Kisah Penulis Margareta Astaman Kini Jadi Eksportir Buah ke 23 Negara, Berdayakan Perempuan di 6 Desa

Penulis Margareta Astaman memberdayakan ibu-ibu dari 6 desa di Indonesia. Ia mengekspor buah tropis Indonesia ke 23 negara, mayoritas di Eropa Barat.

Diperbarui 13 Februari 2025, 21:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Penulis Margareta Astaman menginspirasi publik setelah membuat keputusan besar pada 2014 dengan “menyeberang” ke dunia ekspor buah-buahan khas Nusantara bersama dua rekannya, Robert Budianto dan Swasti Adicita.

Di bawah bendera Java Fresh, Margareta Astaman memberdayakan para ibu di 6 desa di Indonesia dalam upaya ekspor. Buah-buah tropis Indonesia seperti manggis hingga salak diterbangkan ke 23 negara, mayoritas di Eropa Barat.

Berkolaborasi dengan para perempuan di 6 desa membuat Margareta Astaman terkesima. Mayoritas para ibu yang dirangkul baru kali pertama bekerja. Di zaman sekarang, mencari kerja seperti memburu jarum di tumpukan jerami.

“Sebagai orang yang belum pernah kerja sebelumnya, dedikasi mereka luar biasa. Mereka sangat mengapresiasi kesempatan karena tahu, kebanyakan pekerjaan adanya di luar desa. Pertama yang kami lakukan, tidak mau mereka melihat ini sebagai pekerjaan,” katanya.

 

Bermitra dengan Emak-Emak

Kepada Showbiz Liputan6.com di Jakarta, Kamis (13/2/2025), Margareta Astaman mengajak para ibu melihat pekerjaan membersihkan dan mengemas buah sebagai bisnis bersama. Kedudukan para ibu dan Margareta Astaman adalah setara.

“Jadi, saya selalu bilang: Ibu-ibu bukan bawahan saya, saya bukan atasan Anda. Kita mitra. Kita di sini karena satu tujuan membawa Indonesia ke pasar ekspor. Ibu-ibu di sini karena bisa membersihkan buah dengan baik, mengemas dengan cepat,” ujar Margareta Astaman.

Sementara Margareta Astaman bisa berbahasa Inggris untuk membuka pasar internasional. Para ibu lantas belajar kenapa buah harus bersih, packing harus rapi dan cepat, serta paham alasan buah-buah yang telah dikemas harus tiba di bandara tepat waktu.

Ini bukan tanpa tantangan. “Tantangan terbesar di riset dan teknologi. Kalau bicara teknologi pengiriman buah subtropis, itu banyak banget. Bisa dikirim 40 hari, disimpan setengah tahun. Kalau buah tropis, khususnya Indonesia, risetnya tidak terlalu banyak,” akunya.

 

Berguru Pada Para Petani

Margareta Astaman tak bisa menunggu orang lain meriset. Mau tak mau, ia dan tim bergerak. Di sisi lain, Margareta Astaman tak malu belajar buah dari nol. Mentornya para petani Tanah Air dengan “jam terbang” puluhan tahun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Saya berterima kasih kepada guru-guru saya, para petani. Mereka tanpa ada pretensi apa-apa, mau berbagi ilmu. Sekitar 70 atau 80 persen SOP kami yang mengusulkan para petani. Mereka sudah kerja sekitar 20 hingga 30 tahun,” Margareta Astaman menyambung. Java Fresh kini memberdayakan warga di enam titik yakni Sumedang dan Tasikmalaya (Jawa Barat), Bayuwangi (Jawa Timur), Bali, Yogyakarta, serta Sumatra Barat. Ke depan, Margareta Astaman ingin menjangkau daerah lain yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Lombok. Terkait ekspor, ia menyebut, “Kami sudah mengekspor buah ke 23 negara, utamanya Eropa Barat. Justru itu. Yang hari ini disebut sebagai buah terminal sepert manggis dan salak, malah dianggap sebagai buah mewah di Eropa.” Margareta Astaman menyampaikan ini dalam konferensi pers “Impact Beyond Banking: Peran DBS Foundation Mendorong Social Enterprise untuk Masa Depan Berkelanjutan,” di Jakarta Selatan, Kamis (13/2/2025).

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan