Sukses

Harga Minyak Tertekan di Tengah Kekhawatiran akan Kelebihan Pasokan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta). Hal ini lantaran harapan bahwa produsen terbesar dunia akan setuju untuk memangkas produksi yang didorong oleh melimpahnya minyak mentah dan ancaman resesi global yang lebih dalam dari perkiraan.

Dikutip dari CNBC, Rabu (8/4/2020), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 9,39 persen atau USD 2,45, menjadi USD 23,63 per barel. Ini menjadi posisi terendah di sepanjang hari.

Sementara harga minyak mentah Brent turun 3,57 persen menjadi USD 31,87 per barel. Pada Senin pekan ini, WTI turun 8 persen, sementara Brent turun 3 persen.

"Pasar mengindikasikan bahwa mereka menginginkan kepastian lebih lanjut tentang apakah Rusia dan Saudi akan mencapai kesepakatan untuk membatasi pasokan," kata Gene McGillian, Wakil Presiden Riset Pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

"Anda juga melihat tekanan datang dari fakta bahwa pasar mengharapkan satu minggu lagi dari peningkatan inventaris yang cukup besar di AS," lanjut dia.

Pemasok utama minyak mentah global, termasuk Arab Saudi dan Rusia, berencana bertemu pada Kamis pekan ini untuk membahas pengurangan produksi.

Tetapi beberapa menteri energi mengatakan mereka akan melakukannya hanya jika Amerika Serikat bergabung dengan pemotongannya sendiri, menurut sebuah sumber kepada Reuters.

Pada Selasa, Departemen Energi AS, mencatat perkiraan bulanan baru, menunjukkan bahwa produksi minyak sudah turun tanpa keterlibatan pemerintah.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Batasi Produksi

Organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, akan membatasi produksinya dengan tergantung pada volume yang ingin dipotong oleh para produsen seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil, kata sebuah sumber OPEC pada Selasa .

Harga cenderung tetap rendah karena resesi global, yang menurut survei terbaru para ekonom dalam jajak pendapat Reuters akan lebih serius daripada yang diperkirakan beberapa minggu lalu.

OPEC+, yang termasuk Rusia, telah membatasi produksi dalam beberapa tahun terakhir bahkan ketika produsen AS meningkatkan ouptut mereka untuk menjadikan negara itu produsen minyak mentah terbesar di dunia.

Presiden AS, Donald Trump pada Senin kemarin mengatakan OPEC tidak memintanya untuk mendorong produsen minyak dalam negeri untuk memotong produksinya untuk menopang harga. Dia juga mengatakan output AS sudah menurun dalam menanggapi jatuhnya harga.

Tindakan terkoordinasi oleh produsen minyak AS biasanya akan menjadi pelanggaran undang-undang antimonopoli.

Permintaan minyak di seluruh dunia telah turun sebanyak 30 persen tahun ini, bertepatan dengan langkah-langkah Arab Saudi dan Rusia untuk membanjiri pasar dengan pasokan tambahan setelah kesepakatan produksi sebelumnya berantakan.

“Dengan kelebihan pasokan 28 juta barel per hari di pasar minyak pada bulan April dan 21 juta barel per hari pada bulan Mei, pengurangan produksi terkoordinasi global yang benar-benar dibutuhkan mungkin terlalu besar untuk diterima oleh produsen; mungkin dua kali lebih besar dari angka yang dibicarakan, "kata Bjornar Tonhaugen dari Rystad Energy.