Iran Jual Harga Minyak Lebih Mahal 20% Usai Blokade Dicabut

Iran telah ekspor lebih dari 40 juta barel minyak. Namun, perusahaan pelacak kapal tanker memperkirakan ekspor itu lebih dari 50 juta barel.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Iran telah ekspor lebih dari 40 juta barel minyak mentah sejak Amerika Serikat (AS) mencabut blokade angkutan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pimpinan Negosiator Mohammed Bagher Ghalibaf menuturkan, Iran menjual minyak dengan harga lebih tinggi sekitar 20% sebelum perang.

Mengutip CNBC, Rabu, (1/7/2026), Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pada 17 Juni untuk mengakhiri hampir empat bulan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Selain itu, dua negara juga menetapkan 60 hari negosiasi untuk mencapai kesepakatan perdamaian permanen.

Kedua pihak sempat saling menyerang pada akhir pekan setelah Iran menyerang dua kapal yang melintas.

Gencatan senjata tersebut memicu lonjakan pengiriman minyak mentah melalui jalur air vital tersebut, di mana lalu lintas sebagian besar terhenti selama konflik, sehingga harga minyak anjlok tajam.

“Sejak hari blokade angkatan laut dicabut, kami telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak,” kata Ghalibaf dalam sebuah wawancara televisi yang dipublikasikan di saluran Telegram-nya.

Ia menuturkan, Iran tidak dapat mengekspor satu barel pun selama blokade sekitar dua bulan yang mendahului kesepakatan tersebut.

Perusahaan pelacak kapal tanker TankerTrackers.com pada Rabu, memperkirakan Iran telah mengekspor 50 juta barel minyak mentah sejak AS mencabut blokade angkatan lautnya terhadap ekspor energi negara itu dua minggu lalu. Perusahaan tersebut menggunakan citra satelit, fotografi di tepi pantai, dan sistem identifikasi otomatis waktu nyata untuk memantau pergerakan kapal.

Minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati US$ 73 per barel pada Rabu, turun hampir 40% dari puncak perang sebesar US$ 118 pada April.

Hal ini karena kemajuan diplomatik dan harapan akan pemulihan pasokan Teluk menekan harga. Analis Eurasia Group, Gregory Brew menuturkan, minyak mentah Iran dijual dengan diskon US$ 10 hingga US$ 15 per barel di bawah Brent sebelum perang untuk mengkompensasi pembeli atas risiko sanksi.

 

 

Iran Tak Ingin Lepaskan Hak di Selat Hormuz

Iran telah setuju untuk mengizinkan kapal-kapal melintasi Hormuz tanpa biaya selama 60 hari berdasarkan MOU, tetapi bersikeras bahwa mereka akan mempertahankan kendali atas administrasi jalur air tersebut.

“Kedaulatan Selat Hormuz berada di tangan Iran dan Oman, dan lalu lintas di selat tersebut tunduk pada pengaturan yang ditentukan oleh Iran,” kata Ghalibaf.

"Iran tidak akan melepaskan haknya di Selat Hormuz dalam keadaan apa pun, dan ini adalah perairan teritorial kami,” ia menambahkan.

Masih belum jelas bagaimana selat tersebut akan diatur setelah jangka waktu 60 hari berakhir. Kapal-kapal telah melintasi Selat Hormuz melalui koridor selatan di sepanjang pantai Oman atau melalui jalur yang dikendalikan Iran di utara.

Ghalibaf juga menolak klaim Presiden Donald Trump, aset Iran yang dicairkan akan digunakan untuk membeli barang-barang pertanian Amerika Serikat. Ia menuturkan,  US$ 12 miliar atau Rp 215,49 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.960) dari sekitar US$ 24 miliar atau Rp 430,99 triliun aset yang dibekukan di luar negeri akan masuk ke bank sentral negara tersebut untuk membeli barang apa pun yang dibutuhkan, dengan harga berapa pun dan dalam mata uang apa pun di dunia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6