Menakar Humor dalam `Dumb and Dumber To`

Bagaimana kita menakar nilai humor di film terbaru Jim Carrey dan Jeff Daniels, Dumb and Dumber To?

Diterbitkan 02 Desember 2014, 22:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pakar psikoanalisis Sigmund Freud suatu kali juga menyerempet sedikit soal humor dalam kajiannya. Freud memandang humor dalam aspek sosiologis, di mana ia menyebut humor adalah suatu gejala sosial dan kejiwaan yang dapat dimiliki dan dinikmati bersama.

Nah, marilah beberapa definisi humor di atas menjadi pijakan kita dalam memahami humor di film Dumb and Dumber To ini.

***

Bagi banyak orang yang tumbuh di era 1990-an, Dumb and Dumber (rilis 1994) adalah salah satu film yang menjadi penanda era itu. Tahun itu, dunia sedang punya idola baru: Jim Carrey, bintang komedi yang dijuluki si muka karet. Selain Dumb and Dumber, tahun itu Carrey punya dua film hit lagi yang kini juga layak disebut klasik, Ace Ventura: Pet Detective dan The Mask. Tiga film itu menjadi roket yang membawa karier Carrey ke puncak popularitas di era 1990-an.

Dumb and Dumber juga menjadi debut penyutradaraan kakak-beradik Farrelly. Filmnya dulu tak hanya sukses mengocok perut penonton lewat aksi konyol Harry (Jeff Daniels) dan Lloyd (Jim Carrey), tapi juga disukai kritikus. Lelucon konyol slapstick ala Three Stooges rupanya cocok juga dengan selera kritikus film.

Nah, tahun 2003, di tengah demam prekuel alias menceritakan asal-muasal kisah sedang melanda Hollywood, dibuatlah Dumb and Dumberer: When Harry Met Lloyd. Niatannya sih baik, hendak mengenalkan pada kita bagaimana awal mula persahabatan Harry dan Lloyd di masa muda. Namun, rupanya, penonton bukan mencintai karakter Harry dan Lloyd, melainkan pada Jim Carrey dan Jeff Daniels yang tak tergantikan. Film prekuel ini dianggap gagal. Lelucon yang disuguhkan sutradara Troy Miller dianggap agak memaksa.

Maka, dua puluh tahun kemudian, kita pun bertemu lagi dengan Jim Carrey dan Jeff Daniels. Farrelly Bersaudara kembali didapuk menyutradarai.

Dumb and Dumber To mengisahkan Lloyd menderita gangguan jiwa akibat cintanya ditolak. Ia tak bisa jalan. Tinggal di kursi roda dengan janggut dan rambut lebat dibiarkan tumbuh. Sahabatnya, Harry setiap minggu menjenguknya selama 20 tahun sambil merawatnya.

Tak tahunya, Lloyd hanya pura-pura selama 20 tahun. Kemudian ketahuan juga Harry membutuhkan donor ginjal. Ia mendapati pernah punya anak haram dengan teman perempuannya, Fraida (Kathleen Turner).

Dari situ petualangan baru Lloyd dan Harry dimulai. Mereka mencari anak haram Harry.

Lloyd dan Harry berhasil bertemu anak yang sudah tumbuh jadi wanita jelita itu. Namun bukan itu yang penting. Bahkan bila ditelisik, cerita film ini sungguh tak penting. Filmnya punya kelokan alias twist konyol yang makin mengkerdilkan nilai ceritanya. Meminjam ungkapan kritikus film mendiang Roger Ebert, Dumb and Dumber To layak masuk kategori film yang ceritanya jadi tak penting lagi. "It’s all storytelling and no story," demikian mantra Ebert. Sebuah film bisa tak punya cerita yang penting, namun tetap masih bisa dinikmati.

Yang dijual Dumb and Dumber To adalah humor demi humor yang tersaji ke hadapan penonton. Saya membayangkan, ketika rapat, tim penulis naskahnya kelihatannya lebih sibuk mengisi lelucon apa lagi yang bakal dimasukkan ke dalam film.


***

Syahdan, kita disuguhi lelucon yang bertubi-tubi di layar. Kita melihat Lloyd dan Harry, misalnya, tak mengerti bagaimana membaca amplop surat hingga alih-alih datang ke alamat yang dituju, malah mencari alamat pengirim. Tapi kita juga melihat bagaimana Lloyd menertawai orangtua Harry yang beretnis Tionghoa atau juga saat mereka mengerjai pria buta. Atau tengok juga betapa dua pria ini begitu merendahkan perempuan.

Bagi sebagian orang humor yang tersaji di Dumb and Dumber To bisa dikategorikan sangat kasar, mengganggu alih-alih mengundang tawa. Pada titik ini, humor dipakai sebagaimana dirumuskan Plato yakni sebagai perwujudan selera rendah kita.

Lantas, bila kita kemudian tertawa oleh humor berselera rendah yang disajikan Farrelly Bersaudara di film ini, apa kemudian kita juga berselera rendah?

Di sini, sebetulnya, film ini menemukan signifikansinya. Dumb and Dumber To sejatinya hendak mengukur toleransi kita, sampai batas mana sebuah humor dianggap mengganggu dan tak lucu lagi. Humor di film ini bukanlah humor yang bersifat universal. Dan mungkin humor memang tak pernah bersifat universal.

Humor pun tak pernah bebas nilai sebagaimana diisyaratkan Freud di awal tulisan ini. Kalau kita tertawa, memang hal itu lucu menurut standar sosial kita. Kemudian, haruskah kita merasa bersalah bila ikut tertawa? Warkop DKI sudah memberi petunjuk pada kita, “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” (Ade/Fir)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Firli Athiah NabilaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan