Ondel-Ondel hingga Kompor Meleduk, Lagu Benyamin Sueb yang Melekat dalam Ingatan Orang Indonesia

Benyamin Sueb menjadi jembatan antara seni tradisional Ondel-Ondel dan lagu populer “Kompor Meleduk”, merekam kekayaan budaya Betawi dan dinamika Jakarta.

Diterbitkan 11 Oktober 2026, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ondel-Ondel hingga Kompor Meleduk, lagu Benyamin Sueb memiliki tempat istimewa dalam perjalanan musik populer Indonesia, terutama karena kemampuannya menghadirkan kehidupan masyarakat Betawi melalui lirik yang jenaka, bahasa sehari-hari, dan irama yang mudah diingat. Dari Ondel-Ondel yang lekat dengan perayaan budaya Jakarta hingga Kompor Meleduk yang mengangkat persoalan kehidupan warga, karya-karyanya bukan sekadar hiburan, melainkan juga potret sosial yang melintasi zaman.

Benyamin Sueb, yang akrab disapa Bang Ben, dikenal sebagai penyanyi, pelawak, sekaligus aktor yang berjasa memperkenalkan kebudayaan Betawi kepada masyarakat luas. Ia berani memadukan musik tradisional gambang kromong dengan unsur modern, seperti gitar listrik, organ, jazz, dan rock. Perpaduan tersebut membuat musik Betawi terasa lebih segar tanpa kehilangan identitasnya.

Seperti diulas dalam Indonesia Kaya dan laman Budaya Betawi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), perjalanan Benyamin di dunia seni bermula sejak kecil dan berkembang melalui berbagai kesempatan. Ia menghasilkan banyak album musik, membintangi puluhan film, serta mendirikan Bens Radio untuk memperkuat keberadaan budaya Betawi. Hingga kini, lagu-lagunya masih dikenang karena menghadirkan humor, kritik sosial, dan cerita sederhana yang dekat dengan pengalaman masyarakat. Berikut ulasan Liputan6.com, Minggu (11/10/2026).

 

1. Ondel-Ondel, Ikon Musik Betawi yang Melekat dengan Jakarta

Ondel-Ondel merupakan salah satu lagu Benyamin Sueb yang paling mudah dikenali. Lagu ini menggambarkan kesenian ondel-ondel, boneka raksasa yang menjadi salah satu simbol budaya Betawi dan kerap ditampilkan dalam perayaan, festival, serta berbagai acara kebudayaan di Jakarta.

Dengan irama yang riang dan lirik yang menggambarkan gerakan ondel-ondel ketika diarak, lagu ini mampu membangun suasana meriah. Bunyi musik yang mengiringinya membuat pendengar seolah dapat membayangkan ondel-ondel bergerak mengikuti tabuhan gendang di tengah keramaian.

Menurut informasi yang dimuat dalam laman Budaya Betawi IKJ, lagu Ondel-Ondel semakin populer setelah dibawakan Benyamin pada awal 1970-an. Lagu ini diciptakan oleh Djoko Subagyo dan kemudian menjadi salah satu karya yang paling erat diasosiasikan dengan sosok Bang Ben.

Popularitas Ondel-Ondel tidak terlepas dari kemampuannya memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi yang lebih luas. Lagu ini juga menunjukkan bagaimana musik populer dapat menjadi sarana untuk menjaga ingatan kolektif terhadap identitas budaya suatu daerah.

2. Kompor Meleduk, Cerita Kehidupan Warga dalam Balutan Humor

Kompor Meleduk menjadi contoh bagaimana Benyamin mengolah persoalan sehari-hari menjadi lagu yang menghibur sekaligus mengandung kritik sosial. Judulnya saja sudah menghadirkan gambaran tentang situasi rumah tangga yang akrab bagi masyarakat pada masa itu.

Lagu ini berkaitan dengan persoalan yang dihadapi warga Betawi, termasuk risiko kebakaran dan banjir yang menjadi bagian dari kehidupan perkotaan. Melalui gaya bernyanyinya yang khas, Benyamin menyampaikan gambaran kehidupan tersebut tanpa harus menggunakan bahasa yang rumit atau terasa menggurui.

Kekuatan Kompor Meleduk terletak pada cara Benyamin mengubah kejadian yang dapat menimbulkan kekhawatiran menjadi bahan cerita yang mengundang senyum. Humor menjadi jalan untuk membicarakan keadaan masyarakat sekaligus membuat persoalan tersebut lebih mudah diingat.

Pendekatan semacam ini merupakan salah satu ciri khas karya Benyamin. Ia tidak memisahkan hiburan dari realitas sosial. Cerita tentang lingkungan, kebiasaan warga, dan persoalan keseharian justru menjadi bahan utama yang membuat lagu-lagunya terasa dekat dengan pendengar.

3. Nonton Bioskop, Lagu tentang Hiburan dan Kehidupan Anak Muda

Nonton Bioskop termasuk karya penting dalam perjalanan karier musik Benyamin Sueb. Lagu ini turut memperkenalkan gaya bernyanyinya kepada masyarakat luas dan menjadi salah satu karya awal yang dikenal melalui rekaman.

Seperti judulnya, lagu ini mengangkat pengalaman sederhana menonton film. Aktivitas yang bagi sebagian orang merupakan hiburan biasa tersebut diolah menjadi cerita musikal yang ringan, jenaka, dan dekat dengan kehidupan masyarakat perkotaan.

Daya tarik Nonton Bioskop terletak pada cara Benyamin mengemas pengalaman sehari-hari menjadi lirik yang terasa seperti percakapan. Ia tidak membutuhkan kisah yang rumit untuk membangun kedekatan dengan pendengar. Pengalaman yang umum dialami masyarakat justru menjadi kekuatan utamanya.

Lagu ini juga berkaitan dengan kolaborasi Benyamin bersama Bing Slamet, sosok yang berperan penting dalam mendorongnya untuk menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Dukungan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Benyamin hingga dikenal sebagai penyanyi dengan karakter yang kuat.

4. Malam Minggu, Gambaran Sederhana tentang Kehidupan Kota

Malam Minggu merupakan salah satu lagu yang memperlihatkan kecenderungan Benyamin mengangkat kegiatan sehari-hari sebagai sumber inspirasi. Malam akhir pekan memiliki makna tersendiri bagi masyarakat, mulai dari kesempatan berkumpul dengan teman hingga menikmati hiburan setelah menjalani rutinitas.

Dalam karya-karya semacam ini, Benyamin menampilkan kehidupan kota melalui sudut pandang yang sederhana dan menghibur. Bahasa yang digunakan terasa akrab, sedangkan cara penyampaiannya menyerupai obrolan yang biasa terdengar di lingkungan masyarakat Betawi.

Kekuatan lagu Malam Minggu tidak hanya terletak pada tema yang mudah dipahami, tetapi juga pada karakter vokal Benyamin yang ekspresif. Ia mampu menyampaikan cerita dengan ritme dan intonasi yang membuat lirik terasa hidup.

Karya ini menjadi bagian dari jejak musik Benyamin yang menjadikan pengalaman sehari-hari sebagai bahan utama penciptaan lagu. Lewat pendekatan tersebut, ia memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat biasa juga layak menjadi cerita dalam musik populer.

5. Hujan Gerimis, Lagu Penghibur dengan Pesan yang Ringan

Hujan Gerimis memperlihatkan sisi Benyamin yang mampu menghibur pendengar melalui musik ceria dan penyampaian lirik yang menyerupai pantun. Lagu ini memiliki nuansa ringan, tetapi tetap menyimpan pesan yang dekat dengan pengalaman emosional manusia.

Melalui lagu tersebut, pendengar diajak untuk tidak terus larut dalam kesedihan dan tidak berlebihan memikirkan kejadian yang telah berlalu. Pesannya disampaikan dengan gaya khas Benyamin sehingga tidak terasa seperti nasihat panjang yang menggurui.

Perpaduan antara irama yang menyenangkan dan lirik yang mudah diingat menjadi salah satu kekuatan lagu ini. Benyamin memahami bahwa hiburan tidak selalu harus menghadirkan cerita yang besar. Terkadang, kalimat sederhana dengan penyampaian yang tepat sudah cukup untuk membuat pendengar merasa terhibur.

Hujan Gerimis juga menunjukkan kemampuan Benyamin dalam memainkan bahasa. Ia mengolah kata-kata dengan ritme yang mengalir sehingga lagu terasa seperti percakapan atau pantun yang dinyanyikan.

6. Si Jampang, Lagu yang Membuka Jalan Karier Musik Bang Ben

Si Jampang menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Benyamin sebagai penyanyi. Berdasarkan riwayat yang dimuat Indonesia Kaya, lagu ini termasuk karya awal yang ia nyanyikan setelah mendapat dorongan dari Bing Slamet untuk membawakan lagu ciptaannya sendiri.

Keberhasilan Si Jampang turut memperkuat keyakinan Benyamin untuk menekuni musik. Sebelumnya, ia telah memiliki pengalaman bermain musik bersama kelompok yang dibentuk dengan teman-teman dan saudara-saudaranya. Pengalaman sejak kecil tersebut menjadi bekal penting dalam membangun karakter bermusiknya.

Si Jampang juga memperlihatkan kedekatan Benyamin dengan cerita dan identitas lokal. Ia tidak berusaha menghilangkan karakter Betawi agar dapat diterima masyarakat yang lebih luas. Sebaliknya, kekhasan tersebut justru menjadi bagian penting dari daya tariknya.

Keberhasilan lagu ini membuka jalan bagi karya-karya lain yang kemudian membuat nama Benyamin semakin dikenal, termasuk lagu-lagu yang mengangkat kehidupan masyarakat Jakarta dengan humor dan bahasa sehari-hari.

7. Tukang Kridit, Potret Ekonomi Rakyat yang Mengundang Tawa

Tukang Kridit merupakan lagu duet Benyamin Sueb bersama Ida Royani yang dikenal karena liriknya menggambarkan kebiasaan membeli barang dengan pembayaran secara angsuran. Lagu ini menghadirkan suasana transaksi yang akrab dengan kehidupan masyarakat, mulai dari tawaran barang hingga urusan pembayaran cicilan.

Dengan gaya bernyanyi yang ekspresif, Benyamin dan Ida Royani membangun percakapan musikal yang terasa hidup. Pendengar seolah sedang menyaksikan tawar-menawar antara penjual dan pembeli, lengkap dengan kelakar serta komentar yang menyentil kebiasaan berutang.

Di balik unsur komedinya, Tukang Kridit juga menyimpan potret sosial mengenai kebutuhan rumah tangga dan daya beli masyarakat. Barang-barang seperti piring, gelas, panci, dan termos menjadi bagian dari cerita yang mudah dikenali.

Indonesia Kaya menyoroti bagaimana lagu ini memperlihatkan kemampuan Benyamin mengubah pengalaman sehari-hari menjadi hiburan. Ia dapat membicarakan persoalan ekonomi rakyat tanpa kehilangan unsur humor. Kolaborasinya dengan Ida Royani pun menjadi bagian penting dari perkembangan musik Betawi populer pada awal 1970-an.

8. Tukang Garem, Cerita tentang Profesi dan Kehidupan Sehari-hari

Tukang Garem termasuk lagu Benyamin yang mengangkat kehidupan masyarakat melalui gambaran pekerjaan yang dekat dengan keseharian. Seperti sejumlah karya lainnya, lagu ini memperlihatkan ketertarikannya pada orang-orang biasa dan aktivitas yang sering dijumpai di lingkungan permukiman.

Benyamin memiliki kemampuan menjadikan tokoh dan peristiwa sederhana sebagai bahan cerita yang menghibur. Ia tidak selalu mengandalkan tema romantis atau kisah kepahlawanan. Profesi, kebiasaan warga, serta interaksi sosial justru memberikan ruang luas bagi humor khasnya.

Karya semacam ini juga memperlihatkan fungsi musik sebagai dokumentasi kehidupan sosial. Melalui lagu, pendengar dapat mengenali suasana masyarakat, bahasa pergaulan, dan kebiasaan yang berkembang pada masa ketika lagu tersebut populer.

Meski generasi sekarang mungkin tidak lagi memiliki pengalaman yang sama dengan kehidupan yang digambarkan dalam lagu, pendekatan Benyamin tetap menarik. Ceritanya membantu pendengar memahami bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi pernah menjadi bagian penting dari musik populer Indonesia.

9. Superman, Parodi Pahlawan Super dengan Sentuhan Lokal

Superman memperlihatkan sisi kreatif Benyamin yang gemar memadukan unsur budaya berbeda. Lagu ini membayangkan tokoh pahlawan super dari luar negeri berada dalam suasana kehidupan Indonesia yang penuh dengan hal-hal akrab, mulai dari asinan, tukang becak, hingga layangan putus.

Kelucuan lagu muncul dari pertemuan antara gambaran pahlawan super yang identik dengan aksi heroik dan situasi keseharian yang jauh lebih sederhana. Unsur bahasa Inggris juga dipadukan dengan berbagai gambaran lokal sehingga menghasilkan kontras yang menghibur.

Lagu ini memperlihatkan bahwa Benyamin tidak hanya berfokus pada tradisi Betawi dalam pengertian sempit. Ia juga terbuka terhadap budaya populer internasional, kemudian mengolahnya kembali menggunakan sudut pandang dan humor khas Indonesia.

Cara tersebut sejalan dengan karakter bermusiknya yang gemar bereksperimen. Benyamin mampu menjadikan unsur modern sebagai bahan kreativitas tanpa harus melepaskan kedekatannya dengan kehidupan masyarakat lokal.

10. Badminton, Lagu tentang Olahraga yang Digemari Masyarakat

Badminton menjadi salah satu lagu yang memperlihatkan kemampuan Benyamin membawakan karya dengan tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Olahraga bulu tangkis telah lama dikenal dan digemari di berbagai kalangan, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Lagu Badminton dibuat oleh Mang Koko dalam bahasa Sunda dan dipopulerkan oleh Benyamin Sueb. Lagu tersebut menggambarkan olahraga bulu tangkis beserta gerakan-gerakannya.

Ketertarikan pada tema yang sederhana menjadi salah satu ciri khas karya Benyamin. Ia mampu mengolah kegiatan sehari-hari menjadi hiburan tanpa membuatnya terasa berlebihan. Tema olahraga pun dapat menjadi materi lagu yang menarik ketika disampaikan dengan irama dan karakter vokal yang tepat.

Badminton juga memperlihatkan bahwa perjalanan musik Benyamin tidak terbatas pada satu jenis cerita atau satu bahasa. Ia memiliki ruang kreativitas yang luas, termasuk dalam membawakan lagu yang berasal dari tradisi musik daerah lain.

11. Nyai Dasimah, Mengangkat Kisah yang Dikenal Masyarakat Betawi

Nyai Dasimah merupakan salah satu judul yang dikenal dalam katalog lagu Benyamin Sueb. Nama tersebut mengingatkan pada kisah Nyai Dasima, cerita yang telah lama hadir dalam khazanah sastra dan kebudayaan Betawi.

Ketertarikan Benyamin pada kisah lokal menunjukkan bahwa ia tidak hanya mengambil inspirasi dari peristiwa sehari-hari, tetapi juga dari tokoh dan cerita yang hidup dalam ingatan masyarakat. Dengan mengolah tema yang dikenal publik, musik dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kembali kisah-kisah budaya kepada pendengar.

Hal yang membuat karya Benyamin menarik adalah caranya menghadirkan identitas lokal melalui musik populer. Cerita yang sebelumnya dikenal melalui tradisi lisan, sastra, atau bentuk kesenian lain dapat menjangkau khalayak berbeda ketika dibawakan dalam bentuk lagu.

Nyai Dasimah menjadi salah satu contoh dari banyaknya tema yang memperlihatkan hubungan antara karya Benyamin dan kehidupan budaya Betawi. Lagu-lagunya membantu menjaga agar kisah serta identitas lokal tetap hadir dalam percakapan masyarakat.

12. Biang Kerok, Eksperimen Musik Bersama Al-Hajj

Biang Kerok memperlihatkan sisi lain perjalanan musik Benyamin, terutama keberaniannya bereksperimen dengan bunyi dan berkolaborasi bersama musisi dari latar belakang berbeda. Lagu ini berkaitan dengan grup musik Al-Hajj yang melibatkan sejumlah musisi, termasuk Keenan Nasution, Harry Sabar, dan Odink Nasution.

Indonesia Kaya menjelaskan bahwa Benyamin tidak hanya bertahan pada formula musik yang sudah dikenal publik. Ia juga merangkul musisi yang memiliki pendekatan berbeda dan memadukan unsur-unsur musik modern ke dalam karyanya.

Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa identitas musik Betawi tidak harus berhenti pada satu bentuk aransemen. Tradisi dapat terus berkembang ketika musisi berani mencoba instrumen, ritme, dan pendekatan baru.

Biang Kerok menjadi bagian dari perjalanan kreatif Benyamin yang menunjukkan keterbukaannya terhadap perubahan. Ia tetap membawa karakter vokal dan kepribadian musikalnya, tetapi bersedia menjelajahi wilayah musik yang lebih luas.

Mengapa Lagu Benyamin Sueb Tetap Dikenang?

Dari Ondel-Ondel hingga Kompor Meleduk, lagu Benyamin Sueb yang melekat dalam ingatan orang Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan musik tidak selalu bergantung pada aransemen megah atau tema yang rumit. Karya-karya Bang Ben justru menonjol karena berangkat dari kehidupan sehari-hari, menggunakan bahasa yang akrab, serta menghadirkan humor yang mudah dipahami.

Benyamin juga berjasa memperluas jangkauan gambang kromong dengan memadukannya bersama unsur musik modern. Perpaduan tersebut membuat musik Betawi dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas, tanpa sepenuhnya kehilangan akar tradisionalnya.

Warisan Benyamin tidak hanya bertahan melalui rekaman lagu. Kehadirannya dalam film, pertunjukan lenong, serta pendirian Bens Radio turut memperkuat pengenalan budaya Betawi. Radio tersebut menjadi salah satu media untuk menjaga bahasa, musik, dan tradisi Betawi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Benyamin Sueb meninggal pada 5 September 1995, tetapi karya-karyanya terus diputar, dibicarakan, dan dikenalkan kepada generasi baru. Lagu-lagunya menjadi pengingat bahwa musik dapat berfungsi sebagai hiburan sekaligus arsip sosial yang merekam kebiasaan, bahasa, dan persoalan masyarakat pada suatu masa.

Pertanyaan Seputar Benyamin Sueb

1. Siapa Benyamin Sueb?

Benyamin Sueb adalah seniman Indonesia asal Kemayoran, Jakarta, yang dikenal sebagai penyanyi, pelawak, aktor, sutradara, dan produser film. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan musik populer Betawi.

2. Apa lagu Benyamin Sueb yang paling terkenal?

Beberapa lagu yang paling dikenal antara lain Ondel-Ondel, Kompor Meleduk, Nonton Bioskop, Hujan Gerimis, Si Jampang, dan Tukang Kridit. Lagu-lagu tersebut populer karena liriknya dekat dengan kehidupan sehari-hari dan memiliki karakter humor yang kuat.

3. Apa kontribusi Benyamin Sueb terhadap musik Betawi?

Benyamin membantu memopulerkan musik Betawi dengan memadukan gambang kromong dan unsur musik modern, seperti jazz, rock, serta R&B. Pendekatan tersebut membuat musik tradisional Betawi berkembang dan menjangkau pendengar yang lebih luas.

4. Siapa pasangan duet Benyamin Sueb yang terkenal?

Ida Royani merupakan salah satu pasangan duet Benyamin yang paling ikonis. Keduanya dikenal melalui sejumlah lagu, termasuk Tukang Kridit. Benyamin juga pernah berkolaborasi dengan Bing Slamet, Lilis Suryani, dan Vivi Sumanti.

5. Kapan Benyamin Sueb meninggal dan apa warisannya?

Benyamin Sueb meninggal pada 5 September 1995 dalam usia 56 tahun. Warisannya mencakup ratusan karya musik, puluhan film, kontribusi terhadap perkembangan musik Betawi, serta Bens Radio yang berperan dalam memperkenalkan dan melestarikan budaya Betawi.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6