Ketemu Gibran, Ini Oleh-Oleh Peserta Magang Kenshusei

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Kenshusei Indonesia, Pranyoto Widodo menuturkan, pengalaman kerja di Jepang menjadi sumber modal ketika kembali ke Indonesia.

Diterbitkan 29 Agustus 2026, 10:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Alumni pemagangan Jepang membawa “oleh-oleh” berupa etos kerja, keterampilan, dan pengalaman industri untuk mendorong produktivitas ekonomi Indonesia yang dinilai masih membutuhkan penguatan. Ketua Umum Ikatan Pengusaha Kenshusei Indonesia (Ikapeksi) Pranyoto Widodo mengatakan pengalaman bekerja di Jepang tidak seharusnya berhenti sebagai pengalaman individu, tetapi perlu dikonversi menjadi usaha, produktivitas, dan lapangan kerja setelah alumni kembali ke Indonesia.

“Yang kami bawa dari Jepang bukan hanya penghasilan, tetapi juga etos kerja dan pengalaman. Ketika kembali ke Indonesia, pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk membangun usaha, meningkatkan produktivitas dan membuka lapangan pekerjaan,” ujar Pranyoto dalam audiensi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Pranyoto mengatakan para Kenshusei memperoleh pengalaman mengenai kedisiplinan, produktivitas, tanggung jawab, budaya keselamatan, dan pola kerja sistematis selama menjalani pemagangan di Jepang.

Menurut dia, pengalaman tersebut dapat menjadi modal sumber daya manusia untuk mendorong aktivitas ekonomi ketika para pekerja kembali ke Tanah Air.

“Alumni Kenshusei memiliki potensi menjadi jembatan antara kebutuhan sumber daya manusia Jepang dengan pembangunan ekonomi Indonesia,” paparnya.

Pranyoto mengatakan pendapatan yang diperoleh pekerja Indonesia di Jepang juga dapat menjadi sumber modal ekonomi bagi keluarga dan usaha ketika mereka kembali ke Indonesia.

Penghasilan tersebut, kata dia, tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk pendidikan anak, pembangunan rumah, tabungan, dan modal usaha.

 

Perluas Akses Pemagangan

IkapeksiI mendorong pemerintah memperluas akses pemagangan karena program tersebut dapat menjadi jalur peningkatan keterampilan sekaligus memperkuat pasokan tenaga kerja terampil.

Bagi dia, kemudahan pembiayaan menjadi penting karena biaya awal pemagangan dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan akses masyarakat terhadap kesempatan kerja di Jepang.

Pranyoto mengatakan organisasinya tidak ingin program pemagangan hanya menghasilkan tenaga kerja untuk pasar Jepang, tetapi juga menghasilkan pelaku usaha dan tenaga produktif bagi Indonesia.

“Salah satu program yang dijalankan adalah SMART IKAPEKSI atau Seleksi Magang Jepang Rekrutmen Terpadu. Program tersebut telah dilaksanakan di sejumlah daerah, antara lain Grobogan, Ponorogo dan Cilacap,” paparnya.

Ia juga membangun komunikasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), IM Japan, Japan Foundation, JICA, dan Kedutaan Besar Jepang untuk memperkuat ekosistem pemagangan.

 

Jadi Oleh-Oleh Ekonomi

Pranyoto menilai pengalaman Kenshusei dapat menjadi “oleh-oleh” ekonomi apabila pemerintah dan dunia usaha mampu mengarahkan keterampilan, jaringan, serta modal alumni menjadi kegiatan produktif di Indonesia.

“Kami ingin pengalaman Kenshusei di Jepang tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Kami ingin pengalaman itu kembali ke Indonesia menjadi produktivitas, menjadi usaha, menjadi lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” tegas Pranyoto.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meminta kementerian terkait memperhatikan masukan tersebut dan menghubungkannya dengan program pemerintah.

“Tolong ini jadi perhatian dan disampaikan ke kementerian terkait, ini penting sekali,” kata Gibran kepada stafnya.

Gibran juga mendorong kemudahan pembiayaan bagi peserta pemagangan agar semakin banyak anak Indonesia memperoleh kesempatan meningkatkan keterampilan dan masuk ke dunia kerja.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6