Eva Celia soal Karakternya di Film Laut Bercerita, Bersuara lewat Karya saat Semua Dibungkam

Eva Celia langsung menyukai karakter Anjani dalam film Laut Bercerita.

Diterbitkan 22 Oktober 2026, 08:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Karakter bernama Anjani yang Eva Celia perankan dalam film Laut Bercerita memiliki keunikan tersendiri. Keunikan ini disebut langsung oleh sang aktris pada Selasa, (20/10/2026) dalam konferensi pers film Laut Bercerita yang dihelat di kawasan Jakarta.

Eva Celia mengaku tak butuh waktu lama untuk suka dengan karakter Anjani di novel. Ia pun bersyukur karena bisa terlibat dalam film yang penting baginya.

“Sebuah kehormatan yang sangat besar bisa ikut bergabung dalam film yang sangat penting ini. Waktu aku baca novelnya pertama kali beberapa tahun yang lalu, aku langsung jatuh cinta sama Anjani,” ucap Eva Celia.

Selama memerankan Anjani, Eva banyak belajar mengenai bentuk-bentuk perlawanan yang tak terbatas.

“Mungkin dari Anjani aku belajar bentuk perlawanan itu sebenarnya macam-macam, enggak selalu konfrontatif gitu, tapi bisa melalui apa yang kita ciptakan melalui karya gitu,” ungkap sang aktris.

Menurutnya, sebuah karya bisa tercipta hanya berawal dari keinginan sederhana untuk berekspresi. “Dan karya memang bisa lahir dari keinginan kita untuk menciptakan. Karena kita memang ingin mengekspresikan diri,” lanjut Eva Celia.

 

Karya Tak Mudah Dihancurkan

Tak hanya itu, aktris berbakat ini menyadari bahwa segala keadaan yang terjadi dalam kehidupan bisa dituangkan ke dalam suatu karya layaknya Anjani yang melihat keadaan sekitarnya di film itu.

“Tapi nggak bisa dipungkiri ketika kita hidup di tengah situasi sosial atau politik tertentu, pasti apa yang kita tangkap sedikit banyak akan masuk ke karya itu, gitu. Apalagi Anjani sebagai seniman dan perempuan pasti punya sensitivitas yang sangat tinggi dalam melihat dunia di sekitarnya gitu. Dan buat aku, ketika kata-kata dibungkam, ketika diskusi dilarang, karya itu menjadi bahasa gerilya yang nggak mudah dihancurkan,” ujar Eva Celia

 

Seni Jadi Medium Anjani Menuangkan Cinta dan Perlawanan

Lebih lanjut, Eva menjelaskan bahwa Anjani menggunakan seni untuk menunjukkan perlawanannya ketika orang-orang yang ia kasihi dipaksa untuk hilang dari pandangan dan pikiran banyak orang.

“Karya bisa memberikan ruang bagi pengalaman-pengalaman yang berusaha untuk dibungkam. Dan dalam konteks Anjani, aku pikir karya seninya bukan hanya ekspresi personal, tapi juga bentuk dia mendokumentasikan cinta dan perlawanan cara dia untuk mencatat wajah-wajah dan nama-nama yang ingin dilupakan itu direfleksikan lewat karya seninya gitu ya,” pungkas aktris itu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Ceritanya berfokus pada karakter Biru Laut (Reza Rahadian) atau yang biasa dipanggil Laut, yakni seorang mahasiswa yang aktif dalam kelompok bernama Winatra yang menentang segala bentuk kezaliman pemerintah. Tahun 1990-an adalah latar yang diambil untuk cerita pada film ini. Banyak sekali pembatasan bagi masyarakat yang digambarkan, mulai dari pembatasan berpendapat hingga pergerakan mahasiswa yang terus diawasi. Masyarakat pun sangat tidak mudah untuk melawan atas ketidakadilan yang mereka dapat. Biru dan teman-teman aktivisnya mengerahkan segala kemampuan mereka untuk melakukan aksi protes di tengah-tengah keadaan yang berbahaya. Seakan tidak direstui, setiap aksi mereka terus-menerus gagal. Namun semangat mereka tak pernah padam, Winatra terus memperjuangkan keadilan yang sudah seharusnya menjadi hak bangsa. Bergerak secara sembunyi-sembunyi seperti yang dilakukan Laut dan teman-teman Winatra bukanlah hal yang mudah dilakukan. Mereka tahu betul perjuangan mereka tak singkat dan memiliki konsekuensi serius. Hingga akhirnya Laut dan teman-teman yang berjuang bersama hilang tanpa meninggalkan jejak. Keluarga dan orang terdekat yang ditinggalkan terus menggali informasi keberadaan mereka, namun tak kunjung membuahkan hasil. Akankah mereka menemukan petunjuk yang pasti dan Apa yang terjadi dengan Laut? Saksikan Laut Bercerita pada 29 Oktober mendatang.

Halaman
Show All
Afradhiya N. R, Ratnaning AsihTim Redaksi
Copy Link
Batalkan