Review Film Frankenstein 2025, Ketika Manusia Berlagak Seperti Tuhan

Frankenstein (2025) menghadirkan reinterpretasi gotik penuh emosi tentang ambisi manusia lewat kisah tragis antara pencipta dan ciptaannya.

Diterbitkan 15 November 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Akting Intens dan Pendalaman Karakter

Salah satu alasan Frankenstein (2025) begitu nyantol di ingatan adalah performa akting para pemainnya. Karakter Victor Frankenstein (Oscar Isaac) digambarkan dengan kedalaman psikologis yang kuat, seorang ilmuwan muda yang tampak brilian di permukaan, tetapi sebenarnya rapuh, dipenuhi ambisi yang membuatnya buta terhadap realitas. 

Oscar Isaac berhasil menyampaikan perpecahan batin antara kebutuhan untuk membuktikan diri dan ketakutannya terhadap apa yang ia ciptakan. Sementara itu, sang makhluk tanpa nama yang diperankan Jacob Elordi tampil dengan karisma yang jarang terlihat di adaptasi sebelumnya. 

Bukan sekadar figur menakutkan, tetapi makhluk tragis yang mencari arti hidup, kasih sayang, dan penerimaan. Setiap ekspresi, gestur, hingga sorot matanya memancarkan kesedihan mendalam, membuat penonton memahami bahwa tragedi terbesar film ini lahir dari kesalahpahaman dan penolakan. Interaksi keduanya, baik dalam konflik maupun momen tanpa dialog, menjadi pusat emosional yang memperkuat keseluruhan film.

Visual Memukau dan Pesan Moral yang Menghantui

Secara teknis, film ini menggabungkan efek visual modern yang membangun nuansa realistis sekaligus unsettling. Adegan penciptaan makhluk menjadi salah satu set piece paling mengagumkan, penuh detail biologis, sinar kilat listrik, dan nuansa laboratorium yang dingin hingga membuat penonton seakan ikut menyaksikan lahirnya eksperimen yang seharusnya tidak pernah dilakukan. 

Sinematografinya konsisten menonjolkan permainan cahaya dan bayangan untuk menekankan kesendirian maupun keterasingan masing-masing karakter. Sementara scoring yang indah nan menghantui menciptakan lapisan ketegangan tambahan. 

Namun lebih dari itu, Frankenstein (2025) kuat karena pesan moralnya. Bahwa ambisi tanpa pertimbangan logis dapat melahirkan kehancuran, bahwa penciptaan tanpa tanggung jawab adalah bentuk keegoisan, dan bahwa monster sesungguhnya mungkin bukan ciptaan, tetapi manusia egois yang menolak mengakui kesalahannya. Film ini menutup kisahnya dengan nuansa tragis yang dalam, meninggalkan rasa hampa bagi siapa pun yang menontonnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Rinjani Nur Anisa, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan