Memasuki Ramadan, Rangkai Suguhkan Album Pekik Hening di Lantang Angan, Peninggalan Mendiang Ade Firza Paloh

Judul Pekik Hening di Lantang Angan terinspirasi dari perenungan mendiang Ade Firza Paloh (produser album) yang menggali lebih jauh pemikiran dan pengalaman tiga personel Rangkai.

Diterbitkan 04 Maret 2025, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Memasuki bulan Ramadan 1446 H, trio musik Rangkai menghadirkan album penuh bertajuk Pekik Hening di Lantang Angan. Album ini dirilis pada 28 Februari 2025, menyusul tiga single yang telah dirilis sejak 2023: "Seperti Rindu", "Mesra Tanpa Kata", dan "Puan, Kau Beri Nyawa".

Sebagai refleksi menyambut bulan penuh renungan, introspeksi, dan pengendalian diri, album ini merangkum perjalanan batin yang mendalam.

Judul Pekik Hening di Lantang Angan terinspirasi dari perenungan mendiang Ade Firza Paloh—produser album—yang menggali lebih jauh pemikiran dan pengalaman tiga personel Rangkai sejak mereka mulai berkolaborasi pada Agustus 2022.

Selama proses kreatif, Ade Firza Paloh terlibat intens dalam diskusi yang berkembang luas, tajam, dan penuh makna. Dalam refleksinya, ia menggambarkan 11 lagu dalam album ini dengan sebuah kalimat:

"Kalian itu bak kumparan, seperti tak bergerak padahal laju rotasi tinggi. Cocoknya Pekik Hening di Lantang Angan," ujar Bang Ade semasa hidupnya.

Meski kehilangan sosok produser yang mereka junjung, Rangkai tetap melanjutkan proyek ini bersama Setengah Lima Records. Bagi mereka, hidup harus terus berjalan, dan album ini menjadi bentuk perjalanan ke dalam diri yang pasti dialami setiap individu yang berpikir.

"Proses produksi ini ternyata menguras banyak hal, dari tenaga sampai waktu tidur. Tapi dari perjalanan panjang ini, gue makin yakin kalau rezeki bisa datang dari mana saja dan gak melulu soal duit. Bisa berkolaborasi dengan musisi-musisi yang selama ini cuma bisa kita tonton, itu hal yang luar biasa buat gue," ungkap Mirza Elba Febrian, gitaris Rangkai.

 

Kontemplasi dalam Musik

Pekik Hening di Lantang Angan bisa dibilang sebagai album yang kontemplatif. Dibutuhkan kesadaran spiritual, atau bahkan religius, untuk menikmatinya secara utuh.

Album ini bukanlah sekadar nasihat, melainkan seperti secangkir kopi pahit yang menemani perjalanan hidup—atau sebaliknya, biskuit manis yang melengkapi rasa pahit kehidupan.

Layaknya kebahagiaan, ketenangan jiwa juga perlu diupayakan dari dalam diri. Salah satunya melalui penerimaan terhadap jalan hidup. Karena itu, Rangkai memutuskan merilis album ini di bulan Ramadan agar dapat didengarkan lebih seksama di berbagai platform musik digital.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Sebagai lagu andalan saat peluncuran, Rangkai memperkenalkan Selam Hati Sulam Diri, sebuah kolaborasi dengan Endah Widiastuti dari Endah N Rhesa. "Ketika Rangkai mengajak saya mengisi vokal untuk Selam Hati Sulam Diri, tentu saja saya langsung menyanggupi karena sudah mendengar materi albumnya yang konseptual. Proses rekaman juga menyenangkan, karena saya diberi kebebasan untuk improvisasi dan mencari nada dalam merespons melodi vokal Bimo. Lagu ini punya kesan tersendiri di hati saya, baik dari segi lirik maupun bunyi khas Rangkai," ujar Endah.

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan