REVIEW Inside Out, Dunia di Kepala Bocah 11 Tahun

Inside Out tontonan yang sangat cerdas, sebuah masterpiece yang sekali lagi dilahirkan Pixar.

Diterbitkan 21 Agustus 2015, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta SPOILER ALERT: PERINGATAN! Ulasan ini mengandung bocoran cerita karena membincangkan inti film Inside Out.

Film teranyar persembahan studio animasi Pixar milik Disney, Inside Out sebetulnya punya jalan cerita begini: seorang bocah berusia 11 tahun bernama Riley (suaranya diisi Kaitlyn Dias) punya kehidupan bahagia di kota asalnya, Minnesota.

Ia punya orangtua yang menyayanginya, teman-teman terbaik serta hobinya main hoki es tersalurkan di lingkungan Minnesota yang bersalju tebal bila musim dingin.

Tapi, suatu hari, orangtuanya memutuskan pindah ke San Francisco. Di kota yang baru, Riley begitu merindukan Minnesota dan segala kebahagiaannya di sana. Rumahnya di San Francisco begitu sempit. Ia canggung berteman dengan orang-orang baru. Mendadak pula, keahliannya berhoki seperti hilang.

Syahdan, Riley lalu berniat kabur. Bila semua kebahagiaannya ada di Minnesota, maka satu-satunya cara ia bisa bahagia kembali ya dengan kembali ke sana. Begitu ia berpikir.

Tekad sudah bulat. Ia kabur dari rumah. Namun, saat bus melaju ia berubah pikiran. Riley kembali ke rumah, ke pelukan ayah-ibunya. Tamat.

Begitu saja sebetulnya cerita Inside Out. Meski begitu, tentu bagi yang sudah menontonnya, yang saya tuliskan di atas hanya setengah dari yang disampaikan filmnya. Jika film keluaran Pixar ini hanya menyuguhkan cerita di atas saja, filmnya takkan jadi suguhan istimewa.

Namun, yang kita bicarakan ini adalah film keluaran Pixar. Studio animasi ini sudah sejak 20 tahun lalu melahirkan film-film animasi istimewa yang langsung jadi klasik, mulai dari Toy Story, The Incredibles, Monster Inc., Finding Nemo, Up, Ratatouille hingga Wall-E.

Adegan film Inside Out. (dok. Disney/Pixar)

Inside Out juga bukan animasi biasa.

Kesan pertama usai nonton film yang dibesut Pete Docter ini bagi saya persis ketika menyaksikan Wall-E (2008).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Saya begitu terpukau ketika nonton Wall-E di bioskop dahulu. Wall-E membuktikan makna film sebagai film bergerak alias motion picture. Setengah jam pertama filmnya tanpa dialog, namun kita tetap memahami ceritanya. Bagi saya pula, film tersebut sama kelasnya dengan 2001: A Space Odyssey (1968), masterpiece-nya Stanley Kubrick. Wall-E punya makna filosofis yang setara, bagaimana manusia menempatkan dirinya dalam kosmos. Yang lebih membuat Wall-E terasa unggul, ia film animasi yang ditujukan bagi semua umur. Bukan jenis film berat kelas festival. Artinya, ia berhasil menjelaskan hal filosofis dengan cara sederhana. Itu jelas satu nilai lebih. Hal semacam itu pula yang kemudian saya temukan lagi usai nonton Inside Out. Filmnya semacam anti-tesis dari Inception-nya Christopher Nolan. Bukan maksud saya hendak bilang dua film itu punya tema serupa. Melainkan, bila Nolan menyampaikan gagasannya dengan njelimet—membuat penonton yang memahami filmnya merasa pintar—tak demikian dengan Inside Out. Film Pixar ini justru ingin menyederhanakan apa yang terasa rumit. Saya teringat sebuah adegan di film Margin Call (2011) yang berkisah soal detik-detik keruntuhan finansial global, saat sang pengusaha yang perusahaannya hendak kolaps (diperankan Jeremy Irons) bertanya pada karyawannya, minta penjelasan. “… (P)lease, speak as you might to a young child. Or a golden retriever,” katanya. Dan demikianlah Inside Out berbicara.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Feby FerdianTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan