Wall Street Menguat Dua Hari Beruntun, Saham AI Kembali Pimpin Reli

Wall Street menguat dua hari beruntun dipimpin saham AI. Oracle, Nvidia, dan Micron jadi motor penggerak pasar.

Diterbitkan 20 Desember 2025, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham Amerika Serikat (AS) atau biasa disebut Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat. Kenaikan Wall Street ini dipimpin saham Oracle, seiring kembali bergairahnya perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) setelah sempat mengalami volatilitas.

Mengutip CNBC, Sabtu (20/12/2025), Indeks Nasdaq Composite melonjak 1,31% dan ditutup di level 23.307,62. S&P 500 menguat 0,88% ke posisi 6.834,50, sementara Dow Jones Industrial Average naik 183,04 poin atau 0,38% ke level 48.134,89.

Ini menjadi hari kedua berturut-turut seluruh indeks utama Wall Street mencatatkan penguatan.

Saham Oracle melesat 6,6% setelah TikTok menyepakati penjualan operasi bisnisnya di Amerika Serikat (AS ) kepada perusahaan patungan baru yang melibatkan Oracle dan perusahaan ekuitas swasta Silver Lake.

Lonjakan tersebut menjadi titik balik bagi saham Oracle yang sebelumnya tertekan. Tekanan muncul setelah laporan menyebut perusahaan infrastruktur cloud itu kehilangan salah satu pendukung utama proyek pusat data, akibat kekhawatiran terhadap tingkat utang dan besarnya belanja AI.

Kondisi ini sempat menyeret saham-saham terkait AI lainnya seperti Broadcom dan Advanced Micro Devices (AMD).

 

Sahan Nvidia dan Micron Technology

Sementara itu, saham Nvidia juga menguat sekitar 4%. Berdasarkan bocoran dari sejumlah pembisik, Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah meninjau kemungkinan Nvidia kembali menjual chip AI canggih ke China.

Sebelumnya, Trump menyatakan akan mengizinkan pengiriman chip AI H200 ke “pelanggan yang disetujui” di negara tersebut.

Penguatan juga terjadi pada saham Micron Technology yang naik sekitar 7%, melanjutkan kenaikan dari sesi sebelumnya. Sehari sebelumnya, saham Micron melonjak 10% setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan kuartalan yang kuat, sehingga menenangkan investor yang sebelumnya diliputi kekhawatiran terhadap pergerakan saham AI.

“Gelombang penerbitan dari sejumlah perusahaan hyperscaler dan saham-saham AI berpotensi memberi tekanan pada pasar hingga 2026,” ujar senior portfolio strategist RBC Wealth Management Tom Garretson kepada CNBC.

“Namun, perusahaan-perusahaan ini termasuk yang memiliki peringkat kredit terbaik. Mereka jelas punya kapasitas untuk menambah utang guna membiayai kebutuhan tersebut," tambah dia. 

 

Santa Claus Rally

Ia melanjutkan, belanja modal atau capital expenditure (capex) masih diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi secara lebih luas.

“Kami masih mengandalkan belanja modal untuk mendukung latar belakang pertumbuhan ekonomi yang lebih luas atau bahkan lebih baik,” kata Garretson.

Meski demikian, tidak semua saham berakhir di zona hijau. Saham Nike anjlok 10,5% setelah perusahaan mencatat penurunan pendapatan di pasar China Raya pada kuartal kedua fiskal. Nike juga mengakui kenaikan tarif impor turut menekan margin laba kotor perusahaan.

Di sisi lain, reli akhir tahun atau Santa Claus rally mulai diragukan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq tercatat melemah sepanjang Desember, padahal secara historis bulan ini biasanya menjadi salah satu periode terkuat bagi pasar saham.

“Ada banyak kekhawatiran yang tampaknya berpotensi menghambat reli akhir tahun,” ujar portfolio manager Gabelli Funds Justin Bergner.

“Mungkin pergerakannya hanya akan terbatas pada penguatan tipis di akhir tahun, atau bahkan sekadar bergerak stagnan,” tutup dia.