Amerika Serikat Bakal Investasi Rp 53,40 Triliun di Proyek Mineral, Ini Tujuannya

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuturkan, mineral penting sebagai bahan mentah kekuatan AS

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 22:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan investasi US$ 3 miliar atau Rp 53,40 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800) dalam proyek mineral dan baterai. Hal ini sebagai bagian penting dari upaya meningkatkan produksi dalam negeri dan meningkatkan keamanan nasional dan kebijakan industri.

Demikian disampaikan Presiden AS Donald Trump kepada lebih dari 200 eksekutif pertambangan, pendidik, investor dan sesama politikus saat pertemuan meja bundar di Departemen Luar Negeri pada Jumat, 7 Agustus 2026 dikutip dari CNBC, Sabtu (8/8/2026). Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendukung industri pertambangan yang menurut Trump belum mendapatkan cukup perhatian dari Washington dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami mengklaim kembali posisi Amerika Serikat yang layak sebagai negara adidaya mineral dunia,” ujar Trump.

Dia mengumumkan sejumlah investasi dalam pidatonya, termasuk pinjaman bersyarat sebesar US$ 1,4 miliar atau Rp 24,92 triliun dari Kantor Modal Strategis Departemen Pertahanan atau the Defense Department’s Office of Strategic Capital untuk Sila Nanotechnologies (OSC) , yang membuat suku cadang baterai litium-ion.

OSC juga memberikan pinjaman bersyarat sebesar US$ 400 juta atau Rp 7,12 triliun kepada penambang skandium Sunrise Energy Metals SRL.AX dan pinjaman bersyarat sebesar US$ 150 juta atau Rp 2,67 triliun kepada pengembang magnet Niron Magnetics.

Bank Ekspor-Impor AS akan meminjamkan US$ 58 juta atau Rp 1,03 triliun kepada Westwater Resources, Global Advanced Metals, dan 5E Advanced Materials, yang dilaporkan Reuters sebelumnya pada Jumat.

"Mineral penting adalah bahan mentah kekuatan Amerika yang menggerakkan segalanya mulai dari persenjataan canggih hingga mobil, dan kami ingin produk-produk penting ini ditambang, dimurnikan, dan dibuat di sini, di AS,” kata Trump.

 Menteri Dalam Negeri Doug Burgum, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan pejabat Dewan Keamanan Nasional David Copley menghadiri pengumuman tersebut.

 

 

Pemakaian Mineral

Stok senjata mendorong permintaan mineral. Gedung Putih membutuhkan mineral penting untuk mengisi kembali persediaan senjata yang habis selama konflik Iran dan mengurangi ketergantungan AS pada rantai pasokan China.

Pasokan mineral termasuk tanah jarang, tungsten, germanium dan skandium sangat penting untuk pembuatan rudal berpemandu presisi, pesawat tempur, kendaraan lapis baja, sensor inframerah dan sistem senjata canggih lainnya, menurut pejabat Pentagon dan perusahaan pertahanan.

Sekolah pertambangan menerima tambahan dana

Departemen Energi pada Jumat menjadi tuan rumah bagi perwakilan dari 14 sekolah pertambangan terakreditasi AS untuk mempromosikan karir pertambangan dan mendorong lebih banyak siswa untuk memasuki bidang ini.

Departemen ini mengumumkan hibah sebesar US$ 100 juta atau Rp 1,78 triliun untuk membantu meningkatkan program pendidikan dan menetapkan tujuan untuk menggandakan jumlah lulusan bidang pertambangan di universitas-universitas di negara tersebut dalam waktu dua tahun.

“Kita perlu melakukan beberapa perubahan sistemik mengenai bagaimana kita sebagai sebuah bangsa ingin menawarkan kesempatan kepada siswa kita yang paling cerdas untuk berpartisipasi dalam industri ini,” kata Asisten Menteri Energi Audrey Robertson.

Pentagon juga mengatakan akan mendanai proyek senilai US$ 80 juta atau Rp 1,42 triliun di tiga sekolah pertambangan AS.

Para pejabat telah menunjuk pada jaringan universitas pertambangan China yang luas sebagai keunggulan utama dalam dominasi produksi mineral global.

 

Langkah Trump

Sejak kembali menjabat, Trump telah meluncurkan cadangan mineral strategis senilai US$ 12 miliar atau Rp 213,61 triliun, mendukung investasi ekuitas di perusahaan-perusahaan yang mengembangkan tambang dan fasilitas pemrosesan AS, dan berupaya membatasi ketergantungan kontraktor pertahanan pada pasokan dari China.

Pemerintah mengatakan dukungan pemerintah diperlukan untuk melawan investasi China selama puluhan tahun yang menjadikan Beijing dominan dalam penambangan dan pengolahan banyak mineral strategis.

Pemerintah Australia pada Sabtu menyambut baik pinjaman pemerintahan Trump kepada Sunrise Energy Metals, yang sedang mengembangkan tambang skandium di negara bagian New South Wales.

“Proyek Skandium Sunrise menampung sumber daya skandium terbesar dan bermutu tertinggi di dunia, yang memiliki beragam aplikasi penting di bidang kedirgantaraan, pertahanan, dan energi bersih,” kata Menteri Sumber Daya Madeleine King dalam sebuah pernyataan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6