Sukses

Empat Lokasi Ini Bakal Jadi Fokus Investasi Hong Kong dan China di RI

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Hong Kong Trade Development Council (HKTDC). Kerja sama tersebut dalam rangka mempromosikan investasi Indonesia di sektor perdagangan dan pariwisata.

"Kita mau memanfaatkan momentum yang kuat di mana dalam tujuh tahun terakhir pertumbuhan investasi dari Hong Kong dan China naik sangat tajam," kata Thomas, di Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Thomas mengatakan, investasi dari negara tersebut akan difokuskan di empat wilayah besar di Indonesia.

"Ini yang sedang dikembangkan jadi empat titik fokus kerja sama belt of road di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Bali yang sedang dikembangkan antara kedua pemerintahan," ujarnya.

Thomas mengungkapkan, hingga akhir 2017, investasi dari Hong Kong di Indonesia menempati urutan keempat di Indonesia setelah Singapura, Jepang, dan China.

Selain itu, kerja sama dengan Hong Kong di bidang investasi dinilai lebih menjanjikan sejak dibukanya jalur sutra perdagangan (belt one road).

Thomas menjelaskan, di abad ke 21 ini, Hong Kong memainkan peranan yang sangat penting dalam pengembangan infrastruktur. Terlebih saat ini, Hong Kong menjasi sebuah sentra internasional untuk jasa profesional seperti keuangan, pendanaan, funding, kemudian adminsitrasi, desain, engineering, project mangement.

"Ini semua jasa-jasa profesional yang dibutuhkan untuk menyiapkan dan menjalankan proyek infrastruktur di bawah naungan belt on road," ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, investasi Hong Kong dan China yang ada di Indonesia mencapai USD 2 milliar per tahun. Ditargetkan angka tersebut bisa tumbuh hingga dua kali lipat dalam tujuh tahun mendatang.

 

Reporter : Yayu Agustini Rahayu Achmud

Sumber : Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Kepala BKPM: Rupiah Tersungkur, Saatnya Pacu Ekspor RI

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong menilai, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini dapat mendorong pergerakan aktivitas ekonomi di beberapa sektor, baik investasi maupun ekspor. Ekspor dinilai penting sebagai pemasukan devisa negara.

“Tekanan terhadap nilai tukar membuat sektor-sektor yang berorientasi ekspor jadi semakin penting, karena pasar akan melihat cadangan devisa dan tren pertumbuhan (investasi) kita,” ujarnya di Kantor BKPM, pada 6 Maret 2018. 

Thomas Lembong menambahkan, tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, termasuk rupiah, akan sangat potensial untuk memprioritaskan investasi pada berbagai sektor yang berorientasi ekspor.

Lebih lanjut kata mantan Menteri Perdagangan itu, sektor jasa seperti pariwisata pun sama vitalnya dengan ekspor sebagai penyumbang devisa negara saat ini.

Mengutip data dari Kementerian Pariwisata, sektor jasa sekarang ini sudah sama pentingnya dengan pengolahan minyak sawit yang merupakan sumber devisa nomor satu Indonesia.

“Jadi memang menjadi mendesak untuk timbun amunisi dalam bentuk devisa. Kita harus genjot sumber-sumber penghasilan devisa seperti pariwisata, dan investasi di sektor yang berorientasi ekspor sebagai penyumbang devisa,” pungkas Thomas Lembong.