AS Beri Sanksi Bank Mesir di Uni Emirat Arab Terkait Iran

Berdasarkan Departemen Keuangan AS, bank tersebut memproses transaksi sekitar 100 perusahaan yang berpeluang jadi bagian jaringan Iran.

Diterbitkan 29 Agustus 2026, 20:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Departemen Keuangan AS (Treasury) menjatuhkan sanksi terhadap Bank Mesir cabang Uni Emirat Arab (UEA) atas hubungan finansialnya dengan Iran, Jumat, 28 Agustus 2026.

Departemen Keuangan AS berniat mencabut akses Banque Misr UEA ke lembaga keuangan AS,demikian dilansir dari CNBC, Sabtu (29/8/2026).

Banque Misr UEA memproses sekitar US$ 1,8 miliar atau Rp 31,96 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.760) selama dua tahun terakhir untuk kurang lebih 100 perusahaan yang berpotensi menjadi bagian dari jaringan perbankan bayangan (shadow banking) Iran, menurut Departemen Keuangan AS.

Tindakan ini menyusul empat hari setelah Menteri Keuangan Scott Bessent meluncurkan "Operation Economic Outcast", sebuah kampanye sanksi untuk memutus seluruh hubungan ekonomi Iran di dunia.

Sebelumnya, Senin lalu, Bessent sudah mengatakan, pihaknya akan mengumumkan kabar besar mengenai "sebuah lembaga keuangan" yang akan dijatuhi sanksi akhir pekan ini.

Presiden AS Donald Trump mendeskripsikan kampanye sanksi terhadap Iran ini setara Economic D-Day—invasi besar-besaran sekutu Barat ke wilayah pendudukan Nazi di Eropa selama Perang Dunia II. Namun, tindakan Treasury terhadap Republik Islam Iran sejauh ini masih tergolong moderat dalam cakupannya.

Pada Jumat, Treasury juga memasukkan General Manager Bank Melli Iran cabang Dubai, Reza Mohammad Taeedi, warga negara Iran, ke dalam daftar hitam. Selain itu, Treasury juga menyanksi entitas Hong Kong, Kameng Trading Ltd., atas dugaan bertindak sebagai perusahaan boneka (front company) yang mencuci uang untuk rumah penukaran (exchange house) Iran.

 

 

AS Targetkan Negara yang Bertransaksi dengan Iran

Sementara itu, ekspor minyak mentah merupakan sumber pendapatan penting bagi Iran, dengan China sebagai pembeli utamanya. Blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz telah memangkas ekspor besar-besaran, meski masih ada kapal tanker Asia yang bermuatan jutaan barel minyak Iran yang menunggu dibongkar-muatan di China, menurut data Kpler.

Ketika ditanya terkait sanksi terhadap lembaga-lembaga China Senin lalu, Bessent mengatakan bahwa tidak ada pihak yang berada di luar jangkauan sanksi AS.

"Jika mereka memfasilitasi transaksi dan menjadi bagian dari ekosistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, menjadi represi, mereka akan menjadi target," kata Bessent.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6