Rupiah Hari Ini Perkasa terhadap Dolar AS, Sentuh 17.810

Berikut prediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sentimen yang akan mempengaruhinya pada Senin, (10/8/2026).

Diterbitkan 10 Agustus 2026, 10:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat pada perdagangan Senin, (10/8/2026). Analis prediksi rupiah berpotensi menguat didukung data cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 87 poin atau 0,49% menjadi 17.810 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.897 per dolar AS.

“Rupiah masih mendapatkan dukungan dari kondisi cadangan devisa yang relatif kuat,” ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa, dikutip dari Antara.

Adapun cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 sebesar US$ 145,3 miliar, melemah tipis dari US$ 145,6 miliar pada bulan sebelumnya.

Seiring cadangan devisa yang masih tinggi dinilai memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing.

Namun, ia menuturkan, penurunan tersebut juga menunjukkan, tekanan terhadap rupiah masih perlu diperhatikan.

Melihat dari sisi global, rupiah mendapat sentimen positif seiring indeks dolar AS berada di 99,6, terendah sejak awal Juni, setelah data pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.

Dalam jangka pendek, pasar disebut akan mencermati data inflasi AS yang menjadi salah satu indikator penting dalam membentuk ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September 2026.

"Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan dolar AS dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dapat kembali meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan mendorong penguatan dolar AS," kata Amru.

Dalam jangka pendek, rupiah akan masih berpotensi menguat secara terbatas dengan kisaran 17.750-17.900 per dolar AS.

Dia menuturkan, jika inflasi AS tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Federal Reserve (the Fed) berpotensi meningkat, sehingga menekan dolar AS dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Rupiah Menguat ke 17.897 per Dolar AS, Cadangan Devisa Jadi Penopang

Sebelumnya, nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026). Mata uang Garuda ditutup naik 26 poin atau 0,15 persen ke level 17.897 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 17.923 per dolar AS.

Penguatan juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) yang berada di level 17.913 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya 17.919 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi oleh rilis data cadangan devisa Indonesia yang tetap stabil di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

"Rupiah dibuka melemah, sejalan dengan data ketenagakerjaan AS yang masih memperlihatkan resiliensi pada malam sebelumnya. Rupiah kemudian berbalik arah setelah rilis data cadangan devisa Indonesia di bulan Juli 2026, yang cenderung stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya, di tengah turbulensi ketidakpastian global di bulan Juli 2026," ujarnya dikutip dari Antara. 

Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 sebesar US$ 145,3 miliar, relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang mencapai US$ 145,6 miliar. Penurunan yang terjadi hanya sekitar US$ 0,3 miliar, sehingga dinilai masih mencerminkan ketahanan sektor eksternal Indonesia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6