Cerita Ria Prawiro Garap Album Sambil Menyepi dengan Bantuan Banyak Musisi Belia

Ria Prawiro mencoba kembali eksis dan berkolaborasi dengan musisi muda.

Diperbarui 22 September 2021, 13:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Setiap pagi saya bangunin mereka, dengan nyanyian ‘merdu’ saya. Lagunya “Indonesia Pusaka”. Terang aja mereka bangun, terus olahraga seadanya, breakfast, langsung masuk studio. Habis makan siang masuk kandang lagi, ketika senja rehat snack time sambil lihat lihat kebun yang hijau, canda-canda, workshop lagi. Tiba saatnya makan malam, abis gitu ya kembali masuk studio. Biasanya kami bubaran di atas jam 10,” cerita Ria.

Tuntas

Tanpa terasa, tim kecil ini menuntaskan 7 lagu.  Menurut Ria, album instrumental ini berproses dari awal. Bukan rekayasa musik  bervokal yang di ‘mute’ vokalnya  terus diformat minus one kemudian diisi instrumen musik lagi.  

“Saya sharing ide dasar lahirnya lagu perlagu. Biar mereka paham dan menghayati betul maknanya. Selanjutnya  mereka menerjemahkannya dalam musik,” ujar Ria. 

Hasil akhirnya  ada pencapaian musikal yang Ria inginkan dan kreativitas citarasa yang berbeda di setiap lagunya. 

Lagu “Kalau” yang liriknya filosofis tentang hidup oleh Ria Prawiro ibarat pengalaman batin, ketika berkunjung ke Tibet, Himalaya. Syukurlah, ambience musiknya bisa melukis suasana megahnya alam raya yang kondang seantero dunia tersebut. Lagu “You’re The One” adalah dedikasi untuk Mama terkasih. Sedangkan “Abdimu”  ditulis Ria secara personal untuk sang Ayah, Radius Prawiro.

Album “Kesatu” sudah tersedia di semua platform digital musik. Kita berharap suatu ketika, Ria Prawiro juga merilis versi fisiknya. Bisa berupa compact disc atau  piringan hitam yang saat ini kembali diburu kolektor musik dunia. Termasuk Indonesia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan