Lembaga Perfilman Asia Bahas Peluang Produksi Bersama di Jakarta Film Summit 2026

Pembahasan mengenai peluang produksi film bersama berlangsung di Jakarta Film Summit 2026. Baca selengkapnya di sini...

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah lembaga perfilman Asia membahas peluang memperkuat kerja sama industri film lintas negara dalam Jakarta Film Summit (JFS) 2026. Melalui sesi bersama Asian Film Alliance Network (AFAN), para perwakilan membicarakan dukungan pemerintah, pendanaan, hingga peluang produksi bersama untuk memperluas jangkauan industri perfilman di kawasan Asia.

Diskusi yang berlangsung pada Selasa (20/10) ini juga menjadi kesempatan bagi Badan Perfilman Indonesia (BPI) atau Indonesian Film Agency untuk menjajaki peluang kolaborasi internasional. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kebutuhan skema pendanaan yang dapat membantu produser Indonesia terlibat lebih aktif dalam proyek film bersama mitra dari negara lain.

Dalam forum tersebut, BPI menyoroti potensi pembentukan dana khusus untuk mendukung produksi bersama internasional. Pembahasan mengenai program ini masih dilakukan bersama Kementerian Kebudayaan. Skema tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi produser Indonesia untuk membangun kemitraan lintas negara dan terlibat dalam produksi film berskala internasional.

Selain pendanaan, pertukaran pengalaman antarnegara juga menjadi salah satu topik penting. Setiap negara memiliki pendekatan berbeda dalam mengatur, mendanai, mempromosikan, dan mengembangkan industri film. Melalui AFAN, berbagai pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia untuk mengembangkan kebijakan dan dukungan industri yang sesuai dengan kebutuhan nasional.

Pertemukan Berbagai Negara

Asian Film Alliance Network merupakan forum yang mempertemukan lembaga perfilman nasional dan kementerian terkait dari sejumlah negara Asia. Jaringan ini diinisiasi oleh Korean Film Council dalam Festival Film Cannes 2023 dan mencakup tujuh lembaga dari Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Mongolia, Filipina, Jepang, dan Thailand.

Salah satu inisiatif yang tengah dikaji AFAN adalah pembentukan dana regional untuk sektor audiovisual Asia. Saat ini, rencana tersebut masih dalam tahap studi kelayakan untuk mengeksplorasi kemungkinan pembentukan dana berbadan hukum. Para anggota, pengamat, dan mitra jaringan turut dilibatkan dalam proses pembahasan tersebut.

Jika dapat diwujudkan, dana regional ini diharapkan menjadi salah satu mekanisme untuk mendukung kolaborasi antarnegara. Pembahasan juga mencakup kebutuhan praktis dalam produksi lintas negara, seperti berbagi sumber daya produksi serta memperluas akses bagi kru, seniman, dan tenaga profesional untuk bekerja di berbagai pasar Asia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Kemudahan mobilitas dan proses administrasi yang lebih efisien turut menjadi perhatian. Kedua hal tersebut dinilai dapat membantu rumah produksi memanfaatkan talenta dan sumber daya yang tersedia di kawasan, sekaligus mendukung kelancaran pelaksanaan proyek film bersama. Perwakilan Malaysia juga menyampaikan dukungan terhadap upaya Jakarta untuk memperkuat posisinya sebagai pusat produksi film. Kerja sama regional dinilai dapat menghubungkan keunggulan masing-masing negara dan membuka peluang lebih luas bagi produser maupun pekerja film untuk terlibat dalam proyek lintas pasar. Pengembangan produser dan pertukaran pengalaman budaya turut dibahas sebagai cara memperkuat hubungan antarpelaku industri.

Halaman
Show All
Wulan Noviarina AnggrainiTim Redaksi
Copy Link
Batalkan