OPEC+ Sepakat Dongkrak Produksi Minyak

Langkah OPEC+ meningkatkan produksi di tengah produksi minyak mulai pulih seiring upaya Amerika Serikat bantu UEA dan negara OPEC lainnya ekspor minyak.

Diterbitkan 05 Juli 2026, 20:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - OPEC+ menyetujui kenaikan produksi lebih lanjut terkait target produksi mulai Agustus 2026. OPEC+ menambah pasokan global pada saat harga minyak turun di tengah pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap untuk ekspor minyak.

Mengutip CNBC, Minggu (5/7/2026), kelompok produsen minyak itu menyetujui meningkatkan kuota sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus 2026, di atas peningkatan serupa untuk Juni dan Juli.

Tujuh anggota inti OPEC+, yang terdiri dari OPEC dan produsen sekutu termasuk Rusia, telah menaikkan kuota produksi dari April-Juli hampir 800.000 barel per hari.

Namun, peningkatan itu sebagian besar tetap di atas kertas karena perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran, yang menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal tanker bagi beberapa anggota OPEC+ terpenting, termasuk Arab Saudi, Kuwait dan Irak.

Produksi Mulai Pulih

Produksi OPEC+ turun menjadi 33,13 juta barel per hari pada Mei, menurut data OPEC dari 42,77 juta barel per hari pada Februari.

Produksi mulai pulih pada Juni berkat upaya Amerika Serikat (AS) untuk membantu Uni Emirat Arab (UEA) dan negara-negara OPEC+ lainnya mengekspor lebih banyak minyak, tetapi masih di bawah level sebelum perang.

Meskipun gangguan pasokan terus berlanjut, harga minyak telah kembali ke level sebelum perang, tertekan oleh impor China yang lebih rendah, ekspor yang lebih tinggi dari produsen nonTimur Tengah, dan pelepasan stok strategis global yang dikoordinasikan oleh Badan Energi Internasional.

"Kelompok tujuh negara terus mengurangi pemotongan produksi mereka seperti yang diperkirakan secara luas,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.

“Fokus jangka pendek akan tetap pada berapa banyak kapal tanker yang akan berhasil melewati Selat Hormuz dan seberapa cepat permintaan dan impor minyak mentah China pulih,” ia menambahkan.

 

 

Pasokan Bakal Kembali Normal

Nota kesepahaman antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang juga telah membantu meyakinkan pelaku pasar, pasokan pada akhirnya akan kembali normal.

Harga minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati US$ 72 per barel pada Jumat, turun dari puncak baru-baru ini lebih dari US$ 120 per barel dan kembali ke tingkat yang diperdagangkan tepat sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

Selain menyepakati target produksi, OPEC+ juga menghadapi tantangan lain setelah Uni Emirat Arab meninggalkan kelompok tersebut dan Irak memberi sinyal mereka menginginkan kuota yang lebih tinggi.

OPEC+ mencakup 21 anggota, termasuk Iran, tetapi dalam beberapa tahun terakhir hanya tujuh negara, dan UEA,  yang terlibat dalam manajemen produksi bulanan.

Ketujuh produsen tersebut, Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, meningkatkan produksi sebagai bagian dari pengurangan bertahap pasokan sebesar 1,65 juta barel per hari yang disepakati pada 2023, ketika kelompok tersebut masih termasuk UEA.

 

Langkah OPEC

UEA meninggalkan aliansi tersebut pada akhir April untuk menyelaraskan kapasitasnya lebih dekat dengan produksinya, bebas dari pembatasan produksi yang diberlakukan oleh kelompok tersebut.

Mulai Agustus, dengan mempertimbangkan keluarnya UEA pada 1 Mei, ketujuh anggota inti tersebut masih akan memiliki sekitar 379.000 barel per hari dari pengurangan awal untuk dikembalikan ke pasar, menurut perhitungan Reuters.

Dengan peningkatan pada Agustus yang telah diputuskan, OPEC akan sepenuhnya membatalkan pengurangan 2023 jika melakukan satu kenaikan lagi dengan jumlah yang hampir sama untuk September pada pertemuan mereka berikutnya pada 2 Agustus.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6