Addie MS Sudah 35 Tahun Pimpin Twilite Orchestra, tapi Tetap Merasa Harus Deg-degan Terus

Deg-degan tanda serius dalam menampilkan yang terbaik ke penonton menurut Addie MS.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Konferensi pers "Twilite Orchestra presents The Beatles and Queen" dihelat di Jakarta dengan lancar pada Jumat (9/10/2026) lalu. Sejumlah seniman musik yang hadir yakni Addie MS dan Sandhy Sondoro membagikan perasaannya terkait dilangsungkannya konser tersebut.

Konser bertajuk "Twilite Orchestra presents The Beatles and Queen" ini sangat dinantikan penggemar dari band-band legend tersebut. Tiket yang ludes dalam 12 menit adalah buktinya.

Addie MS sendiri dikenal sebagai maestro Indonesia, namanya harum dikenal di Tanah Air sebagai dirigen utama Twilite Orchestra selama 35 tahun dan bahkan memiliki rekam jejak di kancah internasional. Namun demikian, dirinya mengaku tetap nervous mengingat konser yang akan dihelat pada 1 November mendatang.

“Kalau sampai saya enggak ada rasa deg-degan, berarti ada yang salah. Dikaruniai 100 tahun pun harus deg-degan,” ucap Addie MS.

Sang maestro itu pun menambahkan alasannya, “Karena dengan sedikit atau banyak deg-degan yang penting proporsional, itu indikasi bahwa kita menganggap ini sesuatu yang digarap harus secara serius karena ada penonton.”

 

Harapan Addie MS

Sebagai seorang maestro, Addie MS memiliki harapan besar yang ia tujukan kepada para penontonnya. “Saya berharap apa yang kami sajikan bersama ini memuaskan penonton. Itu yang paling ultimate,” harapnya.

Dalam proses aransemen musik, ia mengakui bahwa pasti akan ada perbedaan jika dibandingkan dengan versi lagu aslinya.

“Semoga ada keterbukaan dari para penonton untuk melihat interpretasi dari yang berbeda pastinya dari Sandhy Sondoro, Ello, dan orchestra dan sebagainya. Dari segi aransemen pun tidak mungkin kita sajikan yang persis asli," ucap Addie MS.

Ia menegaskan bahwa konser tersebut adalah wujud interpretasi segar atas karya-karya musik legendaris dunia.

“Yang kita akan lakukan hanya interpretasi dari segi aransemen, dari segi permainan, dari segi singing, dari karya-karya yang kita semua amat kagumi, yaitu karya Beatles dan Queen,” tegas sang maestro.

 

Tantangan Bagi Addie MS

Bagi Addie MS, melibatkan beberapa arranger lain dengan kondisi yang berbeda dengan era sebelum tahun 1991, menjadi tantangan tersendiri. Saat ia bebas mengatur aransemen sesuka hati untuk penyanyi seperti Vina Panduwinata, Chrisye, dan Utha Likumahuwa.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Kali ini, ia harus meredam ego kreatif karena lagu yang dibawakan memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat luas. “Di konser The Beatles ini dan setiap kali kami harus menampilkan karya seperti Beatles, Queen ini ya. Ini kan ada pertimbangan The Beatles ini milik orang banyak, Queen juga milik orang banyak. kalau suka-suka kita aransemen kemudian bagus menurut kita, 'wah ini sulit nih' ada ego seniman namanya ya, baik penyanyi maupun arranger pasti ada ego. 'Wah, saya udah level ini, saya bisa bikin poliritme begini gitu, lagu begini saya begini miring-miringin gitu'. Bisa begitu gitu,” kata Addie MS.      

Halaman
Show All
Afradhiya N. R, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan