ABK Teridentifikasi, Basarnas Ungkap Kelanjutan Pencarian 5 Jurnalis

Pencarian lima jurnalis dan kru Arupadhatu 1 tetap dipantau, tetapi tidak lagi melalui operasi khusus dengan seluruh kekuatan.

Diterbitkan 23 September 2026, 22:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Operasi SAR untuk jurnalis dan kru Arupadhatu 1 tidak dibuka kembali setelah identifikasi Surakman.
  • Pencarian dialihkan ke operasi kesiapsiagaan atau rutin, bukan dihentikan sepenuhnya.
  • Pembukaan kembali operasi khusus memerlukan informasi signifikan dan terverifikasi agar efektif.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan operasi SAR untuk mencari lima jurnalis dan kru kapal Arupadhatu 1 tidak kembali dibuka setelah salah satu anak buah kapal (ABK), Surakman, berhasil diidentifikasi.

Syafii menegaskan, pencarian tersebut tidak dihentikan sepenuhnya, melainkan dialihkan menjadi operasi kesiapsiagaan atau operasi rutin yang disesuaikan dengan sektor masing-masing.

"Jadi bukan operasi tidak dilaksanakan. Jadi operasi tidak dibuka secara khusus lagi, artinya menghadirkan seluruh kekuatan untuk melaksanakan operasi, itu enggak. Tapi operasi dialihkan ke operasi kesiapsiagaan atau operasi rutin yang diarahkan kepada wilayah-wilayah tertentu sesuai sektornya masing-masing," kata Syafii saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (23/9/2026).

Dalam skema tersebut, Basarnas tetap menyebarluaskan informasi terkait keberadaan para korban kepada nelayan, warga, serta kapal yang beraktivitas di perairan. Informasi itu juga disampaikan melalui stasiun radio pelayaran sebagai bagian dari pemantauan rutin.

Namun, langkah tersebut tidak dilakukan dengan membuka kembali operasi SAR khusus yang melibatkan seluruh kekuatan seperti pada operasi sebelumnya.

"Jadi tidak sampai operasi khusus kita buka kembali dengan menghadirkan seluruh potensi, jadi tidak begitu," tuturnya.

 

Temuan Jenazah

Terkait penemuan jenazah pria yang kemudian teridentifikasi sebagai Surakman, Syafii mengatakan temuan tersebut bukan merupakan temuan baru, melainkan hasil pengembangan dari informasi atau temuan sebelumnya. Terlebih, jenazah tersebut saat itu sudah sempat dimakamkan.

Meski begitu, hasil temuan tersebut tetap menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kemungkinan dibukanya kembali operasi pencarian. Menurut Syafii, operasi dapat kembali dilaksanakan apabila terdapat peluang ditemukannya korban maupun informasi signifikan atau masukan dari unsur terkait.

Terlebih, apabila korban memang terbawa arus laut dalam kurun waktu tertentu, kemungkinan lokasi korban ditemukan perlu dikaji kembali.

Hal tersebut tentunya harus didukung sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Salah satunya, informasi dari DVI Mabes Polri terkait kondisi struktur tubuh setelah berada di laut dalam kurun waktu tertentu.

Informasi tersebut diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kemungkinan lokasi korban ditemukan. Sebab, kata Syafii, tanpa adanya informasi yang mendukung, membuka kembali operasi pencarian dinilai berpotensi tidak efektif.

"Sehingga kalau kita kembangkan dalam operasi gabungan lagi juga artinya kalau dari hematnya Basarnas mungkin tidak efektif," jelas dia.

"Karena itu sebenarnya operasi tidak dihentikan kemarin, ini operasi dialihkan ke kesiapsiagaan," sambungnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6