Sukses

EKSKLUSIF Wawancara Sutradara Inside Out, Pete Docter

Liputan6.com, Jakarta Awal Agustus kemarin, Indonesia kedatangan tamu istimewa, yaitu sutradara film teranyar Pixar, Inside Out: Pete Docter dan rekannya yang ikut menyutradarai, Ronnie del Carmen.

Sebelum membesut Inside Out, Pete mengisi kursi sutradara Monsters, Inc. dan Up. Selain itu, sehari-harinya di studio animasi Pixar Animation Studios milik Disney, ia menjabat wakil presiden kreatif.

Pete Docter bukan orang baru di Pixar. Ia bahkan sudah bekerja di perusahaan yang dulunya dimiliki Steve Jobs itu lima tahun sebelum film animasi panjang mereka, Toy Story (1995) lahir. Tangan dinginnya juga ikut membidani Toy Story, A Bug's Life, Toy Story 2 dan Wall-E. Ia pun turut menjabat eksekutif produser untuk Brave dan Monsters University.

Sandra Dewi, Pete Docter dan Ronnie del Carmen. (foto: Ade Irwansyah/Liputan6.com)

Liputan6.com berkesempatan turut mewawancarai langsung Pete Docter bersama sejumlah wartawan lain. Kami bicara banyak hal. Tentang film Inside Out, tanggapannya soal "persaingan" Walt Disney Animation Studios dan Pixar, hingga masa kecilnya.

Berikut petikan wawancara kami dengan ayah dua anak (Nicolas dan Elie) ini.

Baca juga:

REVIEW Inside Out

2 dari 3 halaman

Tentang Pembuatan Inside Out

Kenapa Anda memutuskan berkunjung ke kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sebab hal ini tak pernah Anda lakukan di film-film sebelumnya?

Ya, ini baru pertama kali. Setelah berbicara dengan mitra kami di Disney, kami tahu ini pasar yang sedang berkembang. Di sini ada komunitas bioskop yang hebat. Saat hari panas, orang ke mal dan nonton film. Itu menarik buat kami.

Anda katakan Inside Out terinspirasi putri Anda yang mulai tumbuh besar. Apa dia udah nonton filmnya? Bagaimana reaksinya?

Dia sudah nonton. Sekarang umurnya 16 tahun. Dia bilang, cukup keren. Dia menyukainya.

Apa Anda melihat reaksi orang-orang saat mereka menonton film Anda?

Saat mempertontonkannya, ya saya ingin melihat reaksi mereka. Saya biasa pura-pura melihat ke belakang atau melihat bayangan orang-orang dari kacamata saya. Tapi begitu sudah rilis, saya tak terlalu sering menonton film-film saya. Saya sudah bertahun-tahun tak nonton lagi Monsters Inc. atau Up. Tapi saya mungkin akan menontonnya lagi sambil mengingat-ingat bagaimana saya membuatnya.

Apa yang Anda dapati dari reaksi orang-orang setelah menonton Inside Out?

Saya rasa, hal yang penting kami temukan adalah betapa pentingnya emosi yang membuat kami saling terhubung. Terkadang kita tak ingin memerlihatkan diri sedang marah, takut atau terutama sedih, karena kita merasa itu sebagai sebuah kelemahan.

Namun justru emosi itu yang pada akhirnya menghubungkan kita. Itu yang membuat kita dan orang lain saling memahami. Kalau cuma mengobrol lalu pergi, itu cuma hubungan di permukaan. Lain halnya bila berhubungan dengan orang begitu berarti bagi kamu. Kita bebas mengungkapkan berbagai ekspresi kita. Jadi, itu yang justru menghubungkan kita satu sama lain.

Sebagai orangtua, seperti terefleksikan di film, perannya adalah berada bersama anak-anak dan bilang, kadang dunia tak seperti yang mereka inginkan. Tidak semua keinginan tercapai. Tapi sebagai orangtua, selalu ada buat mereka.

Pete Docter dan Ronnie del Carmen. (foto: Ade Irwansyah/Liputan6.com)

Sejak 1995 Pixar membuat film panjang. Dan belum lama ini ada yang membuat meme, Pixar telah membuat film tentang boneka yang punya perasaan, serangga punya perasaan dan seterusnya. Sekarang Pixar bikin film tentang perasaan yang punya perasaan. Bagaimana Anda memandang hal itu?

Ya, saya sudah melihat memenya. Kami di kantor tak melihatnya seperti itu. Tapi itu pengamatan menarik. Kami membuat film tentang mobil, serangga tapi sebenarnya yang kami buat adalah tentang perasaan. Sebab, itu yang akhirnya terhubung dengan penonton.

Tapi yang menarik, dari pengalaman saya, ketika anak laki-laki saya bahkan belum berusia 1 tahun, saat melihat saya dan istri beradu argumen, dia tentu tak mengerti yang kami bicarakan. Tapi dia tahu ada ketegangan sedang terjadi.

Jadi, saya memahami emosi adalah bahasa yang pertama kita pelajari. Dan itulah gagasan film Inside Out ini. Senang semua orang bisa menerima gagasan kami.

Adegan film Inside Out. (dok. Disney/Pixar)

Apa tantangan yang terbesar saat membuat Inside Out?

Ada banyak. Sulit menentukan yang mana. Tapi ada satu momen saat proses pengembangan cerita, yakni saat kami menggambar, memberi dialog dan musik, semacam memulai seperti apa filmnya kelak, sebelum kami mulai produksi. Jadi kami mengumpulkan orang-orang yang membuat filmnya ke ruang screening, memperlihatkan gambaran sepertia apa filmnya kelak.

Waktu itu kami sudah jalan tiga tahun membuatnya. Itu waktu yang sangat lama, sudah banyak riset dan uang kami keluarkan. Tapi saya kemudian sadar, film ini tak bekerja sebagaimana mestinya. Kami punya adegan-adegan hebat. Banyak adegan lucu. Tapi saya tak mendapati film ini ingin bercerita tentang apa.

Waktu itu, kami pasangkan Joy dengan Fear. Tapi waktu itu saya berpikir, apa yang bisa dipelajari Joy dari Fear selain jangan jadi penakut. Dan hal itu sudah jelas.

Saat itu adalah momen yang sangat menakutkan. Saat mendapat ide memasangkannya dengan Sadness, saya sadar kita harus mengulang lagi proses cerita dari awal.

Jadi saya menghubungi Ronnie dan produser saya, saya menyediakan mereka minuman lalu bilang, "Rasanya kita harus lakukan ini, karena begini." Saya pikir mereka bakal bilang, "Ya ampuun.." tapi reaksi mereka, "Wah hebat, ayo kita lakukan!" Sebab saat saya sampaikan ide baru itu, mereka juga merasa hal itu akan membuat filmnya jadi makin kuat.

Saya mendengar kru film Inside out yang paling sedikit dibanding film Pixar yang lain. Benarkah?

Kru yang paling kecil itu Toy Story, film pertama kami. Tapi sejak itu kru filmnya selalu bertambah setiap kami bikin film. Film ini dikerjakan 270 orang, yang tetap saja jumlahnya besar. Namun, yang paling hebat dari hal itu adalah kami bisa saling mengenal lebih jauh. Saya jadi lebih tahu apa kekuatan seseorang, dan bisa memanfaatkan kekuatan itu. Bagi saya, membuat film ini memberi pengalaman lebih menyenangkan.

Bisa Anda ceritakan seperti apa Anda waktu umur 11 tahun? Apakah seperti Riley? Dan apa lima emosi paling dominan dalam diri Anda?

Waktu kecil saya pendiam. Saya gugup dan pemalu. Ketimbang bermain bersama teman-teman, saya lebih senang menggambar atau membuat sesuatu. Saya tak terlalu pandai mengekspresikan diri dengan kata-kata, dan itu yang membuat saya banyak menggambar. Waktu itu saya banyak diam dan pemalu.

Tapi pada akhirnya itu yang membuat saya masuk ke dunia film. Jadi, menderita dahulu bersenang-senang kemudian.

Dan lima emosi paling dominan saat itu mungkin adalah Fear, Pemalu, tapi ada juga banyak rasa bahagia.

3 dari 3 halaman

Persaingan Pixar dengan Walt Disney Animation Studios

Saat ini, saya rasa, kompetitor utama Pixar adalah Walt Disney Animation, yang sebetulnya sama-sama di bawah Disney. Apa Anda merasakan ada kompetisi seperti itu?

Ya, sedikit. Tapi bukan kompetisi semacam, "Duh, kita harus bisa lebih baik dari mereka." Jadi bukan yang semacam itu. Lebih kepada, saat melihat hasil kerja mereka, kami bereaksi "Wow.." Misalnya, buat saya Tangled adalah film yang diikerjakan tim yang hebat di jenis animasi komputer, yang saya tak pernah lihat lagi sejak Toy Story. Saat melihatnya, kami kagum dan kami ingin belajar dari mereka.

Dan saya merasa itu hal bagus, khususnya di aspek teknis. Dan itu pula yang menguntungkan karena kami berada dalam satu induk perusahaaan. Kami tinggal menelepon dan minta mereka datang, menjelaskan yang mereka lakukan. Atau bisa sebaliknya.

Setiap tiga bulan kami adakan nonton bareng. Khusus untuk Inside Out ini ada cerita begini. Kami di Pixar sudah melihat hasil kerja kami berkali-kali, tapi ada satu saat kami ke (studio Walt Disney Animation) Los Angeles dan memperlihatkan filmnya pada mereka. Dan mereka bisa melihat ada yang kurang. Itu hebat.

Apa ada semacam pedoman di Walt Disney Animation atau Pixar yang mengatakan, "Itu bukan gaya Pixar, itu gaya Disney." Apa ada hal semacam itu berlaku di sana?

Pertanyaan menarik, orang sering bilang Brave terlihat seperti film Disney, sedang Wreck-it Ralph terlihat seperti buatan Pixar. Yang bisa bilang, kami kelompok yang berbeda. Dan saya harap film yang kami hasilkan merefleksikan pembuatnya saat itu.

Sampai saat ini ciri atau gaya itu belum terdefenisikan. Dan buat saya itu mungkin baik. Sebab, jika sampai ada pengumuman yang mengatakan ini gaya Pixar dan ini gaya Disney, itu nggak benar.

Pete Docter dan Ronnie del Carmen. (foto: Ade Irwansyah/Liputan6.com)

Anda sudah bekerja sejak 1990 di Pixar, bahkan lima tahun sebelum Toy Story dibuat, emosi apa yang paling mendominasi Anda dalam kaitannya bekerja di Pixar?

Dalam hal bekerja di Pixar, emosi utama adalah rasa syukur. Sebab, dengan kesempatan bekerja di studio film apa saja saat itu, saya sendiri tak tahu kenapa dulu memilih Pixar, sebuah perusahaan komputer kecil. Mereka tak membuat film animasi yang ingin saya buat waktu itu.

Tapi waktu itu John Lasseter (pendiri Pixar) dan film-film pencdek yang mereka buat begitu menarik buat saya. Dan dari situ segala hal kemudian berjalan jadi baik.

Dan sekarang saya berada pada posisi bisa membuat film yang saya inginkan, tentang bagaimana saya memandang dunia ini. Ini sebuah pengalaman yang hebat. Dan saya merasa amat bersyukur untuk itu.** (Ade/Rul)