Sukses

Perang Dagang Tak Selesai, Dunia Dihantui Resesi

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini, ekonomi dunia tengah memasuki masa genting. Ketidakpastian akibat adanya perang dagang Amerika Serikat (AS) - China dan Jepang - Korea, ditambah dengan urusan Brexit yang tak kunjung selesai membuat seluruh pihak waspada.

Pemerintah sampai berhati-hati dalam menentukan target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 karena tekanan ekonomi dunia. Apalagi, di dua kuartal 2019, Indonesia masih belum menyentuh target pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,2 persen.

Pada kuartal I, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5,07 persen yoy. Sementara di kuartal II, angkanya turun menjadi 5,05 persen yoy.

Beberapa lembaga keuangan memberikan proyeksinya mengenai kemungkinan terjadinya resesi ekonomi di masa yang akan datang.

2 dari 3 halaman

Resesi Ekonomi Berpotensi Meningkat Hingga 50 Persen

Analis dari Moody's Analytics, Steven G. Cocrane dan Katrina Ell menyatakan resesi ekonomi berpotensi meningkat imbas perang dagang yang tak kunjung usai.

"Perang dagang telah bereskalasi melampaui prediksi. Peluang terjadinya resesi global dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan mendatang meningkat menjadi 50 persen," ujar mereka, dilansir dari The Star, Kamis (22/08/2019).

Selain itu, Goldman Sachs Group juga menyatakan hal serupa.

"Kami telah meningkatkan perkiraan kami dari perang dagang (adanya resesi global)," ungkap pihak Goldman Sachs dalam catatannya kepada para nasabah.

Sementara, chief economist Morgan Stanley, Chetan Ahya, mengungkapkan jika risiko terjadinya resesi global meninggi dan akan semakin naik.

"Bahkan ketika kami merevisi proyeksi pertumbuhan menjadi lebih rendah, kami terus menyoroti bahwa resiko tetap condong ke arah sana (resesi global). Dalam tiga kuartal, kemungkinan dunia akan memasuki resesi global," tulisnya dalam sebuah catatan.

3 dari 3 halaman

Perang Dagang AS - China

Selama satu tahun terakhir, AS berselisih dengan China dalam urusan tarif, teknologi, kekayaan intelektual hingga keamanan siber.

Meski sempat mereda, ketegangan kembali terjadi saat Presiden AS Donald Trump menyatakan bakal mengenakan tarif tambahan 10 persen pada produk impor China senilai USD 300 miliar mulai 1 September mendatang.

Akibatnya, harga sebagian barang-barang konsumsi di AS naik sehingga menurunkan belanja konsumen. Buntutnya, pertumbuhan ekonomi AS melemah.

Ditambah, Trump menuduh China sebagai manipulator karena mata uang China, yuan, mengalami pelemahan terus menerus. Alhasil, kedua negara semakin otot-ototan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Indonesia Tak Perlu Khawatirkan Ancaman Resesi
Artikel Selanjutnya
Dunia Tak Jadi Resesi di 2020