Biodiesel B50 Segera Diterapkan, Intip Bocoran Harganya

Kementerian ESDM pastikan penerapan biodiesel B50 tidak akan mengubah harga jual ke masyarakat. Skema harga tetap mengacu pada formula solar saat ini.

Diterbitkan 26 Juni 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa penerapan program biodiesel B50 tidak akan mengubah harga jual bahan bakar diesel di tingkat masyarakat. Kebijakan harga untuk B50 dipastikan tetap mengikuti formula penetapan harga solar yang berlaku saat ini.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa pemerintah tidak menyiapkan skema khusus dalam menetapkan harga B50. Menurutnya, harga bahan bakar nabati tersebut tetap akan mengacu pada mekanisme pasar dan regulasi yang selama ini sudah berjalan.

“Kalau harga mengikuti harga BBM yang sudah berjalan selama ini, tidak ada hal khusus,” kata Laode di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (26/6/2026).

Laode menegaskan, peningkatan kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari 40 persen (B40) menjadi 50 persen (B50) tidak serta-merta mengerek harga jual ke konsumen. Pemerintah masih menggunakan formula penetapan harga yang persis sama seperti saat program B40 diberlakukan.

“Formula yang kami jalankan saat ini masih mengikuti formula yang sebelumnya,” ujarnya menambahkan.

Di sisi lain, Laode enggan memberikan komentar lebih jauh mengenai isu subsidi FAME dalam pelaksanaan program B50 ini. Ia menekankan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah menitikberatkan pembahasan pada harga jual akhir yang aman dan dapat diterima oleh konsumen luas.

Secara teknis, penerapan B50 pada dasarnya hanya menggantikan produk B40 terdahulu dengan meningkatkan komposisi campuran minyak kelapa sawit (FAME) menjadi 50 persen. Sementara itu, untuk harga jual eceran kepada konsumen akan tetap mengikuti fluktuasi harga solar yang dievaluasi dan ditetapkan pemerintah setiap bulannya.

“Iya, cuman sekarang komponennya jadi 50 persen FAME,” ucapnya memungkasi.

Prabowo: B50 Meluncur Juli 2026, Kita Tak Akan Impor Solar Lagi

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan pemerintah akan meluncurkan program biodiesel 50 atau B50 pada Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.

Prabowo menyebut penggunaan campuran 50 persen biodiesel berbasis kelapa sawit akan membuat Indonesia tidak lagi perlu mengimpor solar dari luar negeri.

"Bulan Juli ini berapa hari lagi kita akan launching B50. B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri saudara-saudara sekalian," kata Prabowo saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan di Kabupaten Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Menurut Prabowo, implementasi B50 menjadi salah satu fondasi menuju swasembada energi nasional. Ia optimistis Indonesia dapat memenuhi kebutuhan energi dalam negeri tanpa bergantung pada impor bahan bakar minyak.

"Dan kita akan menghemat banyak sekali. Saya perkirakan tiga tahun lagi, maksimal empat tahun lagi kita akan swasembada energi. Kita tidak mau impor apa pun untuk BBM kita, untuk energi kita saudara-saudara sekalian," ujarnya.

 

Diterapkan 1 Juli 2026

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan program B50 akan mulai diterapkan pada 1 Juli 2026.

Menurut Bahlil, implementasi B50 dilakukan setelah melalui serangkaian uji coba pada berbagai jenis kendaraan dan alat berat.

"Jadi insyaallah kami sangat optimis untuk implementasi launching daripada B50 itu akan dilakukan nanti di 2026, 1 Juli. Dengan demikian maka itu kita akan mengurangi atau bahkan kita tidak lagi melakukan impor solar khususnya C48," kata Bahlil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6