Toy Story 4: Cerita Woody di Fase Transisi, Lebih Mengaduk Emosi

Toy Story 4 merupakan jilid terbaik dalam waralaba ini setelah film perdananya dirilis pada 1995.

Diterbitkan 23 Juni 2019, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Fase transisi ini mengguncang kejiwaan sang karakter utama. Masa keemasannya bersama Andy terus membayang. Woody ingin mendapat cinta sebesar cinta Andy dulu. Gegar budaya membuat Woody melakukan apa saja atas nama kesetiaan.

Bagi mainan, menemani dan menciptakan masa kecil yang indah untuk manusia adalah tugas mulia. Maka Woody rela melakukan apapun. Ini bentuk kesetiaan atau ego berbasis kerinduan terhadap masa emas?

Gugatan berbentuk pertanyaan ini dilayangkan Bo Peep (Annie Potts) yang kemudian direnungkan oleh penonton. Dibandingkan dengan Toy Story 3, jilid keempat ini lebih mengaduk emosi.

 Ada banyak momen haru yang membuat air mata menetes. Gelagat banyak momen haru sudah terasa pada 10 menit pertama ketika sekelompok mainan dinilai sudah tidak layak menghuni kamar. Toy Story menjadi kisah hangat salah satunya karena seluruh karakter tak ada yang baik maupun jahat. Gabby misalnya, mengincar mesin suara Woody dengan alasan khusus. Secara psikologis, ia kesepian, merasa cacat, dan ingin sekali saja menjadi manfaat.

Jilid Terbaik

 

Jilid ini bagi kami lebih mudah terkoneksi dengan penonton ketimbang Toy Story 3.

Toy Story 3 mengusung tema perpisahan remaja dengan mainan kesayangannya. Tak semua remaja lahir dari keluarga berduit dan mampu beli mainan. Saya misalnya, hanya terharu menonton Toy Story 3 namun tak merasa punya ikatan batin dengan itu. 

Toy Story 4 bicara soal misi mainan yakni menciptakan kenangan masa kecil yang indah untuk manusia. Lebih dari itu, ia bicara kesetiaan, pengorbanan, ego, pilihan hidup dan konsekuensinya.

Dituturkan dengan alur linear, dilapisi lagu-lagu yang memberi penekanan pada adegan tertentu, plus karakter pendukung berselera humor gokil. Kita tak akan lupa pada kegilaan Ducky (Keegan-Michael Key) dan Bunny (Jordan Peele). Tanpa keluguan, fantasi berlebih, dan ide “cerdas” versi mereka, Toy Story 4 berpotensi garing. Semua karakter di film ini penting. Itu yang membuat kita dengan mudah mencintai dan mengingat banyak momen di Toy Story 4.

Pendek kata, Toy Story 4 merupakan potret sebuah karakter di era transisi. Siapa pun dari kita pasti pernah, sedang, atau akan melewatinya. Tak mudah, penuh risiko, mendebarkan, dan ada kalanya membuat kita takut lalu menangis. Film ini membingkai banyak ekspresi dan momen yang mendefinisikan transisi yang dimaksud. Sekitar 15 menit terakhir film ini membuat mata kami kembali berlinang. Ini jilid terbaik Toy Story setelah film perdananya dirilis pada 1995.

 

 

 

Pengisi suara: Tom Hanks, Tony Hale, Madelaine McGraw, Lori Alan, Jay Hernandez, Christina Hendricks, Jack McGraw, Lila Sage Bromley, Annie Potts

Produser: Jonas Rivera, Mark Nielsen

Sutradara: Josh Cooley

Penulis: Andrew Stanton, Stephany Folsom

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar

Durasi: 1 jam, 40 menit

 

(Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan