Joko Anwar Dorong Sutradara Muda di Film Legenda Kelam Malin Kundang, Tak Mau Campuri Urusan Kreatif

Joko Anwar juga mengungkap makna di balik karakter pelukis mikro dalam film Legenda Kelam Malin Kundang.

Diterbitkan 22 November 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ia menegaskan bahwa setelah proyek tersebut dipercayakan kepada Kevin dan Rafki, dirinya memilih untuk tidak ikut campur secara kreatif. Joko ingin keduanya memiliki ruang penuh untuk mengekspresikan gaya bercerita mereka tanpa batasan, sehingga setiap elemen film lahir murni dari visi kreatif kedua sutradara tersebut.

“Ketika kita memberikan project ini kepada mereka, ketika film ini selesai yang perlu catet adalah kita sama-sama tidak ada campur tangan secara kreatif. Kita bekerja supaya mereka bisa bekerja secara maksimal untuk bisa mencurahkan visi kreatif mereka sepenuhnya ada di tangan mereka," tegasnya

Menyoroti Profesi Pelukis Mikro

Joko Anwar menjelaskan bahwa pilihan profesi tokoh utama sebagai pelukis mikro bukanlah keputusan yang muncul tiba-tiba, melainkan hasil pengamatan terhadap peran-peran unik yang jarang mendapat sorotan di masyarakat.

“Kalau temen-temen tadi lihat ada profesi pelukis biasa tapi ini pelukis micro, kita memang sangat suka menampilkan profesi yang jarang diberikan spotlight di masyarakat,” kata Joko Anwar.

Menurut Joko, profesi pelukis mikro yang disematkan pada karakter Alif bukan hanya elemen estetis, tetapi juga simbol dari lapisan emosional yang coba disembunyikan sang tokoh.

Ia menegaskan bahwa ekspresi seorang individu tidak selalu menggambarkan suasana hati, melainkan upaya untuk menyampaikan sesuatu yang lebih dalam.

“Dia pelukis, yes tapi dia pelukis micro, pelukis kecil. Kenapa pelukis kecil, karena ada sesuatu yang disembunyikan. Kadang-kadang kita melihat orang berekspresi juga bukan untuk menggambarkan suasana hati tapi juga untuk try to reach out menceritakan apa yang terjadi sama kita. Dan Alif di sini kita temukan profesi menarik banget pelukis micro,” urainya

Menggali Kompleksitas Manusia dalam Legenda Malin Kundang

Dalam pendekatan terbarunya, Joko Anwar mengungkapkan bahwa Legenda Kelam Malin Kundang tidak hanya mengangkat kisah rakyat, tetapi juga mengajak penonton membongkar ulang cara kita memberi label pada seseorang. Ia menekankan bahwa masyarakat kerap terburu-buru menilai tanpa memahami latar belakang atau beban yang harus dijalani individu tersebut.

“Ya mungkin itu yang kita ingin sampaikan adalah mari kita membongkar lagi cara berpikir kita dengan sangat gampang memberikan label seseorang. Label anak durhaka, label perempuan nakal karena kalau kita lihat di Legenda Kelam Malin Kundang dengan sangat gampang sebelumnya kita memberikan label kepada individu-individu tanpa kita berusaha untuk memahami apa yang terjadi kepada mereka sehingga situasi tersebut mereka harus jalani,” tuturnya.

Lebih jauh, Joko menegaskan bahwa film ini tidak menghadirkan tokoh hitam-putih. Setiap karakter dipahami sebagai manusia dengan lapisan kehidupan yang kompleks.

Proses riset yang dilakukan pun tidak hanya mencakup folklor versi Sumatera Barat, tetapi juga berbagai versi dari wilayah lain, hingga membawa tim pada pemahaman bahwa cerita Malin Kundang telah menjadi milik bangsa Indonesia secara luas.

“Di film ini tidak ada villain, tidak ada seoarang yang punya predikat baik atau jahat saja. Semua orang memiliki kehidupan yang sangat kompleks. Itu challenge yang coba untuk kita tampilkan. Tapi kita riset bukan cuma soal folklor cerita Malin Kundang yang ternyata banyak versi. Enggak cuma dari Sumatera Barat aja, termasuk dari Malaysia bahkan di pulau Kalimantan ada yang mirip dengan Malin Kundang. Jadi kita akhirnya berkesimpulan Malin Kundang ini milik bangsa Indonesia," tegasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Zikrah Nur Amalah, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan