Fashionology 2025: Universitas Ciputra Dorong Perubahan Global dalam Industri Fashion Berkelanjutan

Global Shifts in Fashion Design & Business sebagai bagian dari rangkaian acara Fashionology 2025.

Diperbarui 12 Juni 2025, 12:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Budaya Lokal

Nilai-nilai budaya lokal juga mendapat sorotan. Dr. Olivia menekankan pentingnya warisan seperti tenun dan batik sebagai solusi kontemporer dalam menghadapi tantangan keberlanjutan. “Inovasi tidak harus memutus dari akar. Justru, kekuatan besar muncul saat tradisi menjadi fondasi kreativitas,” paparnya. 

Menjelang akhir acara, para pembicara menyampaikan pandangan mereka mengenai masa depan fashion dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Mereka optimistis bahwa keberlanjutan akan menjadi poros utama dalam pendidikan, teknologi tekstil, dan perilaku konsumsi. “Desain bukan hanya soal estetika, tapi juga etika. Setiap keputusan kreatif memiliki konsekuensi,” ujar Dr. Olivia. Yuan menambahkan, “Even small steps can lead to big impact in the future.”

 

Tanya Jawab

Sesi tanya jawab berjalan aktif. Salah satu pertanyaan mengangkat perkembangan praktik keberlanjutan di Tiongkok. Yuan menjelaskan bahwa kini semakin banyak pabrik di Tiongkok yang mengadopsi sistem produksi ramah lingkungan, termasuk pengelolaan limbah air dan pengurangan emisi karbon, serta berkembangnya jaringan pemasok bahan baku berkelanjutan. 

Lebih dari sekadar forum diskusi, talkshow ini menjadi ruang kolaborasi nilai, budaya, dan visi bersama untuk menciptakan masa depan fashion yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Fashionology 2025 menunjukkan bahwa masa depan industri ini tak hanya dibentuk oleh pelaku industri dan desainer, melainkan oleh semua pihak—termasuk konsumen, pendidik, dan komunitas global—yang bersedia mengambil bagian dalam perubahan positif.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan