Resensi Film Spiral: Melacak Dalang Pembunuhan Berseri Pembantai Aparat, Tegang Hingga Menit Akhir

Film Spiral: From The Book of Saw, karya Darren Lynn Bousman, adalah sempalan dari waralaba Saw yang fenomenal di awal 2000-an.

Diterbitkan 16 Mei 2021, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dialah yang menggantikan James Wan menggarap Saw 2, 3, dan 4. Di tangan James dan Darren, Saw masih bermartabat. Setelahnya, sekuel Saw jadi pameran penyiksaan dengan cerita yang diada-adakan.

Spiral masih punya cerita dengan kerangka lumayan utuh. Darren menuturkan dengan ritme yang jauh dari kesan terseok-seok. Adegan pembuka, adalah signature sekaligus pengingat bahwa Spiral masih punya “hubungan darah” dengan Saw.

Gelagat Mencurigakan

Setelahnya, ia mencoba berdiri sendiri. Spiral menempatkan Zeke sebagai poros dan ayahnya, Marcus (Samuel L. Jackson) sebagai tumpuan. Semua karakter dalam Spiral abu-abu. Tak ada satu pun dari mereka yang bisa membuat kita jatuh cinta.

Sejak awal, para tokoh hadir dengan motivasi dan gelagat mencurigakan khususnya, orang-orang yang berada di kantor polisi. Chris Rock sejak awal terlalu meledak-ledak hingga terasa melelahkan di tengah.

Ia baru “stabil” memasuki paruh kedua, mendefinisikan ketakutan, panik, kehilangan, takut, berusaha kuat, dan cinta yang membuat penonton mulai berharap padanya. Meski kita tahu, dalam film seperti ini, sebaiknya tidak berharap kepada siapa pun termasuk tokoh utama.

Kucing-kucingan Dengan Polisi

Darren mengarahkan pemain dengan teliti. Bagi penggemar Saw, adegan penyiksaan yang tersaji di film ini bisa jadi tak terlalu seram. Namun tetap saja ada beberapa adegan yang bikin saya terpaksa menutup muka.

Khususnya, segmen Fitch yang terasa panjang dan menerbitkan sensasi ngilu. Spiral terasa lebih bermartabat karena naskahnya padat sekaligus lihai mempermainkan penonton.

Poin utama film ini, kucing-kucingan antara polisi dan penjahat. Bukan pamer penyiksaan berdarah. Di sanalah nyawa film ini berasal lengkap dengan pemaknaan atas ketimpangan hukum dan perlunya sebuah institusi diformat ulang agar lebih baik.

Kekuatan Sinematografi dan Editing

Spiral dipilih sebagai judul bukan tanpa alasan. Sejumlah tokoh hadir untuk dibantai dengan alasan kuat. Kilas balik berkelebatan bukan untuk menambal durasi.

Selain mengonfirmasi, ia menjadi kunci-kunci untuk menerangi rentetan teka-teki. Maka kita patut berterima kasih kepada penyunting gambar Dev Singh yang mampu menata kepingan adegan (termasuk kilas balik) dengan rapi.

Apresiasi patut diberikan pula kepada sinematografer Jordam Oram. Sejumlah momen penyiksaan di film ini tak hanya tampak ngeri tapi juga puitis berkat pemilihan angle dan permainan cahaya dalam ruang penjagalan.

Adegan Akhir Bikin Syok

Ketegangan Spiral makin lengkap dengan adegan akhir yang bikin syok. Kentara sekali babak akhir disiapkan dengan proper. Gambar-gambar lebih indah, penyuntingannya tak bikin penonton gelagapan dalam mencerna, ritme cerita pun makin meletup-letup.

Effort yang disajikan para aktor di babak akhir sangat meyakinkan. Untuk genre macam Spiral, happy atau unhappy ending tak lagi penting. Babak akhir yang proper, terlepas dari siapa yang “menang,” telah meninggalkan kesan mendalam di benak penonton.

Kami rekomendasikan Spiral untuk Anda. Jangan lupa, selama di bioskop, patuhi protokol kesehatan dengan pakai masker, jaga jarak, dan membersihkan tangan secara berkala. Kuy!

 

Pemain: Chris Rock, Max Minghella, Marisol Nichols, Samuel L. Jackson, Dan Petronijevic, Richard Zeppieri, Zoie Palmer, Genelle Williams

Produser: Oren Koules, Mark Burg

Sutradara: Darren Lynn Bousman

Penulis: Josh Stolberg, Peter Goldfinger

Produksi: Twisted Pictures, Lionsgate

Durasi: 1 jam, 33 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan