Saham Rolls Royce Cetak Rekor Setiap Hari di 2026, Ini Pendorongnya

Saham Rolls Royce mencetak rekor baru setiap hari sepanjang 2026 berkat bisnis pertahanan, energi, dan data center.

Diterbitkan 11 Januari 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saham Rolls Royce terus mencetak rekor tertinggi baru pada setiap hari perdagangan sepanjang 2026. Kinerja impresif ini terjadi karena perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan asal Inggris tersebut mendapatkan dorongan dari berbagai lini bisnis, mulai dari sektor pertahanan, power systems, hingga reli pasar saham FTSE 100 secara keseluruhan.

Dikutip dari CNBC, Minggu (11/1/2026), dalam lima tahun terakhir, saham Rolls-Royce telah melonjak hampir 1.200 persen. Tema besar yang mengangkat kinerja saham perusahaan belakangan ini adalah meningkatnya belanja pertahanan global, seiring memanasnya tensi geopolitik.

Saham Rolls-Royce telah menguat sekitar 10 persen sepanjang 2026. Meski demikian, kinerjanya masih tertinggal dibandingkan sejumlah saham pertahanan Eropa lain seperti Rheinmetall, Leonardo, Saab, dan BAE Systems.

Ketegangan geopolitik di awal 2026, termasuk serangan besar Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, serta pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana mengambil alih Greenland, turut memicu lonjakan saham-saham sektor pertahanan.

Namun, Rolls-Royce tidak semata-mata bergantung pada bisnis pertahanan. Segmen ini hanya menyumbang sekitar 25 persen dari pendapatan dasar perusahaan dan pertumbuhannya relatif terbatas pada laporan kinerja semester terakhir.

“Menariknya, dalam jangka pendek, dampak pertumbuhan [pertahanan] itu tidak terlihat di bisnis pertahanan kami, tetapi justru di bisnis power systems, yang memiliki siklus pemerintahan, dan kami punya posisi terdepan di pertahanan darat dan laut, yang biasanya bergerak dalam siklus lebih pendek,” ujar Chief Financial Officer Rolls-Royce, Helen McCabe, kepada CNBC.

 

Pesanan Melonjak 85 Persen

Segmen power systems Rolls-Royce memproduksi mesin untuk kapal dan kapal selam, sekaligus menaungi bisnis pusat data (data center). McCabe menyebut potensi bisnis ini “sangat besar”, dengan pesanan yang melonjak 85 persen secara tahunan.

Sementara itu, unit civil aerospace yang menjadi kontributor pendapatan terbesar Rolls-Royce—produsen mesin pesawat untuk Boeing dan Airbus—dinilai analis UBS Ian Douglas-Pennant sebagai kisah pemulihan jangka panjang. UBS pun menaikkan target harga saham Rolls-Royce menjadi 1.625 pence dari sebelumnya 1.350 pence.

Kenaikan target tersebut didorong oleh revisi proyeksi pertumbuhan penjualan pembangkit listrik menjadi 26 persen hingga 2028, dari sebelumnya 20 persen untuk periode 2024–2028. Dengan proyeksi tersebut, laba operasional (EBIT) bisnis power systems diperkirakan bisa melonjak hingga 60 persen pada 2028.

 

 

Bisnis Pembangkitan Energi

Rolls-Royce juga tengah mengembangkan bisnis pembangkitan energi. Pada Juni lalu, perusahaan mendapat dukungan pemerintah Inggris untuk membangun reaktor nuklir modular kecil pertama di negara tersebut.

Meski prospeknya positif, valuasi saham menjadi perhatian investor. Rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) Rolls-Royce untuk 12 bulan ke depan telah melampaui 36 kali, lebih tinggi dibandingkan sebagian besar pesaingnya, menurut data LSEG.

Investor kini menantikan laporan keuangan tahunan Rolls-Royce yang dijadwalkan rilis pada 26 Februari, sekaligus mencermati perkembangan rencana pembelian kembali saham (buyback) yang diumumkan perusahaan pada Desember lalu.