Review Film Abadi Nan Jaya: Zombie dari Jawa Unjuk Gigi, Brutal hingga Bangkitkan Trypophobia

Misi sutradara Kimo Stamboel dalam Abadi Nan Jaya bukan hanya menghadirkan kengerian, tapi juga menghadirkan elemen lokal.

Diterbitkan 26 Oktober 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta "Jamu yang akan mengubah dunia. Bapak namakan jamu ini, jamu Abadi Nan Jaya," kata Sadimin sambil merengkuh botol-botol kecil di tangannya. Botol kecil yang isinya telah mengubah kepala penuh ubannya menjadi kembali hitam legam, otot tubuhnya kembali mengencang, keriput pun menghilang. Semua secara instan. 

Dan benar saja, jamu ini mengubah dunia. Tapi bukan seperti imajinasinya. 

Tak lama setelah bersukacita dengan penampilannya yang kembali muda, Sadimin ambruk. Ia kejang-kejang hebat, membuat pertikaian keluarganya berhenti. Istrinya yang masih muda, Karina (Eva Celia), juga anak dan menantunya Kenes (Mikha Tambayong), Bambang (Marthino Lio), dan Rudy (Dimas Anggara) hingga cucunya Raihan (Varen Arianda Calief)  kaget bukan kepalang ketika Sadimin mendadak jadi liar.

Pria ini mencoba menyerang siapa pun yang berada di dekatnya, menggigit dan melahap bagian tubuh mana pun yang ia bisa. 

 Meski tingkah liar Sadimin berhasil diatasi, teror tak berhenti sampai di sini. Korban gigitan Sudimin menunjukkan gelagat serupa. Tak butuh waktu lama, desa kecil Wenirejo dibanjiri teror oleh para penduduknya yang haus darah. 

Dalam situasi tegang ini Bambang dan Karina terpisah dari keluarganya yang lain. Bisakah mereka keluar hidup-hidup dari mimpi buruk ini?

Zombie Lokal +62: Dari Biduan Dangdut hingga Bapak-Bapak Berbaju Batik

Misi sutradara Kimo Stamboel dalam Abadi Nan Jaya yang tayang di Netflix ini, bukan hanya menghadirkan kengerian. Tapi juga membawa imajinasi tentang zombie outbreak dengan latar kelokalan Indonesia. Karenanya, dari hulu hingga hilir, beragam elemen lokal dilekatkan dalam monster yang selama ini lebih akrab diangkat dalam sinema barat.

Mulai dari jamu, yang menyimbolkan harapan awet muda manusia. Juga penampilan para zombie yang khas Indonesia banget: dari bapak-bapak berbaju batik hingga biduan dangdut dengan dandanan gonjreng. Ada pula petasan, azan, hingga warga lokal yang ramai-ramai menghadiri acara dengan numpang truk. Tak cuma memberi sensasi familiar, tapi juga menghadirkan senyum tipis-tipis.

Elemen lain yang membuat Abadi nan Jaya berbeda, alih-alih menempatkan chaos wabah zombie di kota besar, setting cerita film ini berada di sebuah pedesaan di sudut Yogyakarta. Kondisi di mana para karakternya terjebak di desa terpencil dengan akses yang sulit, menghadirkan sensasi tersudut--hampir seperti klaustrofobik meski setting berada di ruang terbuka.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Suasana surreal juga langsung terasa, saat sawah menghijau nan asri dan damai--pemandangan yang begitu akrab untuk warga Indonesia--dibelah oleh ratusan zombie yang berlari liar bak kesetanan.

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan