%,” kata Analis Bank Woori Saudara Rully Nova dikutip dari Antara.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026.

Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi tercatat sebesar 2,17% dan inflasi secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,30%.

Melihat sentimen global, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sudah menyentuh 5,3% imbas kekhawatiran kenaikan bunga Federal Reserve (The Fed) di bulan ini.

“Survei menunjukkan 36 persen yakin ada dua kali kenaikan lagi sampai dengan akhir tahun, kenaikan masing-masing 25 bps (basis points). Yield obligasi pemerintah AS berpotensi naik lagi selain expectations kenaikan bunga juga karena pertumbuhan ekonomi AS masih kuat,” tutur dia.

Rupiah Kembali Melemah Tertekan Data Tenaga Kerja AS

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat terkoreksi pada pembukaan sesi perdagangan Kamis (1/10/2026). Mata uang Garuda melemah 21 poin atau sekitar 0,12% ke posisi Rp 17.915 per dolar AS, bergeser dari level penutupan sebelumnya di angka Rp 17.894 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh rilis data Automatic Data Processing (ADP) Employment Change AS periode September 2026 yang menanjak hingga 90 ribu dari angka 38 ribu pada bulan sebelumnya.

"Data tersebut menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja AS, sehingga turut mendukung permintaan terhadap dolar AS," ujar dia dikutip Antara, Kamis (1/10/2026).

Di sisi lain, laporan indikator inflasi acuan Bank Sentral AS (The Fed), yakni Personal Consumption Expenditures (PCE), justru berada di bawah estimasi pasar. PCE Price Index bertahan pada level 3,4% year on year (yoy) di bulan Agustus 2026, lebih rendah dari konsensus pasar sebesar 3,7% yoy.

Kondisi serupa terjadi pada Core PCE Price Index yang juga stagnan di angka 3,0% yoy, berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,3% yoy.

Dari dalam negeri, pergerakan rupiah sebenarnya mendapat angin segar dari langkah Bank Indonesia (BI) yang berkomitmen menjaga stabilitas kurs.

"Pernyataan tersebut memberikan reassurance kepada investor terkait prospek stabilitas rupiah," ujar dia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6